Berita Dunia Islam Terdepan

Seorang Muslimah dipukul di hadapan anaknya dalam serangan rasis di McDonald's

288

Support Us

LIVERPOOL (Arrahmah.com) – Seorang perempuan Muslim dipukul hingga tak sadarkan diri di hadapan anaknya dalam sebuah serangan rasis yang terjadi di McDonald’s di salah satu sudut kota Liverpool, Inggris, lansir Liverpoolecho.co.uk pada Selasa (1/5/2018).

Kellie Cooke (33), menghina aksen berbicara Hamman Hamood (34) sebelum melakukan kekerasan rasis dan merebut paksa hijab yang ia kenakan dan kemudian membantingnya ke lantai.

Pengadilan setempat mendengarkan kesaksian anak Hamood yang ketakutan kemudian mengatakan kepada petugas, “Ibu sedang tidur di lantai.”

Cooke yang juga ibu dari tiga anak ini mengaku bersalah atas serangan dan pelanggaran ketertiban rasial dalam persidangan di Pengadilan Magistrat Liverpool pada Selasa (1/5).

Melanie Tomlinson, yang menuntut terdakwa, memberi tahu pengadilan bahwa Hamood tengah membeli makanan untuk keluarganya di cabang restoran Kensington sekitar pukul 20.20 pada tanggal 27 Maret, ketika ia bertemu dengan Cooke.

Tomlinson melanjutkan, “Ketika Nyonya Hamood menunggu di konter untuk memesan makanannya, dia menyadari bahwa terdakwa sedang menertawakannya.”

Berita Terkait

“Terdakwa sengaja bertanya kepada Nyonya Hamood tentang Frappucino. Nyonya Hamood mencoba menunjuk gambar yang terpajang di depan konter dan menjelaskan. Sementara itu, terdakwa terus tertawa dan mengejek cara Nyonya Hamood berbicara.”

“Cooke berpaling kepada anggota staf pengadilan dan berkata ‘dia tidak tahu apa yang dia katakan’. Cooke kemudian berkata ‘kembali ke negaramu sendiri, kamu tidak boleh memakai kain itu (hijab, Red.) di negara ini’, dan ‘mengapa Anda tidak sekalian mengenakan niqab,” tambah Tomlinson.

Pengadilan mendengar Cooke menjadi sangat agresif dan mulai meneriaki keempat anak kecil Hamood.

Korban menelepon suaminya untuk meminta bantuan, tetapi ketika dia meletakkan telepon, Cooke berusaha merenggut hijab yang ia kenakan.

Cooke ditangkap dan kemudian mengakui pelanggaran itu, tetapi tidak bisa memberikan penjelasan.

Matthew O’Neill, sang pembela, mengatakan kliennya tidak memiliki keyakinan sebelumnya dan insiden itu terjadi “di luar kesadaran”. (Althaf/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah