Jika bergabung dengan Misi AS di Teluk, Iran ancam bumi hanguskan 'Israel'

Oct. 11, 2018, an Israeli flag in front of the village of Majdal Shams in the Israeli-controlled Golan Heights. (© AP Photo / Ariel Schalit)
1,290

TEL AVIV (Arrahmah.com) – Penasihat Senior untuk Parlemen Iran, Hossein Amir Abdollahian, telah memperingatkan ‘Israel’ agar tidak mengambil bagian dalam koalisi maritim AS yang direncanakan melalui Twitter, memperingatkan negara Yahudi itu bahwa mereka akan menanggung konsekuensi sebaliknya, lansir sejumlah media, Sabtu (10/8/2019).

“Jika ‘Israel’ masuki Selat Hormuz, negara itu akan dilanda kemarahan regional dan asapnya akan membubung tinggi dari Tel Aviv,” katanya.

Amir Abdollahian lebih lanjut menyarankan AS dan sekutunya untuk meninggalkan ide misi militer mereka di Teluk Persia, dengan alasan bahwa upaya itu tidak akan membawa perdamaian dan keselamatan ke wilayah seperti yang mereka klaim.

“Iran memiliki peran vital dalam keamanan Selat Hormuz. Koalisi militer pimpinan AS di selat ini merupakan pengulangan pendudukan Irak dan Afghanistan dan meningkatnya ketidakamanan di kawasan ini,” tulis Abdollahian.

Pernyataan penasihat senior itu muncul setelah peringatan, yang disuarakan oleh Kementerian Luar Negeri Iran Kamis (9/8). Juru bicara kementerian itu menyatakan bahwa negaranya melihat kehadiran koalisi militer eksternal di Teluk sebagai “ancaman yang jelas” dan akan bertindak semestinya.

“Dalam kerangka kebijakan pencegahan dan pertahanan negara, Republik Islam Iran memiliki hak untuk melawan ancaman ini dan mempertahankan wilayahnya”, kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Abbas Mousavi.

AS telah mengumumkan rencana untuk mengatur koalisi militer maritim untuk memastikan keamanan navigasi melalui Selat Hormuz – jalur ekspor minyak yang penting, setelah serangan terhadap 6 kapal tanker di Teluk. AS menghubungkan serangan itu dengan Iran, meskipun Teheran dengan keras membantahnya.

Washington telah meminta sejumlah negara untuk bergabung dengan koalisi, tetapi sejak itu hanya sedikit yang setuju, sementara Jerman dan Jepang menolak tawaran itu. (Althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.