Islamofobia, Buntut Dari Aksi Teror Bom

Ilustrasi wanita bercadar (Foto: NewTapanuli.com)
573

BALI (Arrahmah.com) – Teror bom kembali meresahkan masyarakat setelah beberapa bom meledak di beberapa lokasi di Jawa Timur, yang mengakibatkan korban jiwa dan luka-luka.

Dampak dari teror bom tersebut adalah munculnya stigma negatif masyarakat akan Islam dan syari’atnya terutama cadar yang kini mulai marak dikenakan oleh muslimah Indonesia. Beberapa kejadian pun bermunculan terkait kekhawatiran masyarakat akan muslimah bercadar yang ada di sekitarnya.

Sebagaimana yang terjadi kepada seorang wanita bercadar yang sedang duduk di dekat GOR Ngurah Rai, Denpasar, Bali, yang mendadak diperiksa polisi karena dicurigai membawa bahan peledak. Kepada polisi wanita tersebut mengatakan sedang beristirahat sambil mengasuh anaknya.

“Petugas kami tidak menemukan indikasi barang yang mencurigakan saat memeriksa wanita bercadar bersama anaknya yang sedang duduk sambil makan dan minum di dekat GOR itu. Dia mengaku sedang duduk beristirahat sambil mengasuh anaknya,” ujar Kabid Humas Polda Bali, Kombes Hengky Widjaya, saat ditemui di Polda Bali, Senin (14/5/2018), sebagaimana dilansir Antara.

“Saat diinterogasi petugas, wanita dan anaknya itu mengaku tidak pergi ke mana-mana dan hanya duduk di dekat parkiran halaman GOR Ngurah Rai,” ungkapnya menanggapi isu bahwa wanita tersebut bersama anaknya akan masuk ke asrama kepolisian yang berada kurang dari 50 meter dari GOR tersebut.

Terkait dengan kasus bom yang meledak di Surabaya, Hengky mengatakan bahwa pihaknya telah menambah personel lapangan dan menetapkan Bali Siaga Satu untuk mencegah aksi terorisme. Selain itu pihaknya juga melakukan pemeriksaan ketat terhadap orang maupun barang dan melakukan patroli di area vital seperti di objek wisata dan konsulat.

Pada hari yang sama, Senin (14/5) sekitar pukul 10.00 WIB, Polres Tulungagung mengamankan seorang perempuan bercadar yang turun dari bus di terminal Gayatri Tulungagung.

Kapolres Tulungagung, AKBP Tofik Sukendar membenarkan pihaknya sempat mengamankan perempuan bercadar tersebut untuk dimintai keterangan. Hal ini dilakukan karena Polres Tulungagung tidak ingin kecolongan dan lebih waspada terhadap hal-hal yang mencurigakan, sebagaimana dilansir sumber berita Radio Patria.

Namun setelah petugas menginterogasi perempuan bercadar, yang ternyata santri di salah satu pondok pesantren di Tulungagung tersebut, ia tidak membawa barang-barang mencurigakan sebagaimana dugaan polisi sebelumnya. (Rafa/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.