Riset Pew: Mayoritas veteran AS akui perang Afghanistan 'tidak layak diperjuangkan'

Marines cover the face of a statue of Saddam Hussein with an American flag before toppling it in downtown in Baghdad, Iraq, in April of 2003. (Jerome Delay, AP)
2,902

WASHINGTON (Arrahmah.com) – Mayoritas veteran militer Amerika Serikat mengatakan perang selama hampir 18 tahun di Afghanistan “tidak layak diperjuangkan,” menurut hasil jajak pendapat yang dirilis pada Rabu (10/7/2019).

“Mayoritas veteran (58 persen) dan publik (59 persen) mengatakan perang di Afghanistan tidak layak untuk diperjuangkan. Hanya empat dari sepuluh itu layak diperjuangkan,” menurut Pew Research Center.

Hal yang sama berlaku untuk perang di Irak dan intervensi militer AS terhadap kelompok Negara Islam di Suriah, dengan 64 persen veteran mengatakan yang pertama “tidak layak diperjuangkan,” dan 55 persen mengatakan yang terakhir “tidak layak.”

“Veteran yang bertugas di Irak atau Afghanistan tidak lebih mendukung perang-perang itu daripada mereka yang tidak bertugas dalam perang-perang tersebut,” tulis studi itu. “Dan pandangan ini tidak dibedakan berdasarkan pangkat atau pengalaman bertarung.”

Pew juga meminta pendapat para veteran tentang keterlibatan Amerika di Suriah.

Presiden Donald Trump mengatakan pada bulan Desember bahwa dia akan menarik pasukan dari Suriah, mengklaim kemenangan melawan Negara Islam. Menghadapi serangan balik dari para pejabat Kongres dan militer, ia kemudian setuju untuk menahan 400 tentara di negara itu.

Menurut survei Pew, 55% veteran mengatakan kampanye AS di Suriah belum bermanfaat. Publik nonveteran memiliki pandangan yang sama, menurut Pew.

Jajak pendapat memiliki margin kesalahan 3,9 persen untuk veteran dan 3,1 persen untuk anggota masyarakat umum. Washington mengatakan pihaknya ingin menyegel perjanjian politik dengan Taliban, menjelang pemilihan presiden Afghanistan yang dijadwalkan pada bulan September, untuk memungkinkan pasukan asing mulai menarik diri.

Amerika Serikat mengadakan pembicaraan enam hari di Qatar dengan Taliban yang berlangsung hingga Sabtu. Diskusi-diskusi itu dihentikan untuk pertemuan puncak hari Minggu dan Senin di Afghanistan, yang melibatkan sekitar 70 delegasi termasuk Taliban yang membahas masa depan negara tersebut. (Althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.