Pengungsi Rohingya berharap masa depan yang lebih baik di kamp pengungsian

Seorang remaja Rohingya memainkan Balukhali di kamp pengungsi di Ukhia. (Foto: Daily Sabah)
65

BANGLADESH (Arrahmah.com) – Minoritas paling teraniaya di dunia, Muslim Rohingya, memiliki kekhawatiran tentang masa depan mereka di pemukiman pengungsi terbesar di dunia di Bangladesh, karena banyak dari mereka menderita akibat kurangnya pendidikan dan bimbingan.

Setelah melarikan diri dari perbatasan Myanmar ke Bangladesh tenggara sejak Agustus 2017, 730.000 Muslim Rohingya sebagian besar menghabiskan tahun pertama berjuang untuk bertahan hidup, membangun tempat berlindung dan menyesuaikan diri untuk kehidupan pengungsi. Tapi dalam 18 bulan kemudian, mereka mengalami ketidakpastian untuk masa depan.

Mohammad Hossen (24), adalah satu dari sedikit Muslim Rohingya yang pernah kuliah, dia mengatakan bahwa dia khawatir banyak pemuda “kehilangan karakter mereka”.

Di bawah peraturan pemerintah Bangladesh, hanya anak-anak berusia hingga 14 tahun yang dapat menghadiri pusat belajar untuk belajar bahasa Inggris, Burma, matematika dan keterampilan hidup, sementara agen-agen bantuan mempekerjakan orang dewasa untuk bekerja di 34 kamp yang membentuk pemukiman pengungsi. Tetapi tidak ada yang memikirkan nasib para remaja yang tinggal di antara 900.000 pengungsi di kamp-kamp, yang mengeluh bahwa mereka berjuang untuk menemukan cara untuk mengisi hari-hari mereka, lansir Daily Sabah pada Jum’at (8/2/2019).

Berbagai lembaga bantuan telah menyatakan keprihatinan bahwa hal ini membuat remaja sangat rentan terhadap pernikahan dini, pekerja anak, perdagangan manusia, pelecehan dan eksploitasi. Dalam sebuah laporan terbaru, Kelompok Koordinasi Antar-Sektor (ISCG), yang dibentuk untuk mengoordinasikan kerja antara kelompok-kelompok kemanusiaan, mengatakan layanan tidak memadai untuk remaja berusia antara 15 hingga 24 tahun, tetap menjadi masalah.

Pemerintah Myanmar telah melakukan genosida terhadap komunitas Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine. Eksodus besar Rhingya dimulai pada Agustus 2017 setelah pasukan keamanan Myanmar melancarkan penumpasan brutal. Skala, organisir dan keganasan operasi tersebut menimbulkan tuduhan komunitas internasional tentang pembersihan etnis dan genosida.  (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.