Solidaritas untuk jurnalis Palestina: "Mata Kebenaran Tidak Akan Pernah Buta"

423

GAZA (Arrahmah.com) – Ratusan gambar menunjukkan orang-orang yang menutupi sebelah matanya telah merajai media sosial akhir-akhir ini.

Aksi tersebut dilakukan dalam rangka solidaritas terhadap jurnalis Muaz Amarnah yang terkena peluru karet tentara Israel meski mengenakan rompi ‘Pers’.

Muaz Amarnih sedang meliput aksi protes warga Palestina terhadap penyitaan tanah terbaru untuk pembangunan permukiman Israel di wilayah yang diduduki pada hari Jumat di dekat kota Surif di Hebron ketika ditembak wajahnya oleh tentara Israel.

Dia dilarikan ke rumah sakit, tetapi dokter tidak bisa menyelamatkan matanya.

Insiden ini dikecam oleh Federasi Jurnalis Internasional (IFJ), sebuah kelompok advokasi global yang bertujuan untuk melindungi kebebasan media.

Di tengah anggapan bahwa media mungkin telah ditargetkan secara sengaja, Israel sejauh ini tidak bereaksi terhadap insiden tersebut. Namun banyak orang di Timur Tengah dan sekitarnya, berbagi foto di jejaring sosial yang memperlihatkan mereka menutupi salah satu mata mereka dengan tangan atau sepotongk kain.

Kampanye ini diluncurkan oleh para jurnalis Palestina, yang juga mengadakan aksi unjuk rasa untuk mendukung Muaz pada hari Sabtu. Tak lama, kampanye tersebut diikuti oleh orang-orang dari berbagai belahan dunia.

Muaz Amarnih, jurnalis foto berusia 32 ini berasal dari kamp pengungsi Dheisheh, yang terletak di selatan Betlehem, wilayah selatan Tepi Barat. Dia bekerja untuk sejumlah media lokal. Dia adalah orang pertama yang mendokumentasikan pembunuhan berdarah dingin yang dilakukan para serdadu penjajah Israel terhadap pemuda Palestina Omar Badawi di Hebron, beberapa hari yang lalu.

“Sebelum konfrontasi dimulai dan ketika kami menuju Surif, tentara penjajah Israel menghentikan saya, melecehkan dan memprovokasi saya. Mereka menahan kendaraan saya beberapa saat sebelum mereka mengembalikannya kepada saya. Meskipun kartu pers saya tunjukkan kepada mereka, akan tetapi mereka tidak peduli. Mereka sengaja memperlambat saya untuk sampai ke lokasi aksi,” kata Muaz..

Ketika serdadu penjajah Israel menembak Muadz, salah seorang rekan jurnalis, Raed Syarif mengatakan, “Saat itu saya dekat dengan Amarna, untuk meliput konfrontasi yang terjadi di daerah Qurainat dari wilayah Surif. Saya melihat seorang penembak jitu di lapangan. Posisi kami jauh dari lokasi konfrontasi, Tiba-tiba saya mendengar suara Muaz berteriak bahwa dia terluka. Wajahnya berlumuran darah.”

 

(ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.