1.000 orang tertelan tanah di Petobo

Balaroa dan Petobo tertelan lumpur menyusul likuifaksi tanah akibat gempa bumi. Setelah hampir sepekan, lumpur yang diyakini mengubur ribuan rumah bersama penghuninya (Foto: AFP)
2,374

PALU (Arrahmah.com) – Sutopo Purwo Nugroho, juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan sekitar 1.000 orang mungkin terkubur di daerah yang mengalami likuifaksi di Balaroa dan Petobo, Palu, Sulawesi Tengah.

Daerah tersebut tertelan oleh lumpur sedalam tiga meter.

Operasi pencarian dan penyelamatan terhalang karena lahan masih terlalu basah untuk melakukan manuver, lansir Al Jazeera pada Jum’at (5/10/2018).

Sejauh ini di Petobo hanya ditemukan 26 korban selamat dan 48 di Balaroa.

“Kami akan terus melakukan pencarian,” ujar Sutopo.

Di Balaroa, sekitar 1.700 rumah terkubur ketika gempa menyebabkan tanah mencair, ujar Basarnas.

Korban tewas kini telah mencapai 1.550 orang dalam gempa dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah, di antara mereka adalah 34 anak yang tengah belajar di Pusat Pelatihan Alkitab di desa Jonooge, kecamatan Sigi Biromaru.

Tidak ada tanda-tanda kehidupan di bawah reruntuhan Hotel Mercure

Tim penyelamat dari Perancis yang menggunakan peralatan berteknologi canggih gagal menemukan korban selamat di bawah reruntuhan sebuah hotel di Sulawesi Tengah.

Anggota organisasi Perancis, Pompiers de I’urgence mengatakan pada Kamis (4/10) bahwa sensor tim mendeteksi keberadaan korban di reruntuhan Hotel Mercure di Palu.

Alat ini dapat mendeteksi nafas dan detak jantung, tetapi tim juga memperingatkan adanya kebocoran gas dan faktor lain yang dapat menyebabkan kesalahan.

Pada Jum’at (5/10), bagaimanapun, para penyelamat mengatakan tidak ada tanda-tanda kehidupan yang ditemukan oleh peralatan mereka dan tim bergerak ke daerah lain.

“Kemarin kami mendeteksi detak jantung dan nafas, tidak ada gerakan lain jadi itu berarti seseorang yang tidak bergerak, mungkin terjebak,” ujar Philippe Besson, presiden Pemadam Kebakaran Darurat Internasional.

“Hari ini kita tidak mendapatkan sinyal.”

Upaya penyelamatan sejak gempa dan tsunami terjadi pada Jum’at (28/9), telah sangat terhambat oleh kurangnya peralatan berat.

Juru bicara militer setempat, Muhammad Thohir mengatakan kepada AFP bahwa jumlah korban tewas telah meningkat menjadi 1.558.  (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.