Tahanan: Akumulasi perlakuan tidak manusiawi oleh polisi menjadi pencetus kerusuhan di Mako Brimob

Ratusan Brimob bersenjata lengkap keluar dengan berjalan tiga baris menuju RS Bhayangkara Brimob Kelapa Dua Depok sekitar pukul 09.30 WIB pada Rabu (9/5/2018). (Foto: Tribunnews.com)
3,635

DEPOK (Arrahmah.com) – Kerusuhan yang terjadi di Rumah Tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok beberapa waktu lalu, menurut rekaman yang kami dapatkan, dipicu oleh akumulasi dari perlakuan tidak manusiawi oleh polisi.

Kerusuhan berakhir kemarin (10/5) setelah berlangsung selama kurang lebih 36 jam.

Menurut rekaman yang kami dapat, yang berisi pesan suara oleh Ustadz Aman Abdurrahman berdurasi 1 menit 58 detik, dia meminta para pengikutnya untuk melunak. Walaupun begitu, dia sendiri tidak tahu pasti apa yang sebetulnya tengah terjadi.

“Kepada Ikhwan semua, saya Aman Abdurrahman mendengar laporan yang baru. Laporan dari pihak Densus bahwa ada kekisruhan di tempat antum dan menurut laporan sementara itu karena urusan dunia sehingga terjadi hal-hal yang tidak sepatutnya terjadi,” ujar Aman Abdurrahman memulai pesannya.

“Sampai saya dapat penjelasan yang sebenarnya dari pihak antum, untuk malam ini agar meredam dulu. Dan mungkin yang bukan penghuni, agar keluar dulu dan besok lusa nanti utusan dari antum bisa minta ketemu dengan ana agar bisa menjelaskan masalah yang sebenarnya,” lanjutnya menyiratkan bahwa ia tidak mengetahui duduk permasalahan.

Ia menutup pesannya dengan mengatakan agar pengikutnya meredam keadaan.

Pesan tersebut mendapat balasan dari seseorang yang mengidentifikasikan diri sebagai Abu Qutaibah Iskandar aka Alexander, perwakilan tahanan teroris di rutan Mako Brimob. Dalam rekaman suara tersebut, ia mengungkapkan kronologi bagaimana kerusuhan bisa terjadi.

Menurut Abu Qutaibah permasalahan tersebut dipicu oleh semua permasalahan dan terakumulasi.

“Jadi ini berawal dari semua permasalahan yang sudah dikumpul-kumpul, diakumulasi oleh ikhwan-ikhwan. Dari mulai masalah pembatasan tentang hak-hak, makanan, kemudian masalah besukan dan sebagainya, Abu Qutaibah menjelaskan.

“Malam itu, sekali lagi adalah akumulasi dari kejadian yang ada. Jadi pertama adalah makanan yang diberi ummahat. Kedua, masalah besukan. Ini masalah klasik yang kami sudah peringatkan. Kami sudah bicarakan baik-baik tapi dalam prosedur pemeriksaan di depan (pos pemeriksaan) akhwat kami ditelanjangi. Itu terkadang mereka sudah pakai celana dalam, disuruh loncat jongkok. Ini dengan tujuan kalau ada barang terlarang bisa jatuh karena disuruh loncat-loncat. Ini satu hal yang tidak manusiawi menurut kami,” lanjutnya menjelaskan.

Menurut klaim Abu Qutaibah, kekisruhan meletus setelah pihak Densus melepaskan tembakan lebih dulu ke arah tahanan dan mengakibatkan salah seorang tahanan, Abu Ibrohim terluka di bagian dada.

Berikut penjelasan lengkap Abu Qutaibah dalam rekaman audio yang kami dapatkan yang memberikan jawaban kepada Ustadz Aman Abdurrahman terkait kerusuhan yang meletus di rutan mako Brimob:

Pada malam itu (saat kejadian), kami meminta Budi sebagai penanggung jawab dan atasannya, Ahmad, untuk datang. Tapi nyatanya mereka mengatakan Budi enggak bisa datang, karena jauh. Sementara akhwat yang datang dari Depok datang ke Jakarta Barat dengan jarak tidak dekat. 

Terus, untuk menyelesaikan persoalan, petugas ternyata tidak bisa datang. Harusnya ya minimal memberikan penjelasan kepada kami, supaya kami ini lega. Kalau kami bicara dengan sipir-sipir di bawah sini mereka kan tidak paham, karena mereka juga punya kebijakan yang ada tekanan dari atasan.

Nah, Budi semalam itu sudah mengatakan barang-barang yang disita dari rumah singgah akan dia masukkan. Tapi saya sekali lagi tidak bisa membendung ikhwan-ikhwan. Belum saya mau bicara dengan dia, ikhwan di sini keburu marah. 

Akhirnya terjadilah penggedoran oleh ikhwan-ikhwan ke depan. Ya kemarin itu sebenarnya bukan soal makanan yang diambil, kita minta Budi itu datang memberikan penjelasan. 

Tapi jawaban [yang kami terima], Budi enggak bisa datang karena katanya jauh. Pokoknya saya sudah mentok, saya enggak bisa membendung ikhwan-ikhwan ini, saya sudah berusaha membendung tapi insiden ini di luar dugaan saya. 

Akhirnya, semua ikhwan keluar blok. Ketika mereka sampai dengan kemarahan mereka di kantor sipir, ada petugas Densus yang mengeluarkan tembakan kemudian ikhwan kami terluka, satu orang. 

Kemudian ada lagi yang berdiri di depan itu mereka (polisi) tembak. Yang Insyaallah (dia) syahid. Itu dia Abu Ibrahim. 

Wallahu a’lam ini semua di luar dugaan kami. Jadi kalau pihak Densus menyalahkan kami, tidak bisa. Karena insiden ini tidak ada rencana sebelumnya. 

Wallahi, ini insiden yang spontan. Saya juga sudah berusaha beberapa kali menjadi mediator, jadi penyambung lidah ikhwan. Mungkin ini reaksi balik karena ikhwan kita ada yang tertembak jadi qadarullah. Di dalam juga ada Densus. Terjadilah hal-hal di luar dugaan kami.

Wallahu a’lam bishawab, inilah keterangan singkat dari ana untuk menjelaskan kronologi yang terjadi semalam.

Semalam petugas meminta saya untuk bicara tapi saya tidak mau bicara, karena saya juga sudah enggak sanggup untuk bicara. Sebab cara-cara yang saya kedepankan itu sudah saya lakukan. Saya sudah bicara dengan mereka. Tapi ini malah mengundang kemarahan ikhwan semua. 

[Diskusi dengan rekan di sampingnya]

Jadi di sini, akibat dan reaksi dari luar yang menembak duluan kami. Sekarang kami di dalam ini semua pegang senjata. Pokoknya banyak, yang kami dapatkan dari gudang-gudang yang disimpan di atas, dengan peluru-peluru yang Insyaallah cukup.

Jadi opsi ditawarkan oleh ikhwan-ikhwan adalah kita damai. Damai ini pun juga keinginan dari kepolisian. Kemudian kita mengajukan poin-poin:

Pertama, ini tutup kasus. Jadi tidak ada yang dizalimi ikhwan-ikhwan. Itu keinginan kami semua di sini setelah kami rapat.

Kedua, kami meminta ikhwan yang di Pasir Putih (Lapas Nusakambangan) diberikan kelonggaran. Karena kami mendengar berita terakhir ada laporan pelanggaran HAM di sana. Info ini didapat dari istri yang besuk ke sana. Katanya kondisi mereka sangat memprihatinkan. 

Kalau dua kesepakatan ini mentok, kami akan bicarakan lagi dengan ikhwan di sini. Kami akan rapat lagi. 

Jadi, kami menahan diri dan bertahan di dalam. Ya walaupun kami tahu Polisi sudah ada iktikad memenuhi apa yang kita inginkan, tapi ikhwan di sini berjaga. 

Mungkin ini saja keterangan dari kami, uztadz. Kami minta antum bicara karena ini adalah permintaan ikhwan semua.

Terus permintaan ikhwan agar antum berbicara di sini, entah itu antum didampingi mereka, (polisi) atau bagaimana. Yang jelas harus berbicara di depan kami. Itu yang diinginkan ikhwan semua.

Wallahu a’lam bishawab wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selang beberapa jam setelah percakapan lewat rekaman terpisah tersebut, polisi mengklaim bahwa kerusuhan berakhir. Wakapolri Komjen Syafruddin menyatakan bahwa polisi berhasil mengakhiri kekisruhan dan para tahanan teroris menyerahkan diri.

(haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.