Belasan sipil termasuk tiga relawan penyelamat tewas dalam serangan rezim Asad

Bombardir sengit terjadi hampir setiap hari di wilayah Idlib. (Foto: AFP)
112

IDLIB (Arrahmah.com) – Pengeboman rezim menewaskan 15 warga sipil termasuk tujuh anak dan tiga relawan penyelamat di Suriah barat laut yang dikuasai Mujahidin Suriah pada Kamis (20/6/2019).

Wilayah Idlib, rumah bagi sekitar tiga juta orang, seharusnya dilindungi oleh perjanjian gencatan senjata internasional yang telah berumur beberapa bulan, tetapi telah mengalami peningkatan pemboman oleh rezim dan sekutunya Rusia sejak akhir April.

PBB telah memperingatkan bahwa lonjakan kekerasan dapat memicu salah satu bencana kemanusiaan terburuk dalam konflik delapan tahun Suriah.

Pada Kamis (20/6), serangan udara rezim Asad menargetkan ambulans di kota Maaret Al-Nu’man, menewaskan tiga pekerja penyelamat yang berada didalamnya, kata Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), lansir Zaman Alwasl.

Seorang fotografer AFP di tempat kejadian melihat ambulans yang hancur dan relawan penyelamat membawa seorang korban yang selamat dari kendaraan tersebut dengan lengan yang telah terkoyak.

Sebuah badan amal Suriah yang memiliki ambulans tersebut mengatakan tiga pekerjanya telah terbunuh.

“Serangan langsung menargetkan ambulans,” kata Fouad Issa, anggota dewan manajemen organisasi Benefsej.

Seorang wanita juga meninggal di ambulans saat dia dibawa untuk menerima perawatan, tambahnya.

Bencana kemanusiaan

Rusia dan Turki memperantarai kesepakatan pada bulan September yang dimaksudkan untuk mencegah serangan besar-besaran rezim terhadap Idlib, tetapi kesepakatan itu tidak pernah sepenuhnya dilaksanakan.

Rezim Suriah dan Rusia telah meningkatkan pemboman mereka di wilayah itu sejak akhir April, menewaskan lebih dari 440 warga sipil, menurut SOHR, kelompok pemantau yang bermarkas di Inggris.

PBB mengatakan lebih dari 23 rumah sakit dan satu ambulans telah dihantam di wilayah Idlib sejak akhir April.

Sekitar 330.000 orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka, katanya.

Kepala kemanusiaan PBB Mark Lowcock pada Selasa memperingatkan bahwa dunia sedang menghadapi “bencana kemanusiaan yang terjadi di depan mata kita”. (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.