ARSA bantah terlibat dalam kekerasan di kamp-kamp pengungsian di Bangladesh

Pasukan Penyelamatan Arakan Rohingya (ARSA) pada Rabu (13/3/2019) menyatakan agar para pendukungnya menahan diri untuk tidak melakukan tindakan kejahatan di kamp-kamp pengungsian, menyusul laporan pembunuhan dan penculikan yang dikaitkan dengan kelompok itu. (Foto: Internet)
268

DHAKA (Arrahmah.com) – Pasukan Penyelamatan Arakan Rohingya (ARSA) pada Rabu (13/3/2019) menyatakan agar para pendukungnya menahan diri untuk tidak melakukan tindakan kejahatan di kamp-kamp pengungsian, menyusul laporan pembunuhan dan penculikan yang dikaitkan dengan kelompok itu, seperti dilansir Reuters.

ARSA, yang muncul dengan serangan terhadap pos-pos perbatasan di negara bagian Rakhine Myanmar pada tahun 2016, memfokus pergerakannya untuk memenangkan hak Rohingya, minoritas Muslim yang kebanyakan tidak memiliki kewarganegaraan yang telah lama dianiaya di Myanmar.

Pemerintah menyebut mereka teroris dan mengatakan aksi militer besar-besaran di negara bagian barat Rakhine, yang memicu eksodus pengungsi ke Bangladesh, adalah aksi yang bisa dibenarkan.

Dalam beberapa pekan terakhir, media yang bermarkas di Bangladesh menyalahkan kelompok itu atas kekerasan terorganisir di kamp-kamp pengungsi, termasuk serangkaian pembunuhan. ARSA membenarkan kabar tersebut, namun membantah pihaknya ada di balik kejahatan itu.

“Orang-orang itu tidak hanya menentang pemerintah Bangladesh tetapi juga membuat ARSA bertanggung jawab atas kejahatan mereka sendiri,” kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan video yang diposting di Twitter.

“Dan karena aktivitas mereka, seluruh komunitas difitnah di seluruh dunia,” kata kelompok itu.

ARSA menyatakan terima kasih kepada pemerintah Bangladesh dan mendesak para pengungsi untuk “menahan diri dari kejahatan” terhadap pihak berwenang di sana, tempat hampir sejuta orang Rohingya tinggal.

Lebih dari 700.000 pengungsi Rohingya menyeberang ke Bangladesh dari Myanmar barat, badan-badan PBB mengatakan, setelah gerilyawan menyerang pasukan keamanan Myanmar pada Agustus 2017, memicu respon militer yang kejam.

Sejak itu, pemberontak dipersalahkan atas serangan sporadis di Negara Bagian Rakhine, termasuk penyergapan di pos penjaga perbatasan pada Januari yang melukai enam orang.

“Kegiatan kami untuk membela hak-hak kami yang sah sedang berlangsung melawan pemerintah teroris Burma dan militer yang melakukan genosida,” kata pernyataan kelompok itu, menambahkan bahwa serangan akan berlanjut sampai hak-hak dasar dipulihkan. (Althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.