Kerusuhan anti-Muslim Sri Lanka: Di bawah tekanan internasional Kolombo perintahkan pasukan dan polisi tingkatkan patroli

Sri Lankan policeman patrol in a Muslim neighborhood before Friday prayers in Colombo, Sri Lanka, Friday, April 26, 2019. (AP Photo/Manish Swarup)
935

KOLOMBO (Arrahmah.com) – Pasukan dan polisi berpatroli di bagian Sri Lanka kemarin (16/5/2019) ketika tekanan internasional meningkat terhadap Kolombo untuk menangani kerusuhan anti-Muslim yang menewaskan seorang pria dalam serangan balasan bom Paskah.

Juru bicara militer Sri Lanka, Sumith Atapattu, mengatakan tidak ada insiden kekerasan dalam 24 jam yang berakhir kemarin pagi (16/5), tetapi polisi dan pasukan keamanan terus melakukan operasi pencarian.

Polisi mengatakan mereka telah menahan setidaknya 112 tersangka pada Rabu malam (15/5) dan lebih banyak penangkapan dilakukan untuk memastikan tidak ada pengulangan kerusuhan yang menyebabkan rumah, tempat bisnis, dan masjid milik Muslim diserang.

Jam malam di Provinsi North-Western (NWP), yang telah menjadi saksi atas reaksi terburuk anti-Muslim setelah pemboman bunuh diri pada 21 April, telah reda kemarin pagi (16/5).

Tetapi sekitar 5.500 polisi tambahan dikerahkan di NWP. “Kami sedang melakukan operasi pencarian dan memiliki kehadiran besar di lapangan,” kata Atapattu kepada AFP.

Sementara itu, duta besar negara-negara Eropa yang berbasis di Kolombo menyatakan keprihatinan atas kekerasan komunal dan mendesak pihak berwenang untuk memastikan bahwa semua komunitas dilindungi.

“Kami menyambut baik penangkapan yang dilakukan sehubungan dengan kekerasan, dan menyerukan kepada pemerintah untuk memastikan bahwa penegakan hukum ditegakkan dan bahwa hukum diterapkan secara adil kepada semua penghasut dan pelaku kekerasan komunal,” kata pernyataan bersama oleh para diplomat itu.

Mereka mendesak pemerintah untuk mengambil langkah-langkah demi meyakinkan semua warga negara bahwa pemerintah akan melindungi dan menegakkan keselamatan dan hak-hak mereka.

Seorang menteri mengatakan pada Rabu (15/5) bahwa kelompok-kelompok Buddha garis keras kemungkinan akan dipersalahkan atas gelombang kerusuhan anti-Muslim, lapor Reuters.

“Ini adalah serangan terorganisir terhadap rumah-rumah, tempat bisnis, dan bangunan lain milik Muslim,” Navin Dissanayake, menteri industri perkebunan, mengatakan pada konferensi pers tentang situasi keamanan.

Ditanya siapa yang mengorganisir serangan, Dissanayake mengatakan: “Saya pikir organisasi-organisasi ini adalah Amith Weerasinghe, Dan Priyasad, dan Namal Kumara,” merujuk pada tiga ekstrimis Buddha yang ditangkap pada hari Selasa (14/5).

Seorang penjaga toko di Minuwangoda mengatakan jalan dibuka kembali kemarin (16/5) di tengah kehadiran militer dan polisi. “Saya biasanya memiliki sekitar 30 pelanggan di pagi hari, tetapi hari ini hanya ada tiga,” penjual barang elektronik itu mengatakan kepada AFP melalui telepon. “Bank telah dibuka, tetapi akan butuh beberapa minggu sebelum kita kembali ke rutinitas normal.” (Althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.