AS setujui penjualan senjata $6 M pada Bahrain dan UEA

The Gulf is a major buyer of US arms – Congress has approved $120 billion of sales since 2009 to Saudi Arabia alone. (Pexels)
153

WASHINGTON (Arrahmah.com) – AS menyetujui penjualan senjata senilai $ 6 miliar untuk Bahrain dan Uni Emirat Arab, kata Pentagon, Jumat (4/5/2019).

Departemen Luar Negeri AS mengumumkan kesepakatan yang dapat menjadikan Bahrain berpotensi membeli berbagai sistem rudal Patriot dan dukungan serta peralatan terkait dengan perkiraan biaya $ 2,48 miliar.

Kesepakatan itu dapat mencakup 36 unit Patriot MIM-104E Guidance Enhanced Missiles yang dikenal sebagai GEM-T, versi terbau yang dapat menembak jatuh pesawat dan rudal jelajah, lapor Reuters.

Bahrain juga disetujui untuk kesepakatan yang akan mencakup serangkaian senjata untuk mendukung armada pesawat F-16 Block 70 / F-16V dengan perkiraan biaya $ 750 juta. Paket itu termasuk 32 rudal AIM-9X, 20 rudal Harpoon Block II AGM-84, dan 100 GBU-39 yang merupakan bom berdiameter kecil seberat 250 pon dan amunisi lainnya.

Secara terpisah, UEA diberikan persetujuan awal untuk rudal Patriot senilai $ 2,73 miliar dan peralatan terkait termasuk 452 Patriot Advanced Capability 3 (PAC-3) Missiles Segment Enhanced (MSE) dan peralatan terkait.

Persetujuan penjualan diberitahukan ke Kongres, meskipun proses notifikasi tidak selalu mengkonfirmasi bahwa kontrak telah ditandatangani.

Kontraktor utama untuk penjualan adalah Raytheon Co dan Lockheed Martin Co.

Teluk adalah pembeli utama senjata AS – Kongres telah menyetujui penjualan $ 120 miliar sejak 2009 hanya untuk Arab Saudi, menurut sebuah studi Layanan Penelitian Kongres baru-baru ini.

AS sangat bergantung pada sekutu Teluk, khususnya Arab Saudi, untuk melawan pengaruh Iran di kawasan itu.

Penjualan senjata ke kerajaan dan anggota Dewan Kerjasama Teluk lainnya semakin menjadi perdebatan di dalam Kongres AS, yang harus menyetujui penjualan tersebut.

Kelompok hak asasi manusia menyerukan penghentian negara-negara GCC, dengan fokus khusus pada Arab Saudi dan UEA. Keduanya telah memimpin intervensi militer mematikan di Yaman di mana angka-angka ACLED baru-baru ini menunjukkan lebih dari 70.000 telah terbunuh sejak 2015.

PBB menggambarkan konflik Yaman sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia. (Althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.