Ketegangan di Teluk terus memuncak

100919-N-5226D-141 PACIFIC OCEAN (Sept. 19, 2010) The Abraham Lincoln Carrier Strike Group ships cruise in formation during an underway replenishment with the Military Sealift Command fast combat support ship USNS Rainier (T-AOE 7). The Abraham Lincoln Carrier Strike Group is on a scheduled deployment to the U.S. 7th and 5th Fleet areas of responsibility conducting maritime security operations and theater security cooperation efforts. (U.S. Navy photo by Mass Communication Specialist 3rd Class Stephen D. Doyle II/Released)
1,443

RIYADH (Arrahmah.com) – Serangan pesawat tak berawak yang diklaim oleh pemberontak Yaman yang berpihak pada Iran menutup salah satu jaringan pipa minyak utama Arab Saudi kemarin (14/5/2019). Kontan hal ini semakin meningkatkan ketegangan Teluk pasca munculnya sabotase misterius terhadap beberapa kapal tanker.

Beberapa hari setelah Amerika Serikat mengerahkan pesawat pembom dan kapal serbu untuk mendukung kapal induk di kawasan Timur Tengah, pengekspor minyak mentah terbesar di dunia itu mengatakan dua stasiun pompa telah menjadi target awal kemarin (14/5).

Statsiun yang memanjang di East West Pipeline, mampu memompa lima juta barel minyak sehari dari provinsi timur yang kaya minyak ke terminal ekspor Laut Merah.

Sementara itu, penjabat Sekretaris Pertahanan AS, Patrick Shanahan, mempresentasikan rencana militer pada pertemuan para pejabat keamanan nasional pekan lalu yang akan mengirim sebanyak 120.000 tentara Amerika ke Timur Tengah jika Iran menyerang pasukannya di kawasan itu atau mempercepat pengembangan senjata nuklir, New York Times melaporkan Senin (13/5).

Menurut NYT, rencana itu yang tidak menyerukan invasi darat ke Iran itu sebagian diperintahkan oleh penasihat keamanan nasional John Bolton.

Mengutip pejabat pemerintah, NYT mengatakan tidak diketahui apakah Presiden Donald Trump telah diberi pengarahan tentang rencana tersebut, termasuk jumlah pasukan. Media itu mengungkapkan bahwa pertemuan tersebut terjadi beberapa hari setelah administrasi Trump mengutip informasi intelijen “spesifik dan kredibel” pekan lalu yang mengabarkan pasukan Iran dan proksi menargetkan pasukan AS di Suriah, Irak, dan di kawasan perairan Timur Tengah.

Pengumuman itu dikeluarkan beberapa jam setelah pemberontak Houtsi yang didukung Iran di Yaman mengatakan mereka menargetkan instalasi vital di Arab Saudi, yang memimpin koalisi militer melawan mereka.

Pipa sepanjang 1.200 kilometer ini berfungsi sebagai alternatif untuk ekspor minyak mentah Saudi jika Selat Hormuz yang strategis di mulut Teluk akan ditutup.

Iran telah berulang kali mengancam akan menutup selat jika terjadi konfrontasi militer dengan Amerika Serikat.

Serangan pipa yang dilaporkan itu terjadi setelah UEA mengatakan empat kapal milik Arab Saudi rusak dalam “serangan sabotase” di perairan Fujairah, dekat dengan Hormuz.

Washington dan sekutu-sekutunya di Teluk berhenti menyalahkan saingan berat regional Riyadh, Teheran, atas sabotase, tetapi Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran agar tidak melakukan apa pun yang membahayakan kepentingan AS.

“Jika mereka (Iran) melakukan sesuatu, itu akan menjadi kesalahan yang sangat buruk,” Trump memperingatkan di Gedung Putih.

Presiden Iran Hassan Rouhani membalas, dengan mengatakan republik Islam itu “terlalu besar untuk diintimidasi oleh siapa pun”.

Serangan itu terjadi setelah Amerika Serikat mengerahkan kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln, kapal serbu amfibi, baterai rudal Patriot, dan pembom B-52, yang memicu kekhawatiran kemungkinan konfrontasi militer.

“Dalam situasi meningkatnya ketegangan regional, operasi terbatas Iran terhadap UEA dan Arab Saudi mungkin dirancang untuk menghalangi Abu Dhabi dan Riyadh dan memberi sinyal bahwa perang dengan Iran tidak akan terbatas pada tanah Iran,” ujar Alex Vatanka, seorang pakar senior di Institut Timur Tengah. (Althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.