AS inginkan koalisi militer untuk menjaga ekonomi maritim Timteng

Ships in the port of Fujairah in the UAE, where recent tensions spiraling between Iran and the United States have affected movement in the Gulf of Oman, near the strategic Strait of Hormuz. A man watches on July 2, 2019 the ships movement in the port of Fujairah in the east of the United Arab Emirates (UAE), where recent tensions spiraling between Iran and the United States have affected movement in the Gulf of Oman, near the strategic Strait of Hormuz. (AFP/File photo)
70

WASHINGTON (Arrahmah.com) – Amerika Serikat berharap untuk meminta sekutu selama dua minggu ke depan dalam satu koalisi militer untuk melindungi perairan strategis di dekat Iran dan Yaman, tempat Washington menyalahkan Iran dan kelompok pemberontak yang selaras dengan Iran atas berbagai serangan, kata jenderal tinggi AS, Selasa (9/7/2019).

Di bawah rencana itu, yang baru selesai dalam beberapa hari terakhir, Amerika Serikat akan menyediakan kapal komando dan memimpin upaya pengawasan untuk koalisi militer. Sekutu akan berpatroli di perairan dekat kapal-kapal komando AS dan mengawal kapal-kapal komersial dengan bendera negara mereka.

Jenderal Marinir Joseph Dunford, ketua Kepala Staf Gabungan, menyampaikan rincian itu kepada wartawan setelah pertemuan pada Selasa (9/7/2019) tentang hal itu dengan penjabat Menteri Pertahanan AS Mark Esper dan Menlu Mike Pompeo.

“Kami sekarang terlibat dengan sejumlah negara untuk melihat apakah kami dapat mengumpulkan koalisi yang akan memastikan kebebasan navigasi baik di Selat Hormuz maupun Bab Al-Mandab,” kata Dunford.

“Jadi saya pikir mungkin selama beberapa minggu ke depan kami akan mengidentifikasi negara mana yang memiliki kemauan politik untuk mendukung inisiatif itu dan kemudian kami akan bekerja secara langsung dengan militer untuk mengidentifikasi kemampuan khusus yang akan mendukungnya.”

Iran telah lama mengancam akan menutup Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi hampir seperlima minyak dunia, jika tidak mampu mengekspor minyaknya. Sebagai tanggapannya pemerintahan Presiden AS Donald Trump menekan Teheran untuk menegosiasikan kembali kesepakatan mengenai program nuklirnya.

Tetapi usul AS untuk koalisi internasional menjaga pengiriman di Selat, di mulut Teluk, telah mendapatkan momentum sejak serangan Mei dan Juni terhadap tanker minyak di perairan Teluk. Bulan lalu, Iran menembak jatuh drone AS di dekat Selat, mendorong Presiden Donald Trump untuk memerintahkan serangan udara balasan, meski kemudian membatalkannya.

Meskipun para pejabat AS telah secara terbuka mendiskusikan rencana untuk melindungi Selat, pengungkapan Dunford bahwa koalisi juga akan berusaha untuk meningkatkan keamanan di Bab Al-Mandab di Yaman tampaknya menjadi elemen baru.

AS, serta Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, telah lama resah atas serangan kelompok Houtsi yang berpihak pada Iran di jalur air Bab Al-Mandab yang sempit, yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Laut Arab.

Hampir 4 juta barel minyak dikirim setiap hari melalui Bab Al-Mandab ke Eropa, AS dan Asia plus barang-barang komersial.

Dunford mengatakan AS akan menyediakan kapal “komando dan kontrol” tetapi mengatakan tujuannya adalah agar negara lain menyediakan kapal untuk berpatroli di perairan antara kapal-kapal komando itu.

Bagian ketiga dari misi ini akan melibatkan anggota koalisi yang mengawal kapal komersial negara mereka.

“Harapannya adalah patroli dan pengawalan yang sebenarnya akan dilakukan oleh orang lain,” katanya.

Dunford mengatakan ukuran kampanye dapat disesuaikan berdasarkan jumlah negara yang berkomitmen padanya. (Althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.