Jika terbukti bersalah, Najib Razak terancam hukuman penjara 100 tahun

374

Support Us

KUALA LUMPUR (Arrahmah.com) – Untuk pertama kalinya kasus dugaan korupsi yang menimpa mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak disidangkan pada Rabu (3/4/2019) di Kuala Lumpur. Jika terbukti bersalah, dia terancam hukuman penjara 100 tahun.

Sebagaimana dilansir ABC, Rabu (3/4), Najib diajukan ke pengadilan dengan dakwaan penyalahgunaan dana miliaran dolar dari Badan Investasi Negara 1MDB.

Pihak penuntut mengenakan pasal-pasal pidana pencucian uang, penyalahgunaan kekuasaan dan menyalahgunakan kepercayaan rakyat.

Secara keluruhan Najib Raza didakwa dengan 42 dakwaan dan bila dinyatakan bersalah atas semua dakwaan, dia bisa dijatuhi hukuman lebih dari 100 tahun penjara.

Dalam persidangan hari Rabu, Najib akan didakwa dengan tujuh tuduhan yang berhubungan dengan pemindahan dana $AUD 14 juta (sekitar Rp 140 miliar) ke rekening pribadinya.

Menurut tim pengacaranya, pihak penuntut telah menyerahkan dokumen setebal tiga ribu halaman kepada pihak pengacara Najib sebelum sidang dimulai.

Najib sendiri diperkirakan tidak akan hadir di pengadilan. Sidang ini merupakan yang pertama dari rangkaian persidangan yang akan dilakukan.

Berita Terkait

Najib adalah anak dari PM kedua Malaysia Tun Abdul Razak. Dia menjadi anggota parlemen di usia yang sangat muda 23 tahun, menduduki kursi dari dapil yang sebelumnya diduduki ayahnya.

Setelah menjadi PM di tahun 2009, Najib membentuk 1MDB namun di tahun 2015 badan tersebut dilaporkan memiliki utang besar. Media memberitakan adanya korupsi di dalam badan tersebut.

Jaksa penuntut menuduh bahwa Najib menggunakan posisinya sebagai PM untuk mendapatkan dana $AUD 793 juta dari 1MDB antara tahun 2011 sampai 2014 dan memindahkan sedikitnya $AUD 14 juta ke rekening pribadinya.

Departemen Kehakiman AS juga menuduh bahwa dana sebesar $AUD 936 juta dari 1MDB secara keseluruhan masuk ke rekening pribadi Najib.

Mantan PM berusia 65 tahun tesebut dilarang meninggalkan Malaysia setelah kalah di pemilu bulan Mei, sebelum kemudian ditahan sejak bulan Juli.

Di hari-hari menjelang penahanannya, pihak berwenang menyita uang tunai, perhiasan, tas mahal dan jam tangan mewah yang secara keseluruhan bernilai $AUD 370 juta.

Penyitaan itu melibatkan 22 petugas, dan dilakukan selama tiga hari dengan menggunakan enam mesin penghitung uang.

(ameera/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.

Berita Arrahmah Lainnya

HNW Sesalkan Sikap Presiden Jokowi Aktifkan Calling Visa Untuk Israel

JAKARTA (Arrahmah.com) - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Hidayat Nur Wahid menyayangkan sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi) membiarkan pengaktifan calling visa untuk Israel. HNW menilai ini sebagai…

Habib Rizieq Masuk IGD RS UMMI Bogor

JAKARTA (Arrahmah.com) - Pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab dan istrinya Syarifah Fadhlun Yahya dibawa ke Rumah Sakit (RS) UMMI Bogor, Jawa Barat pada Rabu (25/11/2020) kemarin. Habib Rizieq disebut sempat masuk ke…

Ilmuwan yang terkait dengan program nuklir Iran terbunuh

TEHERAN (Arrahmah.com) - Seorang ilmuwan Iran yang dituduh "Israel" memimpin program nuklir militer Republik Islam sampai pembubarannya di awal tahun 2000-an "dibunuh" pada hari Jumat (27/11/2020), kata televisi pemerintah. "Israel"…

Houtsi serang Aramco di Jeddah

JEDDAH (Arrahmah.com) - Militer Yaman yang didukung Houtsi mengumumkan telah menargetkan stasiun distribusi Aramco di kota pelabuhan Saudi di Jeddah menggunakan rudal presisi tinggi bersayap Quds-2. Juru bicara militer Brigadir Jenderal…

Militer Turki hujani Raqqa dengan serangan mematikan

RAQQA (Arrahmah.com) - Tentara Turki dan kelompok militan sekutunya meningkatkan serangan mereka di provinsi Al-Raqqa pada Ahad malam (29/11/2020), di tengah laporan bahwa Ankara berusaha meluncurkan operasi baru melawan Pasukan Demokrat…

"Democrazy Will Die" Ramalan atau Kenyataan?

Oleh : Asy Syifa Ummu Sidiq (Arrahmah.com) - "How Democracies Die" sebuah buku karya penulis Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt kini menjadi viral. Bukan karena penulisnya terkenal di negeri ini, tapi karena dibaca dan diposting oleh Pak…

Serangan roket hantam kilang minyak di Irak utara

BAGHDAD (Arrahmah.com) - Sebuah roket menghantam kilang minyak kecil di Irak utara pada Ahad (29/11/2020), menyebabkan kebakaran di tangki penyimpanan bahan bakar dan memaksa operasi dihentikan total setelah api menyebar ke jaringan pipa…

Kapal Turki tinggalkan Mediterania Timur

ANKARA (Arrahmah.com) -Sebuah kapal penelitian Turki di tengah pertengkaran dengan Yunani mengenai potensi kekayaan gas di Mediterania timur telah kembali ke pelabuhan, kata kementerian energi Turki, Senin (30/11/2020). Kapal survei…

Trump soal pembunuhan Fakhrizadeh: Pukulan telak untuk Iran

WASHINGTON (Arrahmah.com) - Presiden AS Donald Trump me-retweet postingan seorang jurnalis "Israel", yang merupakan ahli di dinas intelijen "Israel", Mossad, tentang pembunuhan ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh di Teheran pada hari…

Tentara 'Israel' luncurkan latihan militer skala besar di dekat Gaza

GAZA (Arrahmah.com) - Tentara pendudukan "Israel" melancarkan latihan militer skala besar di dekat Jalur Gaza yang diduduki, yang telah dikepung ketat oleh "Israel" selama 14 tahun, media lokal melaporkan. Menurut situs berita "Israel"…

Serangan Houtsi bunuh 7 sipil Yaman

HUDAIDAH (Arrahmah.com) - Sedikitnya tujuh warga sipil tewas ketika kelompok teroris Syiah Houtsi melepaskan tembakan menghantam desa di Yaman barat, ujar pernyataan militer Yaman pada Ahad (29/11/2020). Sepuluh orang lainnya juga…

Aramco pastikan pelanggannya tak terpengaruh oleh serangan Houtsi

RIYADH (Arrahmah.com) - Raksasa minyak Saudi Aramco mengatakan pelanggan tidak terpengaruh oleh serangan Houtsi Yaman di pabrik distribusi produk minyak bumi di kota Jeddah, Laut Merah, Arab Saudi. Salah satu tank fasilitas dihantam…

Iklan