Ustadz Fauzil Adhim Bicara Soal STIFIN dan New Age Movement

Ustadz Mohammad Fauzil Adhim, psikolog dan pakar pendidikan Islam. (Foto: Channel Pro-You Media)
5,143

JAKARTA (Arrahmah.com) – Belakangan ini umat Islam banyak yang gandrung dengan sejumlah pelatihan-pelatihan berbalut pelatihan manajemen, pelatihan kepribadian dan pengembangan diri. Padahal, pelatihan tersebut sejatinya merupakan bagian dari ajaran New Age Movement (NAM). Pikiran ala New Age Movement atau Gerakan Zaman Baru, dibawa ke negeri-negeri berpenduduk Muslim dan diajarkan secara meluas melalui beragam nama dan beragam cara. Di Indonesia, sejumlah pelatihan muncul dengan nama Neuro Linguistic Program, Hipnoterapi, StifiN, ESQ, Self Healing dan lain sebagainya.

Untuk memperdalam masalah ini, arrahmah.com telah mewawancarai pakar parenting dan pendidikan Islami Ustadz Muhammad Fauzil Adhim dalam perjalanan ke Bandara Soekarno Hatta pada 24 Januari 2019. Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada ini dengan rendah hati menjawab seluruh syubhat yang dikemukakan para pendukung gerakan NAM ini dengan lugas. Berikut ini wawancara arrahmah.com dengan Ustadz Fauzil Adhim.

Bagaimana pandangan Ustadz tentang tes kepribadian, pelatihan manajemen, yang kerap disebut terkait dengan New Age Movement?

Sebelum kita masuk ke pembahasan itu, ada hadis yang sangat popular banyak disebut di mana-mana. Bahkan, karena hadis inilah seolah-olah amalan itu tidak penting, yang penting itu niatnya. Hadits (“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya”, red) ini pulalah yang sering dijadikan sebagai justifikasi, yang pentingkan niatnya tetapi lupa untuk memahami dengan lebih mendalam, mengkaji dengan matang tentang niat itu.

Padahal pembahasan khusus tentang niat itu bahkan begitu luasnya. Niat tidak menjadikan yang haram itu menjadi halal, niat itu tidak menjadikan yang buruk menjadi baik. Tetapi, niat hanya berurusan dengan, pertama: Perkara-perkara wajib, itu berarti jelas kebaikannya, pasti benarnya. Di situlah kemudian kita memerlukan niat, amalan yang pasti baiknya, pasti benarnya belum tentu menjadi kebaikan jika salah niatnya.

Kemudian, yang kedua adalah berkenaan dengan ibadah-ibadah sunnah. Sunnah itu juga jelas dasarnya. Artinya tidak bisa kita mengatakan sesuatu ini kan membawa kebaikan. Ini sunnah dong. Artinya sunah dan tidak itu ada acuannya, ada takarannya, dan kebijakannya adalah adanya dalil, adanya petunjuk dalam agama ini.

Nah, di luar yang dua itu ada urusan-urusan yang memerlukan niat tetapi untuk hal ini pun kita perlu mencermati betul takaran-takarannya. Karena, apabila melampaui takaran, maka bukan lagi masuk kategori tersebut. Apa itu? Urusan-urusan mubah, nah perkara mubah itu niat yang baik dalam melakukannya akan menjadikan yang mubah itu merupakan kebaikan. Seseorang tidur itu bukan kemuliaan tetapi tidur dalam rangka menjaga iman, tidur dalam rangka menyelamatkan aqidah sebagaimana tidurnya Ashabul Kahfi maka tidurnya bernilai sangat tinggi dan sangat mulia.

Di sini yang paling pokok bukanlah amalannya, contohnya berlari. Lari itu tidak dapat dinilai baik tidak dapat dinilai buruk, tapi sangat terkait dalam rangka apa? Larinya Ibunda Hajar itu dalam rangka untuk memberi minum kepada putranya bolak-balik dengan sepenuh tawakal kepada Allah SWT. Maka larinya ini dalam rangka yang baik, maka larinya menjadi kebaikan yang sangat besar.

Apa hubungannya masalah niat dengan New Age Movement?

Titik awal yang menjadikan orang itu mudah tergelincir adalah niat juga, semisal begini, coba pak saya mau tanya kalau bukan pakai (STIFIN, red) ini ada gak dalam agama ini yang dapat digunakan untuk motivasi?

Nah, ada atau tidak, tetapi ketika seseorang itu menempatkan sesuatu sebagai alat saja, agama misalnya sebagai alat untuk memotivasi maka walaupun itu menggunakan dasar yang baik, menggunakan ayat-ayat suci yang pasti benarnya maka dia bukanlah kebaikan. Karena itulah ketika kita membaca Al-quran kita perlu taawudz apakah berarti Al-quran ada yang meragukan? Tidak! Tidak ada keraguan di dalamnya, akan tetapi yang pasti benarnya itu pun kita bisa mendapatkan keburukan ketika niatnya salah, banyak yang tergelincir jatuh karena niatnya di awal sudah salah.

Kalau kita nggak pakai NLP misalnya, kalau kita nggak pakai Hypno, kalau kita nggak pakai macem-macem itu memangnya ada dalam agama? Itu artinya yang paling penting buat mereka bukan agama. Padahal seharusnya ketika kita mengerjakan sesuatu apalagi dilabeli Islami, kita cari dulu yang dimaui agama ini seperti apa? Yang diharapkan dari agama ini apa? Yang disuruh agama ini apa? Nah, artinya niat itu membawa konsekuensi bahwa cara yang kita tempuh itu merupakan implikasi dari niat.

Maksudnya?

Saya ingin kasih contoh sederhana, orang berdoa “Rabbana hablana min azwajina wa dzuriyatuna qurrotaa’yun waj’alna lilmutaqina imama.” Ketika dia berdoa, memang isinya permohonan kepada Allah taala tetapi pada saat yang sama kita lihat, dia konsisten gak dengan doanya itu? Kalau dia nggak mau ngurusin istrinya, nggak peduli. Berarti dia tidak konsisten dengan doanya. Nah, inilah yang ingin saya sampaikan, seseorang meminta kepada Allah baguskan istrinya, baikkan anak-anaknya, tapi istrinya mengaji atau tidak dia tidak peduli. Maka bagaimana dia dapat dikatakan memohon kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh? Artinya niat yang dia katakan, permohonan yang dia ajukan kepada Allah SWT tidak dibenarkan oleh tindakannya sendiri. Nah ini hal-hal dasar.

Di sisi lain, kita juga menjumpai banyak trainer, banyak narasumber, saya bisa mengatakan begini karena saya beberapa kali ditanya oleh orang yang menyusun dasar-dasar (pelatihan manajemen dan kepribadian ini), mereka menggunakan buku-buku motivasi dari orang-orang atheis, dari orang-orang Nasrani, dari buku-buku yang sifatnya pseudosains (sains palsu). Lalu datang kepada saya, “Ustadz, saya ini ada penemuan yang luar biasa. Ustadz, kalau antum bisa carikan dalilnya, luar biasa ini. Nanti kita bisa sharing royalty atau nanti bisa ikut ini. Ada juga yang (menawarkan) lain lain.”

Saya bilang tidak! Karena itu berarti ayat Al-Quran bukan sebagai dasar. Orang-orang itu mengklaim, “lah ini kita ingin menjadikan ayat sebagai dasar,” Oh ndak, udah selesai kok ini. Narasumber ini dia ingin menipu umat dan menipu dirinya sendiri dengan menggunakan ayat-ayat. Padahal dia tahu. Dia susun (pelatihan semacam itu) itu tanpa menggunakan ayat-ayat. Ada yang menggunakan ayat Al-Quran tapi melepas tafsirnya. Dia mengatakan seseorang itu secara genetik memiliki bakat ini, bakat itu dan lain-lain. Nah pertanyaannya, ini maksud ayat bukan?

“Ustadz, saya ini ada penemuan yang luar biasa. Ustadz, kalau antum bisa carikan dalilnya, luar biasa ini. Nanti kita bisa sharing royalty atau nanti bisa ikut ini. Ada juga yang (menawarkan) lain lain.”

Pelatihan-pelatihan motivasi yang datang dari Barat itu kan tidak semuanya buruk?

Loh, kalau tidak semuanya buruk, khamr itu ada baiknya, Ya kan? Siapa yang ngasih tahu ada baiknya, Allah taala sendiri. Jadi bukan soal ada manfaatnya saja. Nah, ini penting untuk menata alur berpikir bahwa yang pertama kali perlu kita cari adalah apa yang benar, bukan apa yang bermanfaat. Kita yakin Allah SWT tidak pernah zalim, kita yakin bahwa agama ini baik, kebenaran pasti membawa kebaikan, pasti membawa manfaat walaupun yang melaksanakan bukan muslimin. Sunnah itu mulia, sunnah itu pasti penuh manfaat walaupun yang melaksanakan itu bukan Muslimin. Syariat itu pasti membawa kebaikan walaupun yang merasakan bukan kaum muslimin.

Bedanya apa? Kalau muslimin melaksanakan syariat maka dia mendapatkan kebaikan, dia mendapatkan barakah, dia mendapatkan pahala. Dan dari situlah dia mendapatkan ridho Allah Subhanahu wata’ala. Akan tetapi, nonmuslim yang mengambil bagian-bagian dari syariat dia hanya mendapatkan manfaat dari syariat itu tapi tidak mendapatkan pahala dan tidak mendapatkan barokah.

Mari kita tata dulu. Begitu kita mendahulukan takaran awalnya adalah manfaat-manfaat tanpa memandang benar dan salah. Maka sesungguhnya hewan yang paling banyak manfaatnya secara zahir itu adalah babi. Besarnya manfaat daging babi tidak menghapuskan keharamannya.

Kembali lagi pada menata urusan ini, jika kita mengacu dalam urusan ini mari kita tengok sejarah ketika ibunda hajar lari bolak-balik dari Shofa-Marwa lalu tidak menemukan air. Hentakan kaki Ismail lah yang kemudian menerbitkan air. Air yang keluar sangat berlimpah sehingga karena takut banjir, takut meluap menenggelamkan Makkah Al-munawwarah maka ibunda Hajar mengatakan Zam.. zam.. Berkumpullah..berkumpullah..

Dari sini ada hal yang menarik, seandainya sirah ini ada yang mengkaji, bahkan cukup hanya melihat kisahnya saja maka, yang akan di-trainingkan adalah hentakan kaki Ismail kepada kita. Pada hentakan kaki Ismail yang dengan hentakan lemah itu mendapatkan air itu adalah barokah dari sa’i, usaha yang gigih dari Ibunda Hajar.

Ilustrasi pelatihan-pelatihan berbasis NAM yang mengajarkan ritual/mekanisme tertentu untuk meraih tujuan.

Jadi, maksudnya ada kedustaan dalam pelatihan-pelatihan motivasi itu saat mereka bilang ini sesuai dengan ajaran Islam?

Sampai di sini kita perlu menggaris bawahi lagi betapa kita perlu jujur, kita ini mau menggali Islam atau memperalat Islam? Karena tidak sedikit yang disebut sebagai pendekatan (dalam pelatihan) ada yang menyebut Fitrah, ada yang menamakan macam-macam. Ketika mereka mengatakan Fitrah, apakah betul istilah Fitrah dalam syariat yang mereka maksud? Fitrah Islam itu maknanya sesuai dengan yang disebut agama ini bukan? Atau kah nanti bakat disebut sebagai Fitrah dan lain-lainnya? Konsepnya bukan konsep agama ini, tapi pakai istilah agama ini.

Ada manipulasi istilah-istilah syariat padahal sebenarnya konsepnya bukan datang dari agama Islam?

Nah, ini pintu-pintu syubhat di satu sisi. Di sisi yang lain, marilah kita berusaha memegangi hadits “Wainna ashdaqal hadits kitabullah wa khoirul hadyu hadyu Muhammad sollalahu alaihi wasalam wa syarol umuri muhdatsatuha.” Apa konsekuensi dari hadits ini? Sebaik-baik perkataan adalah kitabullah Al-qur’anul karim. Karena itu, sudah cukup disebut kita ini bermasalah, apabila misalnya mendapati nasehat dari Luqman kepada putranya “Ya bunayya latusyrik billah inna syirka ladzulmun adzim,” lalu ada orang mengatakan: yang penting substansinya, kita dapat menyampaikan (nasehat jangan menyekutkan Allah SWT) dengan cara yang lebih baik.

Perkataan ini tampaknya sahih tetapi di dalam perkataan ini terkandung makna bahwa dia yakin Al-qur’anul Karim itu bukan sebaik-baik perkataan.

Yang kedua, terkandung makna bahwa dia menganggap bahwa Al-Quranul Karim itu tidak positif, Jika ada yang mengatakan bisa disampaikan dengan cara yang lebih baik, di situ terkandung makna bahwa Al-quranul karim tidak baik. Padahal, sudah jelas di hadits itu “sebaik-baik perkataan itu Kalamulah.” Ini contoh sederhana. Mari kita menakar, betulkah kita sudah yakin.

Kemudian, “dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Rasululah SAW, maka yang kita perlukan itu adalah memahami di balik petunjuk-petunjuk itu. Kalau dari Qur’an kita cari tafsirnya. Apa lagi buat orang-orang yang memang basisnya bukan tafsir, kita cari tafsirnya, tafsir yang shohih mengenai ini, bukan mengutak-atik menebak-nebak, itu bukan tafsir.

Kalau hadits kita perlu cek, ini hadis shohih tidak? Ini hadis maqbul tidak? Dapat digunakan tidak? Atau kah hadits ini tertolak? Kalau hadis itu dapat dipakai, maka berikutnya yang kita perlu periksa adalah maksud hadis ini bagaimana? Penjelasannya bagaimana?

Ketika mereka mengatakan Fitrah, apakah betul istilah Fitrah dalam syariat yang mereka maksud? Fitrah Islam itu maknanya sesuai dengan yang disebut agama ini bukan? Atau kah nanti bakat disebut sebagai Fitrah dan lain-lainnya? Konsepnya bukan konsep agama ini, tapi pakai istilah agama ini.

Lalu, bagaimana dengan perkataan perkataan yang baru, yaitu Al-Masnah. Perkataan-perkataan manusia yang keluar dari Al-Quran dan as-sunnah yang kemudian dijadikan pegangan oleh manusia, untuk mengambil petunjuk mengenai berbagai urusan?

Sebenarnya kalau lebih luasnya, ketika orang mengatakan bahwa pelatihan NAM itu ada dasar ayatnya kita perlu kembalikan pada dua hal itu (Quran dan Hadits). Jika mereka berkata, “ini kan ada ayatnya,” perlu ditanya kembali apakah demikian maksud ayatnya? Jika mereka berkata, “ini kan ada haditsnya,” perlu ditanya kembali itu haditsnya berurusan dengan apa? Terkait dengan klaim-klaim mereka itu nggak?

Sesungguhnya, ikhtiar yang sungguh-sungguh untuk mencapai kebenaran walaupun tidak sampai kepada kebenaran itu secara sempurna maka Allah ta’ala berikan kebaikan kepadanya. Tetapi seseorang yang hanya mengutak-atik saja, walaupun dia benar, tetaplah buruk. Bukanlah kehebatan seseorang jika kebetulan benar.

Selanjutnya, “wasyarol umuri muhdatsatuha” jadi segala sesuatu yang baru, perlu kita periksa sesuai enggak dengan agama? Kalau tampak sesuai mari perlu kita periksa sekali lagi. Ini betul-betul sesuai atau seolah-olah sesuai? Karena kadang kala kita terlalu bersemangat, “dalam Islam ada-dalam Islam ada, sehingga tidak memeriksa maksud dari keduanya itu, dari apa yang dikatakan sebagai kebaikan tadi atau yang dikatakan oleh agama tadi.

Apakah ada upaya tertentu dari kelompok di luar umat Islam terkait pelatihan NAM ini?

Nah, pada saat yang sama, memang ada gerakan-gerakan yang mereka berusaha terus-menerus untuk mendakwahkannya dengan kemasan yang berbeda-beda. Pertama, melalui jalur pemikiran dan ini tidak banyak berkembang. Jalur ini tidak banyak berhasil di negeri kita. Pemikiran New Age ini misalnya di Indonesia dibawa oleh namanya Sukidi.

Kemudian yang kedua, melalui gerakan-gerakan spiritualitas, meditasi dan lain-lain. Walaupun sekarang semakin lemah, tetapi tidak cepat berkembang dibanding yang ketiga. Yakni melalui jalur-jalur pelatihan-pelatihan. Pada pokoknya, pelatihan-pelatihan ini memberikan semacam terobosan biar orang bisa cepat hebat, cepat sukses usaha ringan dapat banyak, dan lain-lain.

Ini sebenarnya akan lebih dapat diminimalisir apabila orang berpegangan pada poin kedua tadi yakni, selalu membawa kepada acuan Al-Quran dan As-Sunnah. Sekiranya kita ini tidak memiliki ilmu yang memadai mengenai Al-Quran maupun as-sunnah jika komitmen itu ada, maka kita masih dapat bertanya.

Ambil contoh, di antara yang ditawarkan pelatihan-pelatihan adalah kaya secara cepat, mendapatkan rezeki sebanyak-banyaknya, mendapatkan kekayaan sebanyak- banyaknya secara kilat dengan usaha-usaha yang ringan. Pembenarannya adalah, “kan nanti kalau kita kaya, kan nanti kalau kita punya banyak uang, kita bisa begini, kita bisa begini, bisa beramal lebih baik.” Tetapi mari kita ingat, dengan kata lain itu berarti dia mengabaikan, itu berarti orang ini melalaikan barokahnya rezeki itu kuncinya ada pada jiwa yang rela, jiwa yang tidak tamak kepada harta.

Dia memang bekerja keras dan bekerja kerasnya itu dalam rangka meraih ridho Allah SWT bukan berarti dia menghindari jalan rezeki yang mudah, tetapi orientasi yang dimiliki bukanlah mengambil jalan pintas. Karena ini hubungan dengan barakah tidaknya rezeki dia.

Artinya seseorang yang memegang prinsip ini dia tidak berpikir yang sifatnya jalan pintas. Dengan kata lain, training-training yang menawarkan jalan pintas seperti itu pastilah bertentangan dengan prinsip ini. Dengan kata lain pula, bahwa ketika seseorang itu masih memegangi acuan dalam Dien ini, maka dia akan lebih terjaga, insyaAllah.

Jadi, New Age Movement itu bentuknya sangat beragam. New Age itu menawarkan syubhat dan karena syubhat itulah maka orang bisa keliru manakala dia tidak senantiasa merujukkan kepada acuan terpenting dalam agama ini, yakni Al-Quran dan as-Sunnah.

Akar gerakan New Age Movement.

Lalu bagaimana cara kita menandai apakah sebuah pelatihan motivasi dan training kepribadian itu termasuk gerakan New Age?

Saya tidak berbicara ciri-ciri New Age sebagaimana pernah saya bicarakan sebelumnya. Tapi saya ingin mengajak berbicara pada aspek yang lain. Yakni, pintunya cuma dua. Dua pintu inilah yang kemudian juga menjadi peringatan utama dalam agama ini. Kalau bukan fitnah syubhat, ya fitnah syahwat. Fitnah syubhat menawarkan cara-cara instan bagaimana menjadi manusia yang dikejar rezeki, seolah-olah takdir mengenai itu tidak ada. Artinya, memudahkan terjatuh kepada dosa yang lebih besar dari pada dosa syirik.

Syirik itu dosa besar tapi ada dosa yang jauh lebih besar dibanding dosa syirik yakni mengada-adakan Allah dan Rasulnya tanpa ilmu. Sehingga nanti akan muncul orang berlebih-lebihan dalam berdoa. Sehingga ketika berdoa diharuskan pakai teknik tertentu, pakai cara tertentu, dengan model tertentu. Karena kalau pakai teknik itulah yang nanti akan terwujud.

Dalam hal ini unsur pokoknya sudah berbeda dengan ajaran syariat. Kalau dalam syariat berdoa kita diperintahkan untuk memperbanyak tadhoru’ (merendah), memperbanyak khouf dan raja’ kepada Allah Subhanahuwata’ala dan yakin penentunya adalah Allah SWT, maka pada syubhat-syubhat ini yang dia percaya adalah mekanismenya.

Mereka membangun pemikiran bahwa kekuatan itu bukan dari Allah walaupun nanti dikemas dengan kata lain bahwa: Allah taala yang memberi kekuatan dengan cara ini. Tetapi cara-cara itu bukanlah cara-cara yang dikenal dalam Dien ini.

Jadi sederhana saja. kalau ada orang mengatakan: bagaimana kita agar kita bisa selalu mendapatkan pertolongan Allah SWT. Tengok orang tersebut! Kita jumpai nggak dalam praktek shalat dan ibadahnya, apakah sesuai yang diajarkan oleh Rasululah SAW?

Suatu ketika pernah ada yang berbicara, saya saksikan langsung dengan mata saya, perempuan ini mengatakan dengan amalan ini, amalan itu pasti akan disayang suami. Kalau misalnya, kepingin dapat keturunan baca ini, nanti dijamin (dapat anak, red). Dua minggu setelah perempuan ini mengatakan itu di hadapan saya dia cerai dengan suaminya. Kenapa? Karena menikah sekian tahun nggak punya anak. Nah kenapa dia berbicara seperti itu? Ada kepentingan marketing untuk lembaga yang dia ada di dalamnya. Artinya, dia sudah mengada-adakan tentang Allah SWT dan Rasul-Nya tanpa ilmu. Dosanya lebih besar dibanding dosa syirik. Nauzubillahi min dzalik tsuma naudzubilah.

Artinya lembaga pelatihan NAM ini punya kemasan dan daya tarik tersendiri sehingga menutupi syubhat-syubhat di dalamnya?

Yang jelas, mereka menawarkan hal-hal yang menjadikan suatu secara instan. Mudah untuk mendapatkan yang dimaui oleh syahwat ini. Apakah disayang suami dengan cara instan, apakah mendapatkan kekayaan secara instan, apakah meraih popularitas dengan cara instan dan yang lain-lain. Jadi segala sesuatu yang diperingatkan oleh agama itulah yang ditawarkan.

Kemudian, syubhat itu nampaknya lebih samar, tampaknya baik. Tetapi syubhat ini juga masih terkait lagi dengan syahwat. Mungkin nanti akan menemukan teknik-teknik, seolah-olah merupakan sesuatu yang simpel. Begini prinsipnya, apa yang dikatakan sulit oleh agama ini, ketika ada yang mengatakan mudah pasti itu bermasalah.

Contoh, yang senantiasa diperingatkan kepada kita adalah soal ikhlas, soal niat. Maka kalau ada yang memudah-mudahkan tentang ikhlas, tentang niat. Misalnya ada perkataan: “udah nggak penting itu ikhlas, yang penting banyak amalnya, nanti ikhlas akan datang sendiri.” Maka dia pasti akan membawa kepada syubhat yang besar. Inilah yang biasa ditawarkan gerakan New Age dan semacamnya.

Contohnya lagi, soal khusyuk. Apa yang dikatakan agama mengenai khusyuk? Khusyuk ini dicapai bukan hasil dari teknik-teknik sederhana, tapi khusyuk itu lahir dari iman yang kokoh. Maka, begitu ada orang menawarkan metode-metode praktis yang tak perlu kualifikasi berat untuk bisa khusyuk, boleh jadi atau hampir dapat dipastikan yang ditawarkan itu datangnya bukan dari Dien ini.

Sebagaimana perkataan Fudhail bin Iyadh: “tangis itu ada dua macam, tangisan hati dan tangisan kepala.” Tangisan kepala itu apa? Karena emosinya teraduk-aduk, mendengarkan musik terlebih dahulu, dia sudah ingin menangis lalu shalat, itu bukanlah suatu yang khusyuk. Bukanlah air mata yang menetes dari shalat, tetapi shalatnya orang yang menangis.

Ada orang mau shalat, dia diam dulu mengenang peristiwa-peristiwa menyedihkan, tangisnya itu bukan tangis karena takut kepada Allah SWT, tetapi tangis karena ingat dengan bapaknya yang sudah mati, ini contoh sederhana. Saya tidak bicara tentang ciri-ciri New Age, dulu sudah sempat saya bahas, bisa dicek lagi.

Mereka membangun pemikiran bahwa kekuatan itu bukan dari Allah walaupun nanti dikemas dengan kata lain bahwa: Allah taala yang memberi kekuatan dengan cara ini. Tetapi cara-cara itu bukanlah cara-cara yang dikenal dalam Dien ini.

Orang-orang yang menggeluti pelatihan berbasis NAM ini mengaku bahwa kegiatan mereka didukung dengan penjelasan ilmiah, apakah itu bisa kita terima?

Ada ilmiah, ada namanya ada juga play acting at science. Apa play acting at science itu? Sebenarnya mirip dengan pseudoscience. Mereka sering berkata; “ini sudah ada risetnya kok.” Padahal seribu riset pun tidak menjadikan yang salah menjadi benar. Nanti contohnya, dalam psikologi itu sampai menjadi keyakinan. Orang psikologi itu sangat mengimani bahwa remaja itu pasti akan mengalami stress dan guncangan. Tetapi, riset-riset tentang itu bagaimana? Riset-riset itu valid nggak? Reliable nggak? Artinya apakah yang disebut riset itu memenuhi kualifikasi dalam riset ilmiah.

Mohon maaf, saya cukup sedih karena dalam beberapa kejadian bahkan di beberapa perguruan tinggi negeri, terkemuka itu riset kepribadian, dasarnya cuma buku popular tidak menggunakan jurnal-jurnal yang terakreditasi.

Kemudian, ada sejumlah pertanyaan dasar yang perlu diajukan. Kalau dia misalnya mengatakan, “Oh manusia itu diciptakan ‘ala syakilatih’, nah konsep syakilah yang dia klaim itu bersesuaian nggak dengan apa yang dimaksud oleh syariat?

Dalam hal Ini jika dia menggunakan Al-qur’an, konsekuensinya harus dia pakai metodenya juga. Tafsirnya begitu bukan? Kalau kita pakai rumus-rumus kedokteran, maka kita juga menggunakan rumus-rumus kedokteran untuk memahami itu. Setelah itu, baru bisa membawa ke ranah kita.

Contohnya begini, saya bertanya kepada Anda “stigma itu bagus nggak? Stigma itu perlu nggak? Penting nggak? Stigma itu apa?

Ketika saya berbicara stigma, saya tidak berbicara tentang citra negatif atau persepsi. Kenapa? Saya sedang bicara tentang za’faron. Stigma itu dalam istilah biologi adalah semacam benang sari. Kalau anda menggunakan istilah stigma dalam urusan za’faron, anda nggak bisa pakai penjelasan stigma dengan istilah lain.

Begitu pula ketika mengatakan ayat “ala syakilatih” ditafsirkan sesuai dengan bakatnya, itu makna yang mana? Nggak bisa ente ngomong Al-Qur’an tapi maknanya ente pakai punya ente sendiri. (Fajar Shadiq/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.