Akui Yerusalem ibukota 'Israel', PM Australia dikritik tetangga

Prime Minister Scott Morrison speaks to the media during a press conference at Parliament House in Canberra, Australia, October 16, 2018. AAP/Mick Tsikas/via REUTERS
333

CANBERRA (Arrahmah.com) – Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, yang pemerintahnya menghadapi pemilihan mendesak dalam empat hari, mengatakan pada Selasa (16/10/2018) bahwa Canberra terbuka untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota ‘Israel’, langkah yang memicu kekhawatiran dari pejabat Indonesia dan Palestina.

Komentar Morrison tentang pengakuan Yerusalem dan kemungkinan memindahkan kedutaan Australia di sana, tindakan yang sama seperti keputusan kontroversial Presiden AS Donald Trump pada bulan Desember, akan membalikkan kebijakan luar negeri selama puluhan tahun dan menimbulkan ketegangan dengan beberapa tetangga Asia di Australia.

Australia menandatangani kesepakatan perdagangan tahun ini dengan Indonesia, negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, di mana isu Palestina merupakan masalah sensitif dan puluhan ribu orang telah turun ke jalan memprotes keputusan Trump.

Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, berbicara pada konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki di Jakarta, menegaskan kembali dukungan Indonesia untuk solusi dua negara terhadap perselisihan Timur Tengah dan memperingatkan Australia terhadap resiko instabilitas.

“Indonesia meminta Australia dan negara-negara lain untuk mendukung pembicaraan damai … dan tidak mengambil langkah-langkah yang akan mengancam proses perdamaian dan stabilitas keamanan dunia,” kata Marsudi.

Morrison mengatakan kepada parlemen pada Selasa (16/10) dia telah berhubungan dengan Presiden Indonesia Joko Widodo untuk menjelaskan posisinya.

Sementara itu, al Maliki mengaku dirinya sangat menyayangkan jika Australia melanggar hukum internasional dan tidak menghormati resolusi Dewan Keamanan PBB.

“Mereka mempertaruhkan hubungan perdagangan dan bisnis Australia dengan seluruh dunia, khususnya (Arab) dan dunia Muslim,” katanya.

Para duta dari 13 negara Arab bertemu di Canberra pada hari yang sama (16/10) dan setuju untuk mengirim surat kepada menteri luar negeri Australia yang mengungkapkan keprihatinan mereka, kata duta besar Mesir untuk Australia, Mohamed Khairat.

Keterbukaan Morrison untuk mengakui Yerusalem dan memindahkan kedutaan Australia di sana terjadi empat hari sebelum pemilihan sela di Sydney di mana koalisi kanan-tengahnya menjalankan risiko kehilangan kekuasaannya yang lemah.

Sebelumnya Morrison mengatakan bahwa ortodoksi politik yang mendorong perdebatan tersebut menunjukkan bahwa diskusi tentang ibukota ‘Israel’ adalah hal yang “tabu”. Menurutnya, belum ada keputusan yang dibuat dan dia hanya bersikap terbuka. (Althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.