Berita Dunia Islam Terdepan

Innalillahi, hampir 200 sipil gugur dalam serangan udara di Idlib dan Ghautah

Peta Ghautah Timur. (Foto: Al Jazeera)
253

IDLIB (Arrahmah.com) – Jumlah korban tewas di wilayah Ghautah Timur dan Idlib, Suriah, telah meningkat menjadi setidaknya 180, saat rezim Nushairiyah dan pasukan Rusia meningkatkan serangan udara mereka ke daerah yang dikuasai pejuang Suriah, untuk hari keempat.

Sedikitnya 34 sipil termasuk 12 anak dan perempuan, terbunuh di Ghautah Timur, wilayah yang dikepung yang terletak dekat ibu kota Damaskus, pada Rabu (7/2/2018), menurut laporan kelompok pemantau dan aktivis Suriah.

Empat lainnya gugur di provinsi Idlib, yang menjadi target serangan kimia baru-baru ini.

Serangan rezim yang didukung oleh angkatan udara Rusia telah berlangsung di daerah tersebut sejak pertengahan Desember, namun Idlib dan Ghautah Timur menyaksikan bombardir mematikan dalam empat hari terakhir setelah jet tempur Rusia ditembak jatuh dan satu pilotnya tewas pada Sabtu (3/2).

“Orang-orang di sini yakin Rusia membalas dendam setelah pesawatnya ditembak jatuh oleh pejuang dan pilitnya terbunuh,” ujar Hazem Shami, aktivis oposisi yang berada di wilayah Ghautah Timur, mengatakan kepada Al Jazeera.

“Ini adalah pemboman yang intensif. Setidaknya 800 orang terluka, beberapa di antaranya sangat serius dan mereka tidak dapat diobati di sini.”

Sebuah pencarian untuk korban selamat yang terjebak di reruntuhan sedang berlangsung oleh unit Pertahanan Sipil atau yang juga dikenal dengan sebutan White Helmets.

Warga dan aktivis menggambarkan kerusakan dan penderitaan manusia di lapangan.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), sebuah kelompok pemantau yang berbasis di Inggris, mengatakan bahwa Selasa (6/2) menjadi hari paling mematikan sejak serangan kimia pada April tahun lalu di Khan Sheikhoun, provinsi Idlib yang membunuh sekitar 80 orang.

Dua daerah yang menjadi sasaran serangan udara tersebut sebenarnya masuk ke dalam zona “de-eskalasi” yang disepakati tahun lalu, di mana tindakan agresi dilarang.

Kesepakatan itu dimaksudkan untuk mengakhiri kekerasan dan memberikan keamanan kepada warga sipil, namun tidak diimplementasikan. (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...