Lagi, rezim Asad jatuhkan bom fosfor mematikan di Idlib

Serangan mematikan mengguncang Idlib sejak April lalu. (Foto: Daily Sabah)
459

IDLIB (Arrahmah.com) – Rezim Bashar Assad menyerang provinsi Idlib yang dikuasai oposisi Suriah pada Ahad (23/6/2019) malam, menggunakan bom fosfor putih yang dilarang oleh hukum internasional.

Rekaman yang diperoleh Daily Sabah menunjukkan rezim menjatuhkan 18 bom fosfor di kota Khan Sheikhoun di Idlib selatan. Serangan dilaporkan diluncurkan dari kota terdekat Maan.

Penggunaan fosfor putih dilarang berdasarkan hukum internasional. Fosfor, yang meracuni manusia ketika dihirup, menyebabkan kerusakan besar pada otak dan paru-paru dan dapat menyebabkan kematian. Ketika digunakan, fosfor putih menciptakan awan asap putih tebal yang dapat melelehkan daging manusia.

Rezim telah berulang kali direkam menggunakan fosfor terhadap warga sipil dan pejuang oposisi di seluruh Suriah.

Sejak akhir April, Idlib telah dibombardir tanpa henti oleh rezim Assad dan sekutunya Rusia, yang sejauh ini menewaskan hampir 500 warga sipil. Kekerasan telah memaksa sekitar 330.000 orang meninggalkan rumah mereka dan merusak 23 pusat kesehatan, kata PBB.

Menjadi kantong terakhir oposisi, populasi sebelum perang Idlib yang terdiri dari 1,5 juta telah membengkak menjadi sekitar 3 juta dengan gelombang pengungsi baru setelah ditetapkan sebagai “zona de-eskalasi” di bawah perjanjian Astana antara Turki, Rusia dan Iran pada Mei 2017 untuk membuka jalan untuk solusi politik permanen di Suriah.

Rezim telah berulang kali menggunakan fosfor terhadap warga sipil dan pejuang oposisi di seluruh Suriah.

Sejak akhir April, Idlib telah dibombardir tanpa henti oleh rezim Asad dan sekutunya Rusia, yang sejauh ini menewaskan hampir 500 warga sipil. Kekerasan telah memaksa sekitar 330.000 orang meninggalkan rumah mereka dan merusak 23 pusat kesehatan, kata PBB.

Menjadi kantong terakhir pejuang Suriah, populasi Idlib sebelum perang berjumlah 1,5 juta dan telah membengkak menjadi sekitar 3 juta dengan gelombang pengungsi baru setelah ditetapkan sebagai “zona de-eskalasi” di bawah perjanjian Astana antara Turki, Rusia dan Iran pada Mei 2017 yang diklaim untuk membuka jalan untuk solusi politik permanen di Suriah.

Turki dan Rusia menandatangani kesepakatan untuk zona penyangga pada bulan September di Sochi untuk mencegah serangan rezim besar-besaran di wilayah Idlib, dekat perbatasan Turki.

Setelah beberapa bulan mengalami “masa tenang” karena kesepakatan Sochi, rezim Asad mengintensifkan serangannya mulai 26 April dengan dalih memerangi pejuang Ha’iah Tahrir Syam (HTS) yang mengendalikan sebagian besar wilayah Idlib. (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.