Berita Dunia Islam Terdepan

Muslim Ethiopia Laksanakan Puasa Dalam Kekeringan

377

Support Us

AFAR (Arrahmah.com) – Meski dilanda kekeringan akibat musim panas ekstrim, namun ummat Muslim yang tinggal di wilayah Afar di Ethiopia tetap berpuasa di bulan suci Ramadhan.

Mohammed Utban adalah seorang muslim yang tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah kecil berbentuk tenda yang berada di wilayah yang dilanda kekeringan. Ia mengatakan bahwa sebagian besar doa yang dia panjatkan adalah agar Allah menurunkan hujan di wilayah itu sehingga akan membantu orang-orang dari musibah kekeringan.

“Di bulan Ramadhan ini saya memohon kepada Allah untuk menjadi ahli syurga-Nya dan juga berdoa agar Allah mengirimkan hujan kepada kami,” katanya, sebagaimana dilansir World Buleettin.

Makanan yang tersaji bagi keluarga Utban di bulan Ramadhan hanyalah sup dan kurma, mereka tidak memiliki cukup uang untuk membeli daging.

Afar adalah salah satu wilayah yang memiliki titik terpanas di Afrika. Mayoritas penduduknya merupakan penggembala yang penghidupannya bergantung kepada hewan ternak. Para gembala di sana berupaya mendapatkan air dengan merelokasi rumah mereka setidaknya dua kali dalam setahun.

Ketika mereka mengetahui bahwa hujan turun di wilayah lain, maka mereka akan pergi ke sana dengan meletakkan tenda mereka di atas unta dan keledai mereka.

Berita Terkait

Beberapa orang yang tidak dapat pergi untuk mencari air dan tanah untuk merumput ternak mereka akan mencoba menetap di kota dengan menjual hewan mereka atau mempercayakannya kepada orang lain.

Utban (35) tinggal di sebuah desa di sekitar ibu kota negara bagian Afar, Samera, dengan dua istri dan delapan anaknya, mengatakan bahwa dia berusaha untuk beradaptasi dengan kehidupan kota dan meninggalkan gaya hidup nomadennya.

Dia bekerja sebagai petugas keamanan di salah satu kantor pemerintah. Dia bekerja selama 12 jam sehari dengan gaji sebesar 1.800 birr ($ 65), dia bermimpi untuk memiliki rumah yang telah dilengkapi listrik suatu hari nanti.

Dia mengatakan bahwa dia tidak dapat mencari nafkah dari ternaknya setelah hujan menjadi sesuatu yang langka di wilayah tersebut.

“Saya bukan lagi seorang gembala. Saya mempercayakan semua hewan ternak yang saya miliki kepada saudara laki-laki saya,” katanya.

Dia mengatakan gajinya tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Kerabat dan para tetangga membantunya dalam membesarkan anak-anaknya. Menurutnya, sulit bertahan di daerah tersebut kecuali jika mereka saling membantu satu sama lain. (Rafa/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah