MSC 2019: Eropa dilaporkan beresiko kehilangan pijakan di tengah pergeseran tatanan global

Munich Security Conference (MSC) chairman Wolfgang Ischinger. REUTERS/Annegret Hilse
272

COLOGNE (Arrahmah.com) – Uni Eropa nampaknya harus bersegera mempercepat langkahnya menuju kecakapan militer yang lebih besar untuk memastikan 500 juta warga yang meninggali blok tersebut dapat bangkit dari perombakan berkelanjutan tatanan global berdasarkan ketentuan mereka sendiri, menurut Munich Security Report terbaru.

Uni Eropa “sangat tidak siap” untuk berkurusetra dengan kekuatan global Rusia dan Cina dalam apa yang dijuluki analisis sebagai “era baru persaingan kekuatan besar.” Istilah itu, yang dipinjam dari dokumen strategi AS, menggambarkan pergeseran dari terorisme sebagai yang masalah keamanan dominan menuju perlakuan terhadap aspirasi negara-negara kuat sebagai pendorong konflik.

Laporan yang dirilis di Berlin hari ini (12/2/2019) menetapkan lokasi Konferensi Keamanan Munich (MSC) 2019 yang dijadwalkan berlangsung di ibukota Bavaria dari 15-17 Februari. Di antara banyak pemimpin dunia yang diperkirakan hadir adalah Kanselir Jerman Angela Merkel, Wakil Presiden AS Mike Pence, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, dan Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif.

Ketua konferensi, Wolfgang Ischinger, mantan duta besar Jerman di Washington, meramalkan bahwa keengganan Jerman untuk secara drastis menaikkan anggaran militernya sekali lagi akan menyebabkan gesekan dengan delegasi Amerika selama acara tersebut. Presiden Trump sering menuduh Berlin kurang berinvestasi di militer dan terlalu bergantung pada janji bantuan AS jika terjadi perang.

Pembentukan mekanisme luas Uni Eropa baru-baru ini untuk mengoordinasikan dan mendanai proyek-proyek pertahanan adalah awal yang baik, tetapi hal itu berkembang terlalu lambat, tutur Ischinger kepada wartawan di Berlin hari ini (12/2). Pejabat Eropa harus mendorong untuk menjadikan pertahanan dan keamanan menjadi prioritas dari agenda integrasi blok, lanjutnya.

Para pejabat di Jerman diperkirakan akan melanjutkan usaha mereka menata hubungan yang tidak terduga dengan pemerintahan Trump, menurut laporan itu. Artinya, mereka mengakui perlunya tetap berada di sisi baik Washington dalam hal perlindungan militer sementara pada saat yang sama mempersiapkan kemungkinan bahwa Amerika di bawah Trump dapat menarik dukungannya.

Konferensi tahun ini datang hanya beberapa minggu setelah Amerika Serikat dan Rusia menyatakan pengunduran diri mereka dari Perjanjian Pasukan Nuklir tingkat Menengah, sebuah poin yang menyakitkan terutama bagi Jerman yang kemungkinan akan menjadi topik utama di Munich.

Beberapa analis di sini percaya bahwa penghentian perjanjian itu akan menghidupkan anggota NATO Eropa timur dalam kisaran rudal Rusia yang pernah dilarang, seperti Polandia, untuk mencari jaminan keamanan dari Amerika Serikat di luar payung pertahanan kolektif aliansi itu. Langkah-langkah seperti itu selanjutnya dapat mendorong sejumlah irisan dalam kohesi NATO pada saat Rusia secara aktif mencari titik-titik lemah di wilayah tersebut dengan Barat, laporan itu melanjutkan.

Pada saat yang sama, para penulis laporan percaya ada batasan untuk calon musuh yang mengorganisir tandingan efektif bagi tatanan Barat yang dipimpin AS.

“Meskipun Cina dan Rusia telah mengembangkan segala macam langkah untuk mempengaruhi negara-negara lain atau telah mencoba merusak kohesi Barat, mereka belum mampu membangun koalisi besar yang mendukung mereka sendiri – dan tidak mungkin melakukannya di masa depan.”

Konflik antara Washington dan Beijing, laporan itu melanjutkan, juga hanya terfokus pada isu-isu ekonomi dan perdagangan.

Dinamika tersebut seharusnya membuat Amerika Serikat dan Eropa agak tenang, kecuali atas sikap Donald Trump yang menjengkelkan.

“Presiden AS Donald Trump menampilkan antusiasme yang menjengkelkan bagi orang-orang kuat di seluruh dunia, menunjukkan bahwa pemerintahan ini hidup dalam ‘dunia pasca-hak asasi manusia’.”

Hal ini, menurut laporan itu, merusak upaya yang diakui AS untuk menggalang “negara-negara mulia di dunia untuk membangun tatanan liberal baru,” sebagaimana dikatakan oleh Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada bulan Desember, dan untuk menentang kekuatan besar yang otoriter.

“Untuk sekutu lama trans-Atlantik, masih sulit untuk percaya ketika Trump memuji para pemimpin yang tidak liberal dari Brasil ke Filipina,” tulis laporan itu. (Althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.