Netanyahu 'pulihkan' relasi dengan negara-negara yang memihak Palestina

Perdana Menteri 'Israel', Benjamin Netanyahu, dan istrinya Sara menjamu Presiden Chad, Idriss Deby. (Foto: Times of Israel)
240

N’DJAMENA (Arrahmah.com) – Perdana menteri ‘Israel’ telah berangkat ke Chad di Afrika tengah untuk ‘memulihkan’ hubungan kedua negara secara resmi.

Benjamin Netanyahu pada Minggu (20/1/2019) memuji apa yang disebutnya sebagai “terobosan bersejarah dan penting” dengan negara mayoritas Muslim yang berbatasan dengan Libya dan Sudan.

Sebelumnya, presiden Chad, Idriss Deby, mengunjungi Yerusalem pada bulan November.

Netanyahu telah melakukan upaya besar untuk memperluas diplomasi negara Zionis ke Afrika dan telah mengunjungi benua itu beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir.

Kunjungannya itu adalah bagian dari kebijakan keseluruhan untuk mencari sekutu di antara negara-negara berkembang yang secara historis memihak Palestina di PBB dan forum internasional lainnya.

Chad memutuskan hubungan dengan ‘Israel’ pada tahun 1972. Ia memainkan peran penting dalam memerangi kelompok-kelompok bersenjata di Sahara.

Kunjungan Deby ke ‘Israel’ adalah yang pertama dilakukan oleh seorang pemimpin negara Afrika Tengah yang pernah memutuskan hubungan diplomatik dengan ‘Israel’

Netanyahu sebelumnya berjanji untuk memperkuat hubungan dengan benua itu dan menggambarkan janjinya sebagai “prioritas” pada konferensi keamanan regional yang ia hadiri di Liberia pada 2017.

‘Israel’ mempertahankan hubungan diplomatik dengan 32 dari 54 negara di benua itu.

Deby mengatakan kunjungannya pada November adalah yang “bersejarah” bagi kedua negara dan menurutnya “dapat memfasilitasi pergantian halaman baru dalam hubungan antara kedua pihak”. Meski demikian, ia menyadari perbaikan hubungan negaranya dengan Zionis tak akan pernah mampu menyelesaikan konflik Palestina-‘Israel’.

“Tentu saja, pembaruan hubungan diplomatik antara kami, yang sangat saya inginkan, bukanlah sesuatu yang dapat membuat masalah Palestina hilang,” kata Deby di Yerusalem.

Lobi tidak resmi antara ‘Israel’ dan Chad telah berlangsung untuk waktu yang lama, kata Deby. Satu sumber mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa kunjungan itu difokuskan pada keamanan, dan menambahkan bahwa ‘Israel’ telah memasok senjata dan peralatan kepada tentara Chad tahun ini untuk membantu memerangi pemberontak.

Chad adalah salah satu dari beberapa negara yang terlibat dalam operasi yang didukung Barat terhadap kelompok Boko Haram dan ISIL.

Wasel Abu Youssef, seorang pejabat senior Palestina, menyuarakan ketidaksenangan atas kunjungan Deby.

“Semua negara dan institusi harus memboikot pemerintah ekstremis ‘Israel’ dan memaksakan pengepungan terhadapnya karena aktivitas pendudukannya atas tanah Palestina,” kata Youssef.

Deby, salah satu pemimpin terlama di Afrika, mengambil alih negara yang gersang dan miskin itu pada tahun 1990 dan memenangkan masa jabatan kelima yang disengketakan pada April 2016. (Althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.