#10YearChallenge, hashtag perang dan malapetaka

Hashtag #10YearChallenge yang membanjiri jejaring sosial pekan ini. (Foto: Internet)
561

DOHA (Arrahmah.com) – #10YearChallenge dan #GlowUpChallenge telah menjadi viral di media sosial pekan ini, dimana jutaan orang berbagi foto saat ini yang disandingkan dengan foto yang sama satu dasawarsa sebelumnya.

Tantangan ini menyebar ganas bagai lalapan api di Facebook, Instagram, dan Twitter, termasuk para selebriti, politisi, dan influencer. Hashtag ini seolah menjadi platform untuk bagi mereka untuk menunjukkan kepada dunia apa bagaimana penampakan mereka 10 tahun yang lalu.

Sementara banyak yang dengan cepat menyebut tantangan itu hanya sebagai alasan untuk pamer dan mencari hiburan, sebagian lain juga memanfaatkan kegemaran viral untuk mengatasi masalah yang menurut mereka jauh lebih penting dan serius dari sekedar selfie.

Hashtag tersebut juga telah digunakan untuk menyoroti kehancuran yang dilakukan oleh pemerintah Arab dan kekuatan asing di beberapa negara Timur Tengah sejak Musim Semi Arab pada tahun 2011, seperti dikutip Al Jazeera pada Jumat (18/1/2019).

Rakyat di negara-negara Arab memberontak dengan hasil beragam setelah protes yang meletus terhadap rezim otokratis di Tunisia, Mesir, Libya, Suriah, dan Yaman.

Sementara Tunisia menghindari turun ke konflik, pemberontakan di Libya, Suriah dan Yaman berubah menjadi kekerasan dan menjadi perang saudara dengan kekuatan Eropa dan Barat sebagai aktor utama.

Ribuan gambar telah dibagikan menyoroti kehancuran yang disebabkan oleh perang, dengan beberapa pengguna menunjukkan kehancuran di Suriah sejak serangan diluncurkan terhadap Negara Islam Irak dan kelompok Levant (ISIL, juga dikenal sebagai ISIS).

ANTICONQUISTA, Partai Komunis Diaspora Amerika Latin dan Karibia, membagikan gambar situasi di Libya dengan keterangan “sebelum dan sesudah invasi Imperialis”, sebuah rujukan pada intervensi militer pimpinan NATO yang mengarah pada penggulingan penguasa Muammar Gaddafi.

Muniba Mazari, duta PBB untuk urusan perempuan Pakistan, berbagi gambar situasi Suriah, yang telah dihancurkan oleh perang delapan tahun dan menyebabkan sekitar 500.000 orang tewas.

Kelompok jurnalis warga, “Raqqa Sedang Dibantai Diam-diam”, berbagi koleksi gambar yang menunjukkan akibat dari serangan dahsyat di tempat yang sering disebut sebagai ibukota de facto ISIL.

Nadwa Dawsari berbagi foto kota tua Sana’a, yang menunjukkan situs warisan dunia UNESCO sebelum dan sesudah serangan udara koalisi Saudi-UEA.

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.