Berita Dunia Islam Terdepan

Lautan Kehancuran Yang Tersisa Di Ghautah Timur

742

Support Us

GHAUTAH (Arrahmah.com) – Sebuah perjalanan yang sebelum perang di Suriah meletus hanya memakan waktu 15 menit berkendara dari Damaskus kini memakan waktu lebih dari satu jam, dengan melewati tembok raksasa dan puing-puing bangunan raksasa yang berserakan di jalan. Berniat untuk mengunjungi rumahnya di kota Harasta untuk pertama kalinya dalam enam tahun, Danny Makki tidak bisa mengenalinya.

“Saya bahkan tidak tahu itu adalah jalan di depan rumah saya sampai saya mengenali supermarket di seberang rumah … tidak ada plakat, tidak ada tanda, hanya ada kehancuran,” katanya seperti dilansir Daily Sabah.

Kunjungan minggu ini yang dilakukan oleh Makki, seorang jurnalis Suriah kelahiran Inggris, memberikan gambaran yang jelas tentang kehancuran yang terjadi di Harasta, tempat para pejuang oposisi akhirnya menyerah setelah serangan udara dan darat yang begitu dahsyat dilancarkan oleh pasukan rezim Asad yang didukung oleh Rusia dengan tujuan untuk merebut kembali wilayah tersebut, Ghautah Timur yang terletak di pinggiran ibu kota Suriah.

Pihak oposisi setuju untuk meletakkan senjata mereka agar masyarakat sipil dapat dievakuasi dengan perjalanan yang aman ke Suriah barat laut yang dikuasai oposisi. Seraya ribuan pejuang disingkirkan, warga sipil Harasta telah diangkut ke pusat-pusat pemerintahan di Damaskus dan sekitarnya, mereka meninggalkan kota, yang pernah menjadi rumah bagi sekitar 35.000 penduduk, dan kini kosong dan hancur.

Harasta, yang terletak di timur laut pinggiran Damaskus, adalah salah satu daerah yang pertama bangkit melawan kekuasaan Bashar Assad pada 2011 dan segera jatuh ke tangan oposisi bersama dengan kota-kota lain di Ghautah Timur Selama enam tahun, tentara rezim Asad telah berusaha mengusir pihak oposisi dalam peperangan yang melelahkan tanpa kemenangan yang menentukan, sampai akhirnya mereka melakukan serangan yang dimulai bulan lalu. Harasta dinyatakan resmi di bawah kendali tentara rezim Suriah pada hari Jum’at (30/3/2018).

Daerah itu masih dikosongkan dari warga sipil sementara para tentara rezim bekerja untuk membersihkan bahan peledak. Tapi Makki, yang untuk sementara berbasis di Damaskus, dapat masuk sebentar pada Senin (2/4) sore untuk memeriksa rumahnya, di mana ibu dan neneknya tinggal sebelum perang.

Berita Terkait

Makki melewati stasiun air di pinggir kota yang belum lama ini merupakan zona pertempuran garis depan. Dia berjalan di atas tanah di mana tank dan truk militer menggunakannya untuk merangsek masuk ke kancah pertempuran. Langit menghitam karena asap; para penjarah membakar memo untuk mengekstrak tembaga dan logam-logam lain, itu adalah benda terakhir yang bisa dijarah dari sebuah kota di mana selama enam tahun terakhir segala sesuatu yang berharga telah dihancur tak bersisa.

Di persimpangan yang menuju ke rumahnya, deretan bus memblokir jalan, katanya. Jadi dia harus mendaki gundukan tanah setinggi 3 meter (10 kaki) yang telah dipasang sebagai penghalang di antara kedua pihak yang bertikai. Kemudian di bawah tumpukan reruntuhan telah tumbuh rumput yang begitu panjang, katanya.

“Jalanan kosong. Kota itu berubah seperti kota hantu,” katanya. Dia melewati sebuah kuburan di mana di sekitarnya terdapat banyak bangunan yang memiliki lubang-lubang menganga di dinding akibat dari ledakan.

“Bahkan orang mati pun tidak bisa lolos dari perang ini,” katanya.

Distriknya disebut Hay el-Hada’eq, atau Gardens Neighborhood. “Saya baru saja melihat jalan-jalan yang penuh dengan puing-puing, sehingga Anda bahkan tidak bisa melihat tanah pada titik tertentu,” katanya.

Ketika dia melihat supermarket dan menyadari bahwa dia ada di jalan di depan rumahnya, dia menemukan gedung apartemennya. Gedung itu tidak terlalu buruk pada sisi luarnya. Tapi saat dia masuk, dia melihat lift telah hilang. Tangga-tangga yang menghitam, ditutupi puing-puing bangunan dan kaca. Apartemen itu sendiri adalah cangkang, dinding-dinding terbuka untuk jalan di tiga sisi, lantai-lantai penuh dengan reruntuhan. Semua barang di dalamnya sudah lama hilang, bahkan pintu.

Slogan dicoretkan di dinding oleh kedua pihak yang bertikai, pasukan rezim Asad dan pejuang oposisi, menunjukkan bahwa kedua mereka telah menduduki rumah itu di waktu yang berbeda selama bertahun-tahun. (Rafa/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah