Lima juta anak Yaman hadapi kelaparan

Bayi berusia 14 bulan menderita malnutrisi dan dirawat di sebuah klinik di kota Amran. (Foto: Save the Children)
149

SANA’A (Arrahmah.com) – Meningkatnya harga pangan dan turunnya nilai mata uang Yaman sebagai akibat dari konflik, membuat lebih banyak keluarga berisiko kerawanan pangan.

Tetapi ancaman lain datang dari pertempuran di sekitar kota pelabuhan Hudaidah, yang merupakan titik masuk bagi sebagian besar bantuan ke daerah-daerah yang dikuasai kelompok teroris Syiah Houtsi.

Badan amal mengatakan total 5,2 juta anak di Yaman kini menghadapi kelaparan.

Yaman telah hancur oleh konflik yang meningkat pada awal 2015, ketika Syiah Houtsi menguasai sebagian besar wilayah barat negara itu dan memaksa Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi melarikan diri ke luar negeri.

Khawatir dengan munculnya kelompok yang mereka lihat sebagai wakil Iran, Uni Emirat Arab, Arab Saudi dan tujuh negara Arab lainnya campur tangan dalam upaya untuk memulihkan pemerintah.

Perang menyebabkan keterlambatan dalam membayar gaji guru dan pegawai negeri, dengan beberapa orang tidak menerima upah selama hampir dua tahun, lansir BBC Rabu (19/9/2018).

Mereka yang dibayar harus menghadapi kenaikan harga makanan yang 68% lebih mahal daripada saat perang dimulai.

Sementara itu, Riyal Yaman telah kehilangan hampir 180% dari nilainya selama periode yang sama, menurut laporan Save the Children. Awal bulan ini, mata uang mencapai nilai terendah dalam sejarah, menempatkan beban lebih lanjut pada populasi.

“Jutaan anak tidak tahu kapan atau makanan berikutnya akan datang,” ujar kepala eksekutif Save the Children International, Helle Thorning-Schmidt.

“Di satu rumah sakit yang saya kunjungi di Yaman utara, bayi-bayi terlalu lemah untuk menangis, tubuh mereka kelelahan karena kelaparan.”

“Perang ini berisiko membunuh seluruh generasi anak-anak Yaman yang menghadapi berbagai ancaman, mulai dari bom hingga kelaparan hingga penyakit seperti kolera,” tambahnya.

Awal bulan ini, Save the Children mengatakan mereka merawat hampir 400.000 anak di bawah usia lima tahun karena kekurangan gizi parah pada tahun 2018, memperingatkan bahwa lebih dari 36.000 anak bisa meninggal sebelum akhir tahun. (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.