Myanmar terima laporan Reuters tentang pembantaian Muslim Rohingya sebagai bukti dalam kasus penahanan dua wartawan

Detained Reuters journalists Wa Lone and Kyaw Soe Oo leave in a police vehicle after a court hearing in Yangon, Myanmar May 29, 2018. REUTERS/Ann Wang - RC1D0C60E930
350

YANGON (Arrahmah.com) – Salah satu dari dua wartawan Reuters yang ditahan di Myanmar sejak Desember setelah menginvestigasi pembantaian Muslim Rohingya mengatakan “kebenaran dari apa yang kami lakukan dapat segera terungkap”, Press Gazette melansir pada Kamis (7/6/2018).

Wa Lone berbicara kepada wartawan ketika dia meninggalkan pengadilan kemarin (6/6) setelah Hakim Ye Lwin menerima artikel Reuters yang dia dan Kyaw Soe Oo kerjakan pada saat penangkapan mereka sebagai barang bukti.

Lone dan Soe Oo telah menyelidiki pembunuhan sepuluh pria Muslim Rohingya di desa Inn Din di negara bagian Rakhine, Myanmar, dan ditangkap setelah diketahui memiliki dokumen rahasia pemerintah.

Para wartawan ditahan karena dicurigai melanggar Undang-undang Rahasia Resmi pada 12 Desember tahun lalu.

Pengadilan di Yangon telah mengadakan sidang sejak Januari untuk memutuskan apakah para wartawan akan dituntut hukuman maksimal 14 tahun penjara.

Laporan khusus Reuters, yang kini telah diterima sebagai bukti, telah diselesaikan oleh dua wartawan lain dan dipublikasikan pada 8 Februari di bawah judul “Pembantaian di Myanmar”.

Pengacara Lone dan Soe Oo mengatakan kemarin bahwa artikel itu akan “membantu menjelaskan motif di belakang penangkapan para wartawan”, menurut Reuters.

Ketika dia meninggalkan pengadilan, Lone mengatakan kepada wartawan: “Pengadilan menerima cerita Inn Din sebagai bukti. Kebenaran tentang apa yang kami lakukan dapat segera terungkap.”

Pengadilan juga menerima salinan bukti artikel surat kabar yang menurut pengacara Reuters menunjukkan informasi dalam dokumen “rahasia” yang dimiliki oleh para wartawan dan telah dipublikasikan sebelum penangkapan mereka.

Mayor Aung Kyaw San, seorang ahli IT kepolisian Myanmar yang dipanggil oleh jaksa, mengatakan wartawan tidak boleh memiliki dokumen seperti itu terlepas dari apakah mereka sudah berada dipublikasi atau belum “tanpa izin dari otoritas pemerintah terkait”.

Dokumen-dokumen termasuk surat-surat pemerintah yang berkaitan dengan kunjungan ke Rakhine oleh Wakil Presiden Myanmar Myint Swe.

Zaw Aung mengatakan kepada pengadilan pekan lalu bahwa bukti yang diperoleh dari ponsel wartawan mungkin telah “ternoda”.

Dia mengatakan bahwa pesan Whatsapp berisi satu kata – “OK” – dikirim sebagai balasan kepada kepala biro Reuters di Myanmar dari telepon Lone sekitar pukul 10 malam pada hari penangkapannya.

Ponsel Lone diambil darinya oleh polisi tidak lama setelah dia dan Kyaw Soe Oo ditangkap sekitar pukul 9.10 malam.

“Itu berarti siapa pun dapat memiliki akses ke telepon seluler tersebut, sehingga apa pun bisa terjadi,” kata pengacara kedua, Khin Maung Zaw, kepada Reuters.

“Semua pesan yang mereka katakan ditemukan di ponsel mungkin tidak asli atau ponselnya mungkin sudah dimodifikasi.”

Pada bulan April, kapten polisi Moe Yan Naing menyatakan di pengadilan bahwa polisi Myanmar diberitahu untuk memberikan “dokumen rahasia” kepada para wartawan di sebuah restoran untuk “menjebak” mereka dan bahwa para petugas telah diberitahu “jika anda tidak mendapatkan Wa Lone, anda akan masuk penjara”.

Lone dan Soe Oo telah menyatakan kepada keluarga bahwa mereka ditangkap setelah mereka menyerahkan beberapa kertas yang digulung di sebuah restoran oleh dua polisi yang belum mereka temui sebelumnya, dan mengundang mereka untuk makan malam. (Althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.