Berita Dunia Islam Terdepan

Ketegangan meningkat di kamp pengungsi Rohingya terkait rencana pemulangan ke Myanmar

Anak-anak Rohingya di kamp pengungsi Balukhali, sekitar 30 km dari Cox's Bazar, Bangladesh. (Foto: AP)
293

DHAKA (Arrahmah.com) – Ketegangan meningkat pada Ahad (21/1/2018) di kamp pengungsi di Bangladesh yang menampung ratusan ribu Muslim Rohingya terkait operasi untuk mengirim mereka kembali ke Myanmar, dari tempat mereka melarikan diri setelah tindakan keras militer Myanmar.

Puluhan pengungsi berdiri memegang spanduk kain yang menentang proses pemulangan saat Pelapor Khusus PBB Yanghee Lee mengunjungi kamp-kamp di sepanjang perbatasan Bangladesh-Myanmar akhir pekan lalu. Beberapa pemimpin pengungsi mengatakan bahwa pejabat militer Bangladesh mengancam akan merebut kartu jatah makanan mereka jika mereka tidak kembali.

Berdasarkan sebuah kesepakatan yang ditandatangani pekan lalu, Myanmar akan menerima pengungsi Rohingya dari Bangladesh di dua pusat penerimaan dan sebuah kamp sementara di dekat perbatasan bersama mulai Selasa dan akan berlanjut hingga dua tahun ke depan, lansir Reuters.

Para pengungsi menolak untuk kembali kecuali keselamatan mereka dapat dijamin dan Myanmar mengabulkan tuntutan mereka untuk diberi kewarganegaraan dan dimasukkan ke dalam daftar etnis minoritas yang diakui.

Mereka juga meminta agar rumah, Masjid dan sekolah-sekolah mereka yang dibakar atau rusak dalam operasi militer dibangun kembali.

Lebih dari 655.500 Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh setelah militer Myanmar melakukan operasi di bagian utara negara bagian Rakhine. PBB menggambarkan operasi tersebut sebagai pembersihan etnis Rohingya.

Para tetua Rohingya mengatakan kepada Reuters bahwa pejabat militer Bangladesh telah memanggil atau bertemu mereka selama dua hari terakhir, meminta mereka untuk menyiapkan daftar keluarga dari kamp mereka untuk dipulangkan.

“Ketika kami mengatakan bahwa kami tidak dapat menyediakan daftar karena orang-orang belum siap untuk kembali, mereka meminta kami untuk membawa kartu WP mereka,” ujar Musa, seorang pemimpin di kamp Gungdum pada Sabtu (20/1), mengacu pada kartu bantuan yang diberikan oleh Program Pangan Dunia PBB.

Namun, juru bicara militer Bangladesh mengelak dan mengatakan bahwa ia tidak mengetahui ada tentara yang mengancam akan mengambil kartu makanan.

Ratusan pengungsi mengantri di pusat bantuan di setiap kamp setiap pagi untuk mengambil makanan dengan menggunakan kartu tersebut. Pusat-pusat ini dikelola oleh tentara Bangladesh.

Badan pengungsi PBB, UNHCR telah berulang kali mengatakan bahwa pemulangan Rohingya harus bersifat sukarela.

“UNHCR belum menjadi bagian dari diskusi (pemulangan) sampai saat ini, namun telah menawarkan dukungan untuk terlibat dalam proses tersbut untuk memastikan bahwa suara pengungsi didengar,” ujar Caroline Gluck mengatakan melalui email pada Sabtu (20/1). (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...