"Saya tidak bisa bernapas", kalimat terakhir Khashoggi yang mengerikan terungkap

Khashoggi terbunuh tak lama setelah memasuki konsulat kerajaan di Istanbul pada 2 Oktober. (Foto: Getty)
332

WASHINGTON (Arrahmah.com) – “Saya tidak bisa bernapas” adalah kata-kata terakhir yang diucapkan oleh wartawan Saudi yang terbunuh Jamal Khashoggi, CNN melaporkan pada Minggu (9/12/2018), mengutip sumber yang telah membaca transkrip rekaman audio dari saat-saat terakhir sebelum pembunuhan.

Transkrip yang memperlihatkan secara jelas bahwa pembunuhan itu direncanakan, juga menunjukkan beberapa panggilan telepon dibuat untuk memberikan pengarahan tentang aksi tersebut, sumber mengatakan kepada CNN.

Pejabat Turki percaya bahwa panggilan itu dilakukan kepada pejabat tinggi di Riyadh, tambah CNN.

Khashoggi, seorang kontributor Saudi untuk Washington Post, tewas tak lama setelah memasuki konsulat kerajaan di Istanbul pada 2 Oktober.

Transkrip rekaman mengerikan itu termasuk deskripsi Khashoggi berjuang melawan para pembunuhnya, kata CNN, dan referensi suara dari tubuh wartawan pembangkang “yang dipotong-potong oleh gergaji”.

Transkrip asli disiapkan oleh dinas intelijen Turki, dan CNN mengatakan bahwa sumbernya membaca versi terjemahan dan diberi penjelasan tentang penyelidikan atas kematian wartawan itu.

Pada Minggu (9/12), Menteri luar negeri Arab Saudi sementara itu menolak tuntutan untuk mengekstradisi tersangka yang terkait dengan pembunuhan Khashoggi seperti yang diminta oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

“Kami tidak akan mengekstradisi warga kami,” kata Adel al-Jubeir pada konferensi pers di Riyadh pada akhir pertemuan puncak negara-negara Dewan Kerjasama Teluk.

Menurut Turki, 15 anggota tim Saudi dikirim ke Istanbul untuk membunuh Khashoggi.

Erdogan mengatakan perintah untuk membunuh Khashoggi berasal dari tingkat tertinggi pemerintah Saudi, tetapi bersikeras bahwa itu bukan Raja Salman.

Setelah awalnya menyangkal pembunuhan itu, Arab Saudi mengakui Khashoggi terbunuh di dalam konsulat namun menyalahkan kematiannya atas operasi “nakal”.

Meskipun ada spekulasi bahwa putra mahkota yang berkuasa memerintahkan serangan itu, termasuk laporan yang disimpulkan oleh CIA, kerajaan itu telah membantah keras bahwa dia terlibat, dan dalam beberapa pekan terakhir telah menahan 21 orang atas pembunuhan itu.

Pembunuhan itu telah merusak reputasi internasional Riyadh dan negara-negara Barat termasuk AS, Prancis, dan Kanada telah menjatuhkan sanksi terhadap hampir 20 warga Saudi. (Althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.