Berita Dunia Islam Terdepan

Dampak perang, 2 juta orang Suriah alami gangguan psikologis

Tahun-tahun perang yang keras di Suriah masih membayangi setiap rumah di Suriah. (Foto: Zaman Alwasl)
297

DAMASKUS (Arrahmah.com) – Perang sengit di Suriah tidak meninggalkan siapa pun tanpa efek serius pada kejiwaan mereka. Kematian mungkin adalah yang paling sedikit efeknya, seperti yang dikatakan beberapa orang Suriah, karena mereka yang telah meninggal telah mengakhiri siksaan mereka dan jiwa mereka telah dipegang oleh sang Pencipta. Namun mereka yang masih hidup, efek perang terus dirasakan saat mereka harus menghadapi kehilangan dan pengungsian.

Mayoritas orang Suriah telah terpapar dengan gangguan psikologis. Orang-orang Suriah yang tinggal di dalam Suriah hidup di bawah teror dan ketakutan akan penangkapan atau terbunuh dengan penembakan acak serta ketakutan bahwa anak laki-laki mereka akan diambil untuk mengikuti wajib militer atau anak perempuan mereka dilecehkan atau diperkosa. Kehidupan di Suriah menjadi tak terkendali setelah jatuhnya sistem moral dan penyebaran milisi mafia [Syiah] yang mengendalikan semua kemampuan dan sendi negara.

Bagi mereka yang berada di luar negeri, mereka mengalami pengalaman lain, seperti merasa khawatir dengan mereka yang tertinggal di rumah, atau bagaimana mengelola kehidupan baru mereka, atau panik dengan tradisi masyarakat baru, kebanyakan dari mereka takut kehilangan anak-anak mereka secara moral dan fisik.

Tidak ada studi yang akurat atau angka nyata menyenai jumlah orang yang terkena dampak perang secara psikologis. Fakta yang dikatakan oleh orang-orang yang datang dari Damaskus dan provinsi lainnya tidak lain adalah pengamatan orang-orang di depan mereka yang ditemui di taman umum dan jalanan, masing-masing memiliki sebuah cerita untuk diceritakan. Juga ketakutan psikologis yang dialami keluarga yang sebelumnya tidak ada. Ketakutan ini menyebabkan konflik di dalam keluarga. Orang Suriah tidak bisa lagi merasa aman di mana saja baik di rumah maupun di tempat lain.

Surat kabar pro-rezim Asad, Tishreen, berbicara tentang angka yang memperkirakan bahwa terdapat dua juta pasien psikologis di Suriah selama tujuh tahun perang, mengutip pernyataan Direktur Kesehatan Mental di Kementerian Kesehatan rezim Asad. Angka ini tidak bisa diverifikasi dan lebih mendekati spekulasi namun jumlahnya bisa jauh lebih besar dari yang dikatakan pejabat rezim.

Pejabat kesehatan masyarakat mengonfirmasi bahwa pusat-pusat kesehatan yang dikerahkan menangani hampir 150.000 kasus di tahun 2017, terlepas dari lemahnya pengalaman dan jumlah rumah sakit yang telah hancur atau tidak adanya sarana untuk pengobatan, dan langkanya fasilitas kesehatan mental di Suriah. Di Damaskus, Rumah Sakit Ibnu Sina adalah satu-satunya rumah sakit yang mengkhususkan diri pada kesehatan mental.

Mengenai bagaimana orang-orang Suriah mengomentari berita ini, sebuah artikel diterbitkan ulang di Damascus Now dan komentarnya berkisar dari sinisme hingga kesedihan atas apa yang terjadi pada mereka.

Beberapa alasan di balik penyebaran penyakit kejiwaan adalah tekanan pada semua aspek kehidupan. Seorang warga Suriah berkomentar: “Ini menjadi normal sejak ada tekanan dalam segala hal baik situasi ekonomi maupun gaji rendah dan pencurian yang meluas di siang dan malam hari,” seperti dilaporkan Zaman Alwasl pada Ahad (21/1/2018).

Yang lain berkomentar bahwa ketidakadilan adalah yang membuat orang marah. Yang lain mengatakan bahwa penyakit tersebut tidak dapat dikaitkan dengan satu alasan saja, karena krisis terjadi di seluruh segi baik sosial, ekonomi dan lainnya.

Salah satu dari mereka mencemooh, mengatakan bahwa tidak ada dokter karena para dokter dibawa ke wajib militer atau menjadi gila.

“Rezim totaliter sosialis adalah penyebab trauma psikologis dan kegilaan. Semua msayarakat sosialis yang hidup bertahun-tahun di bawah sosialisme adalah pasien psikologis dan vampir,” ujar salah satu komentar terkait pemberitaan tersebut. (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...