Berita Dunia Islam Terdepan

Ledakan bom kembar di Benghazi bunuh 33 orang termasuk petinggi militer LNA

Pengungsi terlihat ditempat penampungan di Bneghazi, Libya. (Foto: Flickr)
566

BENGHAZI (Arrahmah.com) – Ledakan dua bom mobil di kota Benghazi, timur Libya pada Selasa (23/1/2018) telah menyebabkan sedikitnya 33 orang tewas dan puluhan lainnya terluka, termasuk tokoh keamanan senior dan warga sipil.

Ledakan kembar tersebut menghancurkan ketenangan yang baru berlangsung selama beberapa waktu di kota terbesar kedua di Libya, yang menyaksikan lebih dari tiga tahun peperangan sejak 2014 sampai akhir tahun lalu.

Ledakan pertama terjadi di luar sebuah Masjid di pusat distrik Al Salmani, Benghazi, saat para jamaah telah selesai melaksanakan sholat Subuh. Sekitar 10 sampai 15 menit kemudian, setelah petugas keamanan dan kesehatan tiba di tempat kejadian, ledakan kedua yang lebih dahsyat terjadi, dari sebuah mobil Mercedes yang diparkir di seberang jalan, menghantam ambulans dan menyebabkan jumlah korban yang lebih tinggi, lansir MEMO pada Rabu (24/1).

Salah satu dari mereka yang terbunuh adalah Ahmad Al-Feitouri dari unit investigasi dan penangkapan. Seorang pejabat intelijen senior, Mahdi Al-Fellah, termasuk di antara 50 orang yang terluka, ujar beberapa pejabat.

Korban juga termasuk warga sipil, di antaranya seorang warga Mesir yang bekerja di sebuah toko sayuran di depan Masjid. Pejabat kesehatan mengatakan jumlah korban bisa meningkat karena beberapa orang yang terluka dalam kondisi kritis.

Tidak jelas siapa yang bertanggung jawab dalam serangan tersebut.

Pasukan yang setia kepada komandan Khalifa Haftar yang berbasis di timur Libya, menguasai Benghazi setelah pertempuran kota yang meluas melawan kelompok Islam dan faksi lainnya yang meninggalkan beberapa bagian kota menjadi reruntuhan.

Ada beberapa pemboman yang menargetkan tokoh yang terkait dengan Tentara Nasional Libya (LNA) pimpinan Haftar, namun jumlah korban tewas pada Selasa jauh lebih tinggi dari biasanya.

LNA mengklaim kemenangan di Benghazi pada Juli lalu, namun bentrokan sporadis tetap terjadi sampai bulan lalu, ketika mengambil penuh kontrol atas kota itu.

Mereka memberlakukan kontrol militer yang ketat di Benghazi dan beberapa daerah lain di timur Libya.

Pertempuran di Benghazi adalah bagian dari konflik yang lebih luas yang berkembang di Libya setelah mantan diktator Muammar Qaddafi digulingkan dari kekuasaan dan tewas dalam pemberontakan pada 2011.

Kini negara tersebut terbagi dalam dua kekuasaan antara pemerintah yang diakui secara internasional yang berkuasa di ibu kota Tripoli dan pemerintahan timur yang bersekutu dengan LNA Haftar. (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...