Akun Twitter Opposite6890 Bongkar Produsen Hoax Terbesar di Indonesia, Polri Dituding Terlibat

3,011

JAKARTA (Arrahmah.com) – Jagat media sosial dihebohkan oleh cuitan akun Twitter @Opposite6890 yang membongkar praktik produsen hoax terbesar di Indonesia yang melibatkan Kepolisian Negara Republik Indonesia.

@Opposite6890 mengungkapkan, kepolisian telah mengerahkan ratusan anggota untuk menjadi tim buzzer untuk mendukung salah satu pasangan capres dan cawapres dalam Pilpres 2019, mulai dari Polres sampai Mabes Polri, bahkan membentuk 100 polisi buzzer di setiap Polres.

Dalam pelacakan akun @Opposite6890, Kamis (7/3 2019), ditemukan jaringan buzzer polisi se-Indonesia saling mengikuti (follow) di media sosial, yakni di Twitter, Instagram dan Facebook. Akun yang mengorganisir ini bernama @AlumniShambar.

Akun ini dalam penelusuran cuma mengikuti satu akun saja yakni akun resmi Presiden Joko Widodo.

Akun @Opposite6890 mengungkapkan bahwa ratusan buzzer polisi ini menggunakan aplikasi Sambhar dalam penyebaran pesan dan koordinasi.

Dalam investigasinya, berkas paket aplikasi Android (APK) aplikasi tersebut ternyata dilacak beralamat pada IP milik Mabes Polri. Anehnya, begitu narasi buzzer ini terbongkar, akun @AlumniShambar langsung lenyap dan jejaknya menghilang dari dunia maya.

Dalam penelusuran akun tersebut sudah tak tersedia di media sosial dari Twitter sampai Instagram.

Malahan, dari hasil penyelidikan akun @Opposite6890, ditemukan akun @AlumniShambar berubah menjadi @demodulatoroid.

Akun @Opposite6890 mengatakan bahwa APK Sambhar hanya bisa diunduh dari website mysambhar.com.

Pegiat media sosial Mustofa Nahrawardaya menegaskan bahwa akun @Opposite6890, baik di Twitter maupun Instagram, berhasil membongkar praktik produsen hoax terbesar di Indonesia yang dilakukan oleh oknum-oknum berbaju coklat lewat investigasinya.

Mustofa mengungkapkan, akun @Opposite6890 berhasil menemukan satu aplikasi yang diinstall oleh ribuan anggota atau member, yang sebagian besar adalah anggota kepolisian.

Selain diinstall, lanjutnya, aplikasi ini dipakai untuk berkomunikasi untuk mengirimkan postingan-postingan yang semuanya merugikan pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02.

“Ini sudah viral dan saya tanpa melapor ke Mabes Polri juga sudah tahu. Ini benar, ya, dan sudah saya praktikkan di kantor ternyata betul. Saya buktikan di mesin Whois dan DNS lookup, ternyata benar,” kata Mustofa kepada Kabar Petang di tvOne, beberapa waktu lalu.

Sumber: VIVA

(ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.