AS: Iran masih merupakan ancaman secara militer pasca serangan Aramco

Vice Admiral James Malloy, commander of the U.S. Naval Forces Central Command (NAVCENT)/5th Fleet is seen during U.S. Secretary of State Mike Pompeo's visit to the U.S. Naval Forces Central Command center in Manama, Bahrain, January 11, 2019. Andrew Caballero-Reynolds/Pool via REUTERS/File Photo
204

WASHINGTON (Arrahmah.com) – Iran belum mundur ke posisi militer yang kurang mengancam di wilayah tersebut setelah serangan 14 September di Arab Saudi, kata laksamana AS di Timur Tengah kepada Reuters, menunjukkan kekhawatiran yang terus berlangsung meski ada jeda dalam kekerasan.

“Saya tidak percaya mereka sama sekali mundur,” Wakil Laksamana Jim Malloy, komandan Armada Kelima Angkatan Laut AS yang bermarkas di Bahrain, mengatakan dalam sebuah wawancara.

Amerika Serikat, Arab Saudi, Inggris, Prancis, dan Jerman secara terbuka menyalahkan serangan terhadap Iran, yang menyangkal keterlibatan dalam serangan terhadap fasilitas pemrosesan minyak mentah terbesar di dunia. Kelompok Houtsi yang berpihak Iran di Yaman telah mengklaim bertanggung jawab.

Malloy tidak mengomentari intelijen AS yang memandu penilaiannya. Namun dia mengakui bahwa dia memantau aktivitas Iran dengan cermat, ketika ditanya apakah dia telah melihat adanya pergerakan rudal Iran dalam beberapa pekan terakhir.

Malloy mengatakan dia secara teratur melacak pelayaran Iran dan gerakan rudal balistik – “apakah mereka pindah ke penyimpanan atau jauh dari penyimpanan”.

“Saya mendapat pengarahan tentang gerakan [Iran] setiap hari dan kemudian menilainya,” lanjut Malloy.

Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran telah memburuk dengan tajam sejak Presiden Donald Trump menarik diri dari perjanjian nuklir Iran tahun lalu dan menerapkan kembali sanksi terhadap ekspor minyaknya.

Selama berbulan-bulan, pejabat Iran mengeluarkan ancaman terselubung, mengatakan bahwa jika Teheran diblokir dari mengekspor minyak, negara-negara lain juga tidak akan bisa melakukannya.

Namun, Iran telah membantah peran dalam serangkaian serangan yang terjadi, termasuk terhadap tanker di Teluk menggunakan ranjau awal tahun ini.

Pernyataannya ini muncul sepekan pasca pengumuman Pentagon bahwa pihaknya telah mengirimkan empat sistem radar, satu unit baterai Patriot, dan 200 personil pendukung untuk melengkapi pertahanan Saudi – serangkaian pengerahan militer terakhir di tengah meningginya krisis Iran-AS.

Malloy menolak berspekulasi tentang pengerahan di masa mendatang. Namun dia mengakui nilai luar biasa dari kapal induk – dan juga kapal-kapal dalam kelompok serbu yang menyertai kapal induk. Pengerahan ini juga termasuk kontribusi kapal perusak yang sekarang menyertai USS Abraham Lincoln ke upaya maritim multinasional pimpinan AS yang dikenal sebagai Operasi Sentinel.

Operasi ini dimaksudkan untuk mencegah serangan Iran di wilayah perairan – dan mengekspos mereka jika itu terjadi.

“Apa yang ingin dilakukan Sentinel adalah menyoroti dan memastikan bahwa jika terjadi sesuatu di maritim, aktivitas itu akan terekspos,” katanya.

Ini termasuk dengan menyediakan tulang punggung pengawasan dan komunikasi untuk berbagi informasi intelijen dengan negara-negara yang telah setuju untuk berpartisipasi, meliputi Inggris, Australia, Bahrain, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

“Kami pada dasarnya telah menciptakan pertahanan zona,” katanya.

Malloy telah menemui komandan angkatan laut Arab Saudi pada Minggu pekan lalu, meyakinkan dia akan dukungan AS menyusul serangan 14 September, yang mengguncang pasar minyak global. Dia mengatakan dukungan AS ini pun termasuk informasi intelijen. (Althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.