Berita Dunia Islam Terdepan

Sengaja membuat Muslim Rohingya kelaparan, Myanmar mengurung Rohingya di desa-desa mereka

Seorang Muslim Rohingya yang tengah hamil, menggendong anaknya yang baru berusia 10 bulan di kamp pengungsi Thaingkhali, Bangladesh. (Foto: Daily Sabah)
610

RAKHINE (Arrahmah.com) – Selain pembantaian yang terus berlanjut, pemerkosaan dan penghancuran desa-desa secara besar-besaran oleh militer Myanmar di negara bagian Rakhine yang memaksa hampir 750.000 orang melarikan diri ke Bangladesh, kini persediaan makanan nampaknya menjadi senjata lainnya yang digunakan Myanmar untuk melawan Muslim Rohingya yang semakin berkurang.

Muslim Rohingya yang sangat dibenci oleh mayoritas Budha di Myanmar selama beberapa dekade, dikurung di desa-desa mereka, kadang-kadang bahkan di rumah mereka dan dicegah untuk bertani, memancing dan mencari makan, melakukan perdagangan atau bekerja, ujar laporan kelompok HAM. Dengan kata lain, mereka tidak bisa lagi melakukan apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan makanan, lansir Daily Sabah pada Kamis (8/2/2018).

Militer Myanmar telah mencegah Rohingya untuk pergi ke sawah, menghancurkan pasar, menjarah ternak, uang dan barang berharga dan menculik perempuan dan anak perempuan yang seringkali dijadikan objek kekerasan seksual, menurut kesaksian yang ditunjukkan dalam laporan singkat Amnesti Internasional .

“Pasukan keamanan Myanmar sedang membangun pola pelecehan yang mengakar untuk secara diam-diam mengusir keluar sebanyak mungkin dari Rohingya yang tersisa,” ujar Matthew Wells, penasihat krisis senior di Amnesti Internasional, dalam sebuah pernyataan pers seperti dilansir DPA.

“Tanpa tindakan internasional yang lebih efektif, kampanye pembersihan etnis ini akan melanjutkan perjalanannya yang berbahaya.”

Menurut wawancara dengan pengungsi yang baru tiba di Bangladesh, sebuah kampanye kelaparan, penjarahan, dan penculikan oleh militer Myanmar pada bulan Desember dan Januari telah mendorong puluhan Rohingya melarikan diri dari rumah mereka.

Puluhan pengungsi baru diwawancarai oleh Associated Press, menunjukkan keputusasaan, saat cengkeraman terus diperketat terhadap komunitas mereka.

Sementara pembatasan kebebasan gerak dan akses terhadap makanan telah lama diberlakukan, hal itu diperketat secara dramatis dalam beberapa pekan terakhir, wawancara AP menunjukkan.

Rohingya yang tidak diakui sebagai warga negara oleh Myanmar, telah menjadi sasaran kekerasan komunal dan sentimen anti-Muslim yang ganas di Myanmar yang mayoritas penduduknya beragama Budha selama bertahun-tahun. Myanmar telah menolak memberikan kewarganegaraan untuk Rohingya sejak 1982 dan mengecualikan mereka dari 135 kelompok etnis yang diakui secara resmi. (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...