Berita Dunia Islam Terdepan

Myanmar masih menjadi tempat kembali yang tidak aman untuk Muslim Rohingya

Seorang perempuan Rohingya tengah memasak untuk keluarganya di kamp pengungsi Balukhali di dekat Cox's Bazar, Bangladesh. (Foto: AP)
174

BANGLADESH (Arrahmah.com) – Kepala badan pengungsi PBB memperingatkan bahwa kondisi saat ini masih tidak tepat bagi pengungsi Rohingya untuk kembali ke Myanmar secara sukarela karena pemerintahnya tidak mengindahkan pengecualian dan penolakan hak kewarganegaraan mereka.

“Inilah saatnya untuk mengakhiri siklus kekerasan, pemindahan paksa dan tanpa kewarganegaraan-untuk berivestasi dalam langkah-langkah nyata yang akan mulai mengatasi pengucilan yang dialami komunitas Rohingya sejak lama,” ujarnya saat pertemuan Dewan Keamanan, berbicara melalui konferensi video dari Jenewa, seperti dilansir AP.

UNHCR mengatakan ini adalah tanggung jawab pemerintah Myanmar, namun keterlibatan dan dukungan internasional adalah kunci untuk mewujudkannya.

Lebih dari 750.000 Rohingya telah diusir dari negara yang mayoritas penduduknya beragama Budha, mereka melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh. Muslim Rohingya mengalami kekerasan oleh tentara Myanmar di desa-desa mereka.

Saat ini sebagian besar Muslim Rohingya tinggal di kamp-kamp yang padat dan tidak sehat, mereka mengatakan tidak ingin kembali ke negara bagian Rakhine, Myanmar setelah melarikan diri dari kekejaman termasuk pembunuhan, pemerkosaan dan pembakaran di rumah mereka.

Rohingya yang tidak memiliki kewarganegaraan telah menjadi sasaran kekerasan komunal dan sentimen anti-Muslim yang ganas di Myanmar selama bertahun-tahun. Myanmar telah menolak kewarganegaraan untuk Rohingya sejak 1982 dan mengecualikan mereka dari 135 kelompok etnis yang diakui secara resmi, yang secara efektif membuat mereka tanpa kewarganegaraan. Mereka telah menghadapi diskriminasi dan penganiayaan dari ummat Budha Myanmar yang menyebut Rohingya sebagai “orang Bengali” dan mengklaim bahwa mereka bermigrasi secara ilegal dari Bangladesh meskipun mereka telah tinggal di Myanmar dari generasi ke generasi. (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...