Berita Dunia Islam Terdepan

Emir Kuwait: Sengketa Teluk 'tidak lagi dapat diterima atau ditoleransi'

597

Support Us

DOHA (Arrahmah.com) – Emir Kuwait telah menyerukan diakhirinya sengketa diplomatik regional dimana Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Mesir memberlakukan blokade terhadap Qatar sejak Juni 2017.

Dalam pidato publik pertamanya sejak dirawat di Amerika Serikat bulan lalu, Sheikh Sabah al-Ahmad al-Jaber al-Sabah, mengatakan pada Selasa (29/10/2019) bahwa perselisihan yang sedang berlangsung sangat melemahkan persatuan Dewan Kerjasama Teluk (GCC) yang terdiri dari enam negara, termasuk Qatar, UEA, Arab Saudi, Oman, Kuwait, dan Bahrain.

“Sangat penting untuk menarik perhatian anda pada kerusuhan yang melanda wilayah kami, yang menimbulkan ancaman besar dan dampak tidak hanya pada stabilitas dan keamanan kami, tetapi juga generasi mendatang,” kata Sheikh Sabah yang berusia 90 tahun pada sesi pembukaan putaran baru parlemen.

“Perselisihan yang berkelanjutan antara negara-negara GCC yang bersaudara ini tidak lagi dapat diterima atau ditoleransi. Perselisihan tersebut telah melemahkan kemampuan kita dan merusak kepentingan kita.”

Pada Juni 2017, keempat negara memberlakukan blokade laut, darat, dan udara di Qatar, menuduhnya mendukung “terorisme”.

Keempat negara Arab juga mengeluarkan daftar 13 poin tuntutan, bersikeras bahwa Qatar menutup jaringan Al Jazeera, menutup pangkalan militer Turki dan mengurangi hubungan dengan Iran.

Doha menolak tuntutan itu dan berulang kali membantah tuduhan itu.

Kuwait, yang dipimpin oleh Sheikh Sabah, telah bertindak sebagai mediator. Upaya diplomasi ulang oleh AS juga telah gagal mengakhiri perselisihan yang telah berada di tahun ketiga saat ini.

Penguasa Kuwait meminta negara-negara Teluk untuk “segera mengatasi perbedaan kita, memperbaiki hubungan dan memulihkan hubungan persahabatan kita”.

Sheikh Sabah kembali ke Kuwait pada 16 Oktober setelah perawatan medis di AS.

Media pemerintah mengatakan dia mengalami gangguan kesehatan yang tidak dikenal pada Agustus sebelum melakukan perjalanan ke AS untuk bertemu Presiden Donald Trump. Pertemuan dibatalkan setelah dia dirawat di rumah sakit. (Althaf/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah