Netanyahu akan caplok Lembah Yordan, Dunia Arab geram

'Israeli' Prime Minister Benjamin Netanyahu points at a map of the Jordan Valley as he gives a statement in Ramat Gan, near the Israeli coastal city of Tel Aviv, on September 10, 2019. (AFP / Menahem Kahana)
503

DUBAI (Arrahmah.com) – Dunia Arab mengutuk rencana Perdana Menteri ‘Israel’ Benjamin Netanyahu untuk menganeksasi Lembah Yordan di Tepi Barat yang diduduki, dengan Arab Saudi memimpin seruan itu, menggambarkannya sebagai “eskalasi yang sangat berbahaya”, lapor Arab News, hari ini (11/9/2019).

Arab Saudi dan Bahrain secara khusus merilis pernyataan yang mengecam rencana tersebut, serta organisasi internasional seperti Dewan Kerjasama Teluk (GCC) dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Netanyahu yang kontroversial menegaskan kembali janjinya untuk memaksakan kedaulatan Zionis atas permukiman Tepi Barat selama kunjungan ke permukiman ‘Israel’ pada hari Minggu lalu (8/9), dengan mengatakan “tidak akan ada lagi pemindahan” dan semua komunitas akan menjadi “bagian dari negara ‘Israel'”.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Pengadilan Kerajaan, Arab Saudi menyerukan pertemuan darurat untuk Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di tingkat menteri luar negeri, “untuk membahas masalah ini, mengembangkan rencana tindakan yang mendesak dan meninjau serta mengambil tindakan yang diperlukan” melawan pernyataan Netanyahu.

“Arab Saudi mengutuk dan dengan tegas menolak pengumuman perdana menteri ‘Israel’ bahwa jika ia terpilih kembali minggu depan, ia akan segera mencaplok bagian dari Tepi Barat yang diduduki tahun 1967,” kata pernyataan itu.

“Kerajaan Saudi juga menyoroti bahwa pengumuman ini merupakan eskalasi yang sangat berbahaya terhadap rakyat Palestina dan merupakan pelanggaran mencolok terhadap Piagam PBB, prinsip-prinsip hukum internasional, dan norma-norma negara.

“Juga dianggap bahwa pengumuman ini akan merusak dan membuang segala upaya untuk mencapai perdamaian yang adil dan abadi karena tidak ada perdamaian tanpa memulihkan wilayah Palestina yang diduduki, dimana orang-orang Palestina menikmati hak-hak mereka yang seharusnya.”

Pernyataan itu melanjutkan, “Upaya ‘Israel’ untuk memaksakan kebijakan de-facto tidak akan melenyapkan hak-hak yang tidak dapat dicabut dari rakyat Palestina.”

“Sementara mengutuk dan menolak pengumuman ini, Arab Saudi juga menegaskan bahwa terlenanya dunia Arab dan Islam dengan banyak krisis lokal dan regional tidak akan memengaruhi sikap negara-negara Arab dan Islam serta sikap pemerintah terhadap perjuangan Palestina, dan tidak akan mengecewakan bangsa Arab – yang menegaskan keinginannya untuk perdamaian melalui Inisiatif Perdamaian Arab – dari menyikapi tindakan sepihak ‘Israel’, upaya berkelanjutan untuk mengubah fakta sejarah dan geografi, dan pelanggaran terhadap hak-hak rakyat Palestina yang sah,” katanya.

The Jordan Valley accounts for around one-third of the West Bank, which Israel occupied in the 1967 Six-Day War. (File/AFP)

Lembah Yordan menyumbang sekitar sepertiga dari Tepi Barat, yang diduduki ‘Israel’ dalam Perang Enam Hari 1967 – sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh komunitas internasional.

Pejabat senior Palestina Hanan Ashrawi mengatakan Netanyahu “tidak hanya menghancurkan solusi dua negara, ia menghancurkan semua peluang perdamaian.”

Permukiman ‘Israel’ terletak di apa yang dikenal sebagai Area C Tepi Barat, yang menyumbang sekitar 60 persen wilayah, termasuk sebagian besar Lembah Yordan.

Netanyahu mengatakan rencana aneksasinya tidak akan mencakup kota-kota Palestina, seperti Jericho di Lembah Jordan.

Netanyahu, yang menggunakan peta Lembah Yordan untuk menggambarkan rencananya, mengatakan, “Parameter perdamaian Trump akan menempatkan di hadapan kita tantangan besar dan juga peluang besar.” (Althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.