Menlu Bangladesh klaim tinggalnya Rohingya berpotensi lahirkan 'radikalisme'

94

Support Us

DHAKA (Arrahmah.com) – Menteri Luar Negeri Bangladesh, Abdul Momen, telah meminta komunitas internasional untuk membantu menyelesaikan krisis Rohingya demi menghindari potensi masalah radikalisasi.

“Ketakutan saya adalah bahwa jika masalah ini bertahan lebih lama, hal itu dapat mendorong terciptanya kantong radikalisme dan yang dapat menciptakan masalah ketidakpastian dan ketidakstabilan tidak hanya untuk Myanmar dan Bangladesh tetapi untuk wilayah sekitarnya,” ungkapnya, berbicara di sebuah seminar di Dhaka pada Minggu (10/2/2019).

“Karena itu, Rohingya harus kembali ke rumah mereka, semakin cepat lebih baik. Kepemimpinan global harus maju untuk menyelesaikan krisis ini hingga akarnya, bukan di Bangladesh,” katanya.

“Bangladesh mencari kerja sama proaktif Anda dalam menyelesaikan masalah yang memprihatinkan ini”.

Kementerian luar negeri menyelenggarakan seminar tentang hak asasi manusia yang juga dihadiri koordinator Residen PBB di Bangladesh, Mia Seppo.

Momen menambahkan, “Kecuali kita berdiri seperti batu yang kokoh untuk mengakhiri kekejaman dan bentuk terburuk pelanggaran hak asasi manusia yang disebut oleh Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB sebagai ‘contoh klasik pembersihan etnis’ dan oleh orang lain sebagai ‘genosida’ dalam Myanmar, upaya kami tidak akan pernah bernilai banyak.”

“Dengan mengizinkan orang-orang yang teraniaya dari Rakhine tinggal dan memberi perlindungan pada mereka, Perdana Menteri Sheikh Hasina telah menyelamatkan wajah para pemimpin global dari kebodohan dan aib,” lanjutnya.

“Jika tidak, hal itu akan berakhir dengan genosida terburuk abad ini sejak Perang Dunia II,” katanya.

Ada hampir 1,2 juta Rohingya atau ‘penduduk terlantar’ di provinsi Rakhine yang sekarang berlindung di Bangladesh.

Mereka perlu dipulangkan “seaman mungkin dan secepat mungkin”, katanya.

“Eksodus mereka diciptakan oleh Myanmar dan merupakan tanggung jawab mereka untuk menyelesaikannya.

“Orang-orang Rohingya ini adalah orang-orang tanpa kewarganegaraan, mereka tinggal di Myanmar selama berabad-abad dan Myanmar sendiri, sebagai sebuah negara – gagal memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya terhadap rakyatnya sendiri.”

Menurut Momen, Hasina adalah panutan bagi para pemimpin lainnya di dunia dalam melindungi hak-hak asasi manusia. (Althaf/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.

Berita Arrahmah Lainnya

Daily Mail Bagikan Masker Buatan Muslim Uyghur Pada NHS

LONDON (Arrahmah.com) – Sebuah badan amal yang didirikan oleh surat kabar Daily Mail menyumbangkan 100.000 masker wajah yang dicurigai dibuat oleh warga Uighur yang ada di kamp konsentrasi Cina pada NHS, program kesehatan di Inggris.…

Sebut Niqab Budaya Arab, Ulama Chechnya Paksa Buka Niqab Muslimah Chechnya

GROZNY (Arrahmah.com) – Mufti Besar Chechnya Salakh Mezhiyev memarahi dan memaksa sejumlah muslimah Grozny untuk membuka niqab mereka. Video yang disiarkan oleh TV Grozny ini terjadi di hadapan kepala kepolisian Grozny Aslan Iraskhanov…

Maaher Ditangkap Bareskrim di Bogor

BOGOR (Arrahmah.com) - Maheer At-Thuwailibi alias Soni Eranata ditangkap Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri terkait kasus ujaran kebencian di media sosial Twitter @ustadzmaaher_. Kadiv Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono mengatakan…

Pejabat Zionis: Dunia harus berterima kasih pada "Israel" atas pembunuhan Fakhrizadeh

TEL AVIV (Arrahmah.com) - Seorang pejabat "Israel" yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada New York Times pada hari Sabtu (28/11/2020) bahwa dunia harus berterima kasih kepada negaranya atas pembunuhan sosok yang diduga dalang…

AS akan tarik pasukan dari Somalia

MOGADISHU (Arrahmah.com) - Seorang pejabat militer AS pada Jumat (4/12/2020) mengatakan bahwa Amerika Serikat akan menarik sebagian besar pasukannya dari Somalia pada 15 Januari, meninggalkan formasi terbatas di Mogadishu. Disebutkan…

Setelah Watad, HTS Buka Perusahaan Minyak Baru Bernama Kaf

IDLIB (Arrahmah.com) – Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) melaporkan bahwa kelompok pembebasan Suriah HTS membuka perusahaan minyak baru di daerah yang ada di bawah kendalinya di Idlib dan sebagian Aleppo. Sebagaimana…

Cendekiawan Muslim kecam fatwa anti-Ikhwanul Muslimin oleh Saudi

RIYADH (Arrahmah.com) - Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional (IUMS) pada Sabtu (28/11/2020) mengutuk fatwa Saudi yang memfitnah Ikhwanul Muslimin, yang menggambarkan kelompok tersebut sebagai organisasi tersesat dan teroris, Quds…

Anies Raih Penghargaan Gubernur Terpopuler 2020

JAKARTA (Arrahmah.com) - Pemprov DKI dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meraih penghargaan dalam Anugerah Humas Indonesia (AHI) 2020. Kompetisi tersebut berdasarkan kinerja humas pemerintah di kementerian, lembaga, Pemerintah Daerah,…

Pengadilan Iran desak tindakan tegas terhadap 'penyusup' pasca pembunuhan Fakhrizadeh

TEHERAN (Arrahmah.com) - Kepala pengadilan Iran Ebrahim Raisi meminta layanan keamanan negara pada hari Senin (30/11/2020) untuk menindak "jaringan infiltrasi" setelah pembunuhan seorang ilmuwan nuklir militer Iran. "Badan intelijen dan…

30 pasukan Afghan tewas digasak bom di Ghazni

KABUL (Arrahmah.com) - Sebuah pemboman mobil di provinsi tengah Afghanistan, Ghazni, menewaskan sedikitnya 30 anggota pasukan keamanan Afghanistan pada Minggu (29/11/2020), kata para pejabat, dan korban dapat meningkat mengingat intensitas…

110 Petani Dibantai di Nigeria Akhir Pekan Ini

NIGERIA (Arrahmah.com) – Sedikitnya 110 orang tewas dalam serangan akhir pekan terhadap para petani di bagian timur laut Nigeria. Banyak pihak menuduh kelompok militan Islam yang aktif di daerah tersebut sebagai pelaku, meskipun belum ada…

Kebrutalan polisi Prancis bangkitkan kembali trauma fotografer berita asal Suriah

PARIS (Arrahmah.com) - Seorang fotografer Suriah yang terluka saat tengah meliput protes pada akhir pekan di Paris mengatakan pada Senin (30/11/2020) bahwa pemandangan "darah di mana-mana" selama bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa…

Iklan

Banner Donasi Arrahmah