Berita Dunia Islam Terdepan

Jaisyul Islam enggan keluar dari Ghautah, Rusia dan rezim Asad ancam akan tingkatkan pemboman

1.046

Support Us

GHAUTAH (Arrahmah.com) – Rezim Nushairiyah pimpinan Bashar Asad dan sekutunya Rusia telah mengancam akan melanjutkan pemboman terhadap wilayah terakhir yang masih dikuasai oleh pejuang Suriah di Ghautah Timur, kota Douma, kecuali jika faksi pejuang di sana setuju untuk mengungsi seperti dua faksi lainnya, ujar beberapa sumber kepada AFP pada Selasa (27/3/2018).

Jaisyul Islam, faksi yang mengendalikan Douma, berharap pembicaraan dengan Moskow akan menghasilkan mereka tetap tinggal di kota, bukannya disingkirkan seperti faksi pejuang lainnya.

Namun, negosiasi telah terhenti dan Rusia menuntut penarikan penuh dari Douma.

“Pada akhir pertemuan mereka pada Senin, Rusia memberi Jaisyul Islam dua pilihan: menyerah atau menghadapi serangan,” ujar seorang sumber oposisi kepada AFP.

Rusia memberikan kelompok tersebut beberpa hari sebelum serangan militer di kota itu dimulai, lanjutnya.

Sumber tersebut mengatakan Moskow mendesak mereka untuk mengikuti Failaq Ar-Rahman, faksi lainnya yang setuju untuk mundur dari Ghautah Timur setelah tekanan militer besar-besaran yang membunuh lebih dari 1.700 orang.

Kesepakatan antara Rusia dan dua faksi lainnya diikuti dengan evakuasi lebih dari 17.000 orang termasuk pejuang dan keluarga mereka keluar dari Ghautah Timur.

Douma relatif tenang saat negosiasi berlangsung, tanpa hujan bom.

“Rusia tidak menginginkan kesepakatan untuk Douma yang berbeda dengan bagian lain dari Ghautah, tetapi Jaisyul Islam ingin tetap tinggal dan tidak ingin ada warga yang pergi,” ujar sumber tersebut.

Rusia memberi ultimatum dan menambahkan bahwa Jaisyul Islam diberi waktu hingga Kamis untuk merespon.

Al-Watan, sebuah harian pro-rezim Nushairiyah melaporkan pada Senin (26/3) bahwa pasukan Asad sudah berkumpul di sekitar Douma.

“Semua pasukan yang terlibat di Ghautah Timur sedang menuju Douma menjelang operasi militer besar-besaran jika para ‘teroris’ Jaisyul Islam tidak setuju untuk menyerahkan kota dan pergi,” lapor harian tersebut mengutip sumber militer. (haninmazaya/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Iklan