Pompeo jamin milisi Kurdi di Suriah terlindungi

Pompeo bertemu dengan para pemimpin senior Kurdi di Kurdistan setelah kunjungan ke Baghdad. (Foto: Kurdistan24)
172

BAGHDAD (Arrahmah.com) – Pejuang Kurdi di Suriah akan dilindungi dari ancaman militer Turki, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan kepada para pemimpin Kurdi di wilayah semi-otonomi Kurdistan, Rabu (9/1/2019), selama kunjungan mendadak ke Erbil.

Ia sebelumnya bertemu dengan para pemimpin Irak di Baghdad sebagai bagian dari perjalanan Timur Tengahnya dalam rangka meyakinkan para sekutu AS tentang rencana kejutan Presiden Donald Trump untuk menarik pasukan dari Suriah.

Di Irak, pejabat tinggi AS ini juga berusaha untuk memperlancar hubungan setelah para pemimpin politik marah ketika Presiden Trump mengunjungi pasukannya sehari setelah Natal tanpa berhenti di Baghdad atau bertemu dengan pejabat Irak.

Banyak politisi dari koalisi yang berkuasa terutama partai Syiah menyebut kunjungan Trump sebagai pelanggaran kedaulatan Irak dan menuntut AS menarik pasukan.

Pompeo bertemu dengan Perdana Menteri Adel Abdul Mahdi, Presiden Barham Salih, Menteri Luar Negeri Mohamed Alhakim dan Ketua Parlemen Mohamed al-Halbousi, Associated Press melaporkan pada Rabu (9/1).

Departemen Luar Negeri AS tidak segera mengomentari laporan kunjungan Pompeo ke Irak.

“Ini adalah kesempatan untuk menyatakan terima kasih kami atas dukungan yang kami terima dari Amerika Serikat selama bertahun-tahun. Tentu saja dalam perang melawan ISIS [juga dikenal sebagai ISIL], ini adalah yang paling penting,” kata Salih kepada wartawan, Selasa (8/1).

Dia menambahkan bahwa meskipun Negara Islam Irak dan Levant (ISIL) telah dikalahkan secara militer, “masih banyak yang harus dilakukan, misinya belum tercapai”.

Pada Selasa (8/1), Mahdi, sang perdana menteri, telah menolak mengonfirmasi rumor tentang kemungkinan kunjungan Pompeo. Ia hanya berdalih setiap pertemuan dengan menteri luar negeri AS akan melibatkan diskusi tentang bagaimana memperdalam hubungan Irak dengan koalisi pimpinan AS yang memerangi ISIL.

Sementara itu, Pompeo mengatakan pada konferensi pers di ibukota Yordania, Amman, pada Selasa (8/1) bahwa perjuangan untuk mengalahkan ISIL dan Iran tetap menjadi masalah yang paling mendesak di wilayah tersebut.

Pasukan AS telah bekerja dengan milisi Kurdi, yang mengendalikan petak-petak wilayah timur laut Suriah, pijakan Washington dalam konflik yang terjadi dengan Rusia, Iran, Turki, dan kekuatan regional lainnya.

Washington telah berulang kali mengatakan sekutu Kurdi akan tetap aman meskipun penarikan pasukan dilakukan. Tetapi Turki, yang menganggap milisi YPG Suriah yang didukung AS sebagai organisasi “teroris”, telah berulangkali bersumpah untuk menghancurkan kelompok tersebut.

Presiden Turki Tayyip Erdogan mengecam kunjungan Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton pada Selasa (8/1) setelah meyakinkan bahwa melindungi Kurdi akan menjadi prasyarat penarikan AS, sebuah saran yang disebut Erdogan “kesalahan serius”.

Ditanya di Erbil apakah penolakan Erdogan terkait perlindungan Kurdi membuat penarikan itu beresiko, Pompeo mengatakan kepada wartawan: “Tidak. Kami sedang berbicara dengan mereka bahkan ketika kami berbicara tentang bagaimana kami akan menjalankan ini dengan cara yang melindungi pasukan kami.”

“Kami akan menyelesaikan misi untuk menjatuhkan elemen kekhalifahan terakhir sebelum kami pergi,” tegas Pompeo.

“Sangat penting bahwa kami melakukan segala yang kami bisa untuk memastikan agar orang-orang yang bertempur dengan kami dilindungi dan Erdogan telah membuat komitmen, ia memahami itu.”

“Di mana pun kami menemukan ekstrimis dan teroris, kami siap mendukung negara apa pun yang siap mengejar mereka,” lanjutnya. “Itu termasuk Turki dan lainnya.”

Pertemuan itu datang ketika Pompeo mengambil bagian dalam tur delapan negara di Timur Tengah.

Fokus utama dari perjalanan ini adalah mempertahankan koalisi regional untuk melawan Iran, yang dituduh Washington mensponsori terorisme dan musuh utama sekutu AS, Arab Saudi dan ‘Israel’.

Pompeo juga diperkirakan akan mengunjungi Mesir, Bahrain, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Oman, dan Kuwait. (Althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.