Pasca banjir bandang, hampir seribu warga Konawe Utara masih mengungsi

(Foto: ANTARA)
134

KENDARI (Arrahmah.com) – Sebanyak 267 kepala keluarga yang terdiri 921 warga Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, masih bertahan di tempat pengungsian akibat banjir bandang yang melanda daerah tersebut beberapa waktu yang lalu meskipun masa tanggap bencana daerah itu sudah ditutup pada 29 Juni 2019.

Menurut keterangan BPBD Kabupaten Konawe Utara yang diterima di Kendari, Sabtu (6/7/2019), jumlah tersebut berada di 21 titik pengungsian umum sebanyak 176 kepala keluarga (585 jiwa) dan 18 titik pengungsian sebanyak 91 kepala keluarga (336 jiwa), lansir Inilah.com.

Bupati Konawe Utara, Ruksamin, mengatakan masa tanggap darurat bencana telah berakhir dan beralih ke status transisi kepemulihan mulai 30 Juni hingga 27 September 2019.

Ia mengungkapkan, selama masa transisi tersebut koordinasi dan sinergitas lembaga terkait tetap dijaga sambil tetap melakukan penanganan bencana banjir di daerah ini.

Upaya pembersihan tanah di rumah atau tempat-tempat lain semakin intens dilaksanakan Pemkab Konawe Utara bekerja sama dengan lembaga terkait.

Peningkatan upaya pemenuhan kebutuhan dasar dalam bentuk distribusi logistik kepada para pengungsi terus ditingkatkan termasuk pelayanan kesehatan kepada pengungsi.

Kemudian pembuatan tempat hunian sementara sebanyak 30 unit yang diperuntukkan bagi warga yang berada di posko pengungsian Desa Puuwonua, dan lain sebagainya.

Sebelumnya Ruksamin mengatakan, tempat hunian sementara itu terus dipersiapkan selama masa transisi kepemulihan sampai kepada masa rehabilitasi akan disiapkan tempat hunian tetap.

Diketahui, banjir bandang menerjang Konawe Utara pada tanggal 1 dan 2 Juni 2019 akibat meluapnya Sungai Walasolo, Sungai Lalindu, dan Sungai Wadambali menyusul intensitas hujan tinggi yang turun di daerah tersebut.

Banjir tersebut merendam tujuh kecamatan yaitu Andowia, Asera, Oheo, Wiwirano, Landawe, Langgikima, dan Motul.

Warga yang terdampak banjir sebanyak 18.765 jiwa, kemudian rumah yang hanyut 388 unit, rusak berat 47 unit, rusak ringan 939 unit, dan terendam 1.144 unit sedangkan tempat ibadah yang terendam air lima unit, empat unit jembatan hanyut dan empat unit tidak bisa diakses, empat unit puskesmas terendam dan empat puskesmas pembantu serta satu gudang obat, 3 unit pasar tradisional, serta satu ruas jalan trans Sulawesi yang menghubungkan Sulawesi Tenggara dengan Sulawesi Tengah terputus.

Ruksamin menyebut menyatakan kerugian materi akibat bencana banjir yang melanda daerah itu mencapai Rp674,8 miliar lebih.

Kerugian terbesar pada kerusakan infrastruktur seperti jembatan, jalan, jaringan listrik Rp436, 96 miliar pada bencana banjir yang terjadi sejak 2 Juni 2019, ada 4 jembatan yang hanyut, dan 4 unit jembatan tidak bisa diakses, bahkan jembatan yang menghubungkan Sultra dengan Sulteng sempat terputus.

Kemudian, untuk perumahan dan permukiman penduduk Rp66,4 miliar, mengingat ada 370 unit rumah penduduk yang hanyut dan 1.962 unit terendam air. Sarana dan prasarana pendidikan Rp18,9 miliar lebih mengingat ada 14 Sekolah Dasar, 5 unit SMP, 1unit SMA, TK sebanyak 17 unit, dan PKBM satu unit.

Sedangkan sarana dan prasarana kesehatan Rp2,49 miliar karena ada 4 unit puskesmas, 4 puskesmas pembantu, 1 unit gudang obat, dan 1 unit polindes yang terdampak banjir.

Sementara itu, kerugian pertanian mencapai Rp43 miliar, perkebunan Rp76,9 miliar dengan lahan yang terdampak padi 970,3 hektare, jagung 83,5 hektare, lainnya 11 hektare, dan tambak 727,4 miliar.

Kerugian koperasi dan UMKM Rp2,1 miliar, perdagangan Rp600 juta, lingkungan hidup Rp7,8 miliar, pangan Rp306 juta, serta pemerintahan desa Rp4,67 miliar.

(ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.