Profesor Turki: Saatnya bagi sekretaris jenderal PBB adalah Muslim

Salah seorang pembicara menyampaikan presentasinya pada Dialog Keamanan Internasional Putrajaya (PISD) 2018 di Hotel Marriot, Putrajaya, Malaysia, pada 5 Januari 2018. (Foto: Media Prima)
544

KUALA LUMPUR (Arrahmah.com) – Seorang tokoh terkemuka dari sebuah negara Muslim harus diangkat sebagai sekretaris jenderal PBB untuk menjamin perdamaian dan kesatuan negara-negara Islam, terutama di Timur Tengah, demikian diungkapkan oleh profesor senior Teknik Universitas Timur Tengah, Prof Dr Huseyin Bagci, dikutip media pada Jum’at (5/1/2018).

Bagci melanjutkan bahwa seorang perwakilan Muslim di kursi pengemudi PBB juga akan membantu negara-negara Islam menyuarakan pandangan mereka, terutama yang berasal dari Timur Tengah yang menghadapi konflik dan masalah “terorisme”.

“PBB tidak mencerminkan realitas dunia. Tak satu pun anggota permanen akan melepaskan posisi istimewa mereka hanya karena dunia Islam menginginkan ini.”

“Harus ada kemauan politik oleh negara-negara yang merupakan anggota tetap PBB,” tukasnya.

“Harapan saya dalam jangka panjang adalah meminta seseorang dari dunia Islam untuk menjadi sekretaris jenderal PBB. Saya akan menyarankan agar mantan presiden Turki Abdullah Gul memegang jabatan ini,” katanya kepada wartawan setelah menyampaikan presentasinya di Putrajaya International Security Dialog (PISD) 2018 di Hotel Marriot, Malaysia.

Bagci merujuk ke Dewan Keamanan PBB yang tidak memiliki satu perwakilan pun dari negeri-negeri Islam. Lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB adalah Cina, Perancis, Rusia, Inggris dan Amerika Serikat.

Menurutnya, perwakilan dari negeri-negeri Islam di PBB dapat mengubah perspektif dunia tentang Islam.

“Jika ini terjadi, dunia tidak akan lagi menolak fakta bahwa tuntutan dunia Islam meningkat. Tidak masalah apakah ini dalam arti memerangi terorisme, menegakkan demokrasi, pembangunan atau untuk perdamaian dan kemakmuran masa depan.”

“Kami memiliki 1,5 miliar Muslim di dunia tapi mereka tidak terwakili (di PBB), ini tentu saja bukan hal yang baik,” katanya.

Sebelumnya, Bagci menyampaikan ceramahnya pada sesi pleno pertama yang berjudul ‘Islam sebagai alat moderasi dan keamanan’.

Dalam ceramahnya, Bagci mengatakan bahwa Turki telah menghabiskan sekitar USD 200 miliar untuk memerangi terorisme. 

“Kami telah memerangi Partai Pekerja Kurdistan (PKK) selama lebih dari 40 tahun. Kami telah kehilangan lebih dari 42.000 orang termasuk warga sipil dan tentara.”

“Terorisme memang merupakan masalah besar bagi negara manapun karena hal itu mempengaruhi ekonomi, demokrasi, infrastruktur dan pendidikan.”

“Jumlah uang sebanyak itu bisa dihabiskan untuk hal lain seperti pendidikan, perawatan kesehatan dan transportasi. Peradaban di Turki akan lebih baik lagi,” katanya. (althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.