Geng motor Selandia Baru akan jaga masjid saat kaum Muslim shalat Jum'at

Masjid yang menjadi lokasi penembakan di Selandia Baru
609

HAMILTON (Arrahmah.com) – Setelah mendengar berita bahwa umat Muslim di Hamilton takut untuk malaksanakan shalat Jum’at di masjid setelah adanya serangan di masjid Christchurch, sebuah geng motor Selandia Baru bersumpah untuk menjaga umat Islam sebagai bentuk solidaritas mereka.

Sonny Fatu, pemimpin geng Mongrel Mob, yang didominasi oleh etnis Maori, mengatakan bahwa mereka itu akan menjaga Masjid Jamia di Hamilton, sebuah kota di utara Selandia Baru.

“Kami akan mendukung dan membantu saudara-saudari Muslim kami selama mereka membutuhkan kami,” kata Fatu, yang memimpin geng cabang Waikato, sebagaimana dilansir media lokal Stuff.

Berdiri sejak tahun 1960-an, Mongrel Mob adalah geng jalanan yang berbasis di Selandia Baru yang memiliki cabang lebih dari tiga puluh, beberapa cabang geng yang paling aktif adalah di King Country, Opotiki, Waikato dan Hastings.

Menurut polisi setempat, beberapa kegiatan yang mereka lakukan termasuk kekerasan, menjual narkoba, dan kepemilikan senjata.

Keanggotaan dari geng tersebut didominasi oleh orang-orang Kepulauan Pasifik dan Maori.

Berdasarkan data yang tersedia di situs web milik pemerintah menunjukkan bahwa “pengaruh budaya Amerika menjadi latar belakang pembentukan geng di Selandia Baru.”

“Sejak akhir 1970-an, kaum muda Selandia Baru semakin dipengaruhi oleh film-film dari Amerika, program-program televisi, dan musik. Misalnya, film geng ‘Colours’ (1988) menginspirasi beberapa anak muda untuk meniru kehidupan geng yang digambarkan,” ungkap situs web milik pemerintah, sebagaimana dilansir Anadolu Agency pada Rabu (20/3/2019).

Setidaknya 50 orang tewas ketika seorang teroris menembaki para jama’ah shalat Jum’at di masjid Al Noor dan Linwood di Christchurch, Selandia Baru.

Teroris kelahiran Australia, Brenton Tarrant (28), kini didakwa atas pembantaian yang telah ia lakukan dan ditahan di penjara dengan tingkat keamanan tinggi di Auckland yang tidak memiliki akses ke media online atau media cetak. (Rafa/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.