Tentang Serangan AS ke Suriah, Penduduk Ghautah: 'Terlalu kecil dan terlambat'

Keluarga yang terpaksa dievakuasi dari rumah mereka di kota Douma setelah para pejuang bernegosiasi dengan pemerintah Suriah (Foto: AFP)
514

Saat genderang perang ditabuh lebih keras di sebelah barat ibu kota, warga Suriah di Douma dengan cemas menunggu rombongan bis terakhir yang akan membawa mereka pergi dari rumah mereka.

Seperti ribuan orang Suriah lainnya yang telah dipaksa meninggalkan Ghautah Timur, Adnan Dahhan, pria berusia 39 tahun, memegang erat keluarganya, mereka menunggu untuk mendengar apakah AS dan sekutunya akan mulai membom sasaran rezim Suriah dalam beberapa hari atau beberapa jam mendatang.

“Jika Anda bisa melihat saya sekarang, Anda akan melihat saya hanya membawa pakaian di punggung saya,” kata Dahhan kepada MEE melalui Whatsapp. “Kami telah kehilangan segalanya. Apa yang dilakukan AS dan sekutunya terlalu kecil dan sangat terlambat.”

Jet tempur rezim Suriah telah menghentikan pemboman udara mereka di seluruh Suriah sejak serangan udara yang dilancarkan AS menghantam mereka.

Tapi Dahhan, yang lingkungannya telah dikepung dan dibom selama bertahun-tahun, mempertanyakan apakah pemboman kepada pasukan Asad akan mampu mengubah kondisi di lapangan.

“Mereka seharusnya membom rezim itu sebelum mereka mengambil alih Ghautah Timur dan memaksa kami pindah,” katanya. “Kami sudah diserang puluhan kali dengan senjata kimia, dan sekarang mereka setuju untuk mengevakuasi kami.”

Tetapi meskipun frustrasi, mantan guru dan ayah tiga anak itu menyambut baik setiap tindakan yang mungkin mampu melemahkan tentara rezim Suriah, yang telah menewaskan ribuan warga Suriah dan membuat jutaan orang kehilangan tempat tinggal dalam perang selama tujuh tahun.

“Jika serangan itu dapat mencegah serangan lebih lanjut terhadap warga sipil di Idlib, menghentikan kita dari mengungsi lagi, dan membawa kita kembali ke rumah kita, maka aku mendukungnya.”

Berbeda dengan Dahhan, Ammar, yang juga tinggal di Douma, kurang optimis. Dia kehilangan dua putranya, berusia 11 dan 12 tahun akibat serangan bom barel rezim Asad tiga minggu lalu. Dia mempertanyakan strategi di balik setiap serangan udara yang dilancarkan AS dan sekutunya.

“Saya setuju atau tidak setuju,” katanya. “Aku ingin seseorang memberitahuku apa yang akan dihasilkan dari serangan-serangan ini. Apakah kita akan melihat Asad dikeluarkan dari kursi kepresidenan, atau akankah penjahat perang ini dihakimi dan dibawa ke pengadilan?”

“Jika ini terjadi maka aku mendukung serangan Barat. Tapi jika mereka menonaktifkan kekuatan udara Asad, maka itu tidak akan berarti apa-apa. Jet Rusia terus mengebom kita kemanapun kita pergi.”

Menghentikan bom Asad di Idlib

Perhatian dunia terfokus pada Douma setelah sebuah serangan, yang dicurigai menggunakan senjata kimia dilancarkan pada 7 April, yang oleh Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) yang berbasis di Inggris, dikatakan telah menewaskan lebih dari 40 orang dan melukai puluhan lainnya.

Banyak dari mereka yang meninggalkan Ghautah Timur telah bergabung dengan ribuan warga Suriah yang terus berjalan menuju Idlib di Suriah utara, tempat pengungsi dari Aleppo Timur dan daerah lainnya yang pernah dikuasai oleh pejuang Suriah.

Namun para aktivis dan analis khawatir pasukan pro-Asad sekarang mungkin mengalihkan perhatian mereka untuk berurusan dengan wilayah yang cukup besar yang dikuasai para pejuang di dalam wilayah Suriah.

Pada bulan Maret, para pejabat senior Arab di Amman, Yordania, dan Beirut menggambarkan kondisi di Idlib sebagai “kotak pembunuhan yang dibangun dengan baik” ketika para pengungsi terus berdatangan ke daerah-daerah yang terakhir dikuasai oleh pejuang, yaitu Idlib dan Hama.

Salman Albani (29), istrinya dan bayi yang baru lahir yang awalnya tinggal di kota Saqba di Ghauta Timur, tiga minggu lalu mereka secara paksa dikirim ke Idlib setelah pejuang Suriah setuju untuk meninggalkan daerah itu.

“Ketika kami di rumah dan kami diserang, kami berharap masyarakat internasional bisa melakukan sesuatu untuk menghentikan Asad membantai kami,” katanya melalui Whatsapp dari sebuah kamp pengungsi di Idlib.

“Sekarang kita harus tinggal di kamp pengungsian dengan ribuan orang lain. Saya merindukan rumah saya.”

“Mungkin ada harapan kita bisa membangun kembali rumah kita, tanpa harus khawatir tentang bom Asad,” lanjutnya. (Rafa/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.