Berita Dunia Islam Terdepan

Pengamat: Operasi Turki di Afrin bisa berhadapan dengan pasukan AS

Presiden A.S. Donald Trump (kiri) menyambut Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Gedung Putih di Washington D.C., Amerika Serikat, pada tanggal 16 Mei 2017. (Xinhua)
1,268

ANKARA (Arrahmah.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Ahad (28/1/2018) berjanji akan membersihkan perbatasannya dengan Suriah dari teroris, sebuah langkah yang dapat meningkatkan risiko kemungkinan konfrontasi antara tentara Turki dan A.S. di negara yang dilanda perang tersebut, kata pengamat setempat.

Wakil Perdana Menteri Turki dan juga juru bicara pemerintah Bekir Bozdag mengatakan pada Senin, pada hari ke 10 serangan Turki, bahwa pasukan A.S. akan menjadi sasaran jika mereka berbaur dengan milisi Kurdi.

Namun, dia menilai risiko konflik tatap muka sebagai “kemungkinan kecil” dalam operasi besar yang diluncurkan pada 20 Januari oleh tentara Turki dan Tentara Pembebasan Suriah (FSA) untuk mendorong milisi Kurdi keluar dari Suriah utara.

Milisi Kurdi, yang dilarang oleh Ankara, telah bersekutu dengan pasukan A.S. dalam pertempuran melawan ISIS.

“Bentrokan militer antara Turki dan Amerika Serikat di Suriah akan mengakhiri NATO, aliansi militer yang mana kedua negara tersebut merupakan anggota, kata Ersan Sen, seorang profesor hukum di Universitas Marmara Istanbul dalam sebuah acara talk show, lansir Xinhuanet.

Sen menekankan bahwa Turki memperjuangkan keamanan nasionalnya di Suriah melawan milisi Kurdi dari Unit Perlindungan Rakyat (YPG), yang dianggap sebagai teroris dan dicurigai membentuk sebuah negara de facto di perbatasan Turki, di tengah gejolak dan ketidakpercayaan antara kedua negara anggota NATO tersebut.

Komentar tersebut datang di tengah pernyataan terbaru dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang berjanji akan membersihkan seluruh wilayah perbatasan Turki sepanjang 900 km dari YPG, sebuah sinyal bahwa serangan Turki di wilayah Afrin yang dikuasai Kurdi dapat diperpanjang hingga sejauh 100 km ke timur ke kota Manbij dimana Pasukan Khusus AS ditempatkan.

Berbicara kepada anggota Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa di Turki, Erdogan mengabaikan seruan AS untuk membatasi serangannya, dengan mengatakan bahwa kota berikutnya yang menjadi target setelah daerah kantong Kurdi di Afrin, adalah Manbij. Hal ini bisa meningkatkan kemungkinan Pasukan AS terlibat dalam pertarungan antara Turki dan Kurdi Suriah.

Pada Ahad, beberapa hari setelah terseret lumpur dan cuaca buruk di daerah pegunungan, Turki mengintensifkan Operasi Cabang Zaitunnya, merebut Pegunungan Barsaya yang strategis di dekat kota perbatasan Azaz, ungkap Angkatan Bersenjata Turki.

Pengumuman berulang dari pejabat pemerintah di Turki yang akan memperluas serangan ke Manbij telah menambahkan bahan bakar ke dalam api dan bahkan Turki mendesak Amerika Serikat untuk “segera menarik” personilnya dari sana.

“Kami akan menyingkirkan Manbij dari teroris, seperti yang kami janjikan sebelumnya. Pertarungan kami akan berlanjut sampai tidak ada teroris yang tersisa hingga ke perbatasan kami dengan Irak,” kata Erdogan kepada anggota AKP. Dia mengatakan bahwa operasi tersebut akan mencegah milisi Kurdi membentuk wilayah otonom dan mencapai Mediterania.

Presiden Turki berjanji bahwa setelah membangun zona aman, operasi tersebut akan membasmi milisi Kurdi dan membangun kembali infrastruktur dan institusi di wilayah tersebut.

Serangan Turki diluncurkan beberapa hari setelah Sekretaris Negara A.S. Rex Tillerson meluncurkan strategi kontroversial untuk membentuk sebuah pasukan perbatasan yang dipimpin Kurdi di Suriah.

Beberapa pakar meyakini bahwa konflik yang lebih besar akan muncul jika Erdogan memutuskan untuk mengirim pasukannya ke Manbij, yang dibebaskan dari ISIS pada tahun 2016.

(ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...