Berita Dunia Islam Terdepan

Kondisi kemanusiaan memburuk di Ghautah Timur

Ghautah Timur, daerah pinggiran Damaskus, Suriah. (Foto: Anadolu)
597

Serangan rezim yang sedang berlangsung di Ghautah Timur Suriah, sebuah daerah di pinggiran Damaskus, mengubah kehidupan warga sipil di daerah tersebut menjadi mimpi buruk tanpa akhir.

“Hidup di bawah pengepungan adalah mimpi buruk,” ujar Abu Muhammad, seorang penduduk Ghautah Timur mengatakan kepada Anadolu Agency.

“Sangat sulit untuk menemukan pekerjaan yang layak dalam keadaan seperti ini,” ujarnya.

Abu Muhammad telah kehilangan istrinya dalam serangan oleh pasukan rezim Asad di daerah tersebut.

“Anak saya Karim baru berumur satu bulan saat istri saya menjadi martir,” ungkapnya.

Iya mengatakan bahwa bayinya juga kehilangan satu mata dan menderita luka di kepala dalam serangan itu. Bayinya kini dirawat oleh saudara kandungnya.

Um Ahmad, yang selamat dari serangan di mana ibu Karim terbunuh, mengatakan bahwa tembakan artileri telah menyebabkan kematiannya.

“Tak lama setelah kami meninggalkan rumah, sebuah roket menghantamnya. Ledakan itu membuat kami terlepar, ketika saya sadar, saya terbangun dan melihat tubuhnya [ibu Karim] berkeping-keping,” ujarnya.

“Situasi kami di sini sangat mengerikan, obat terlalu mahal dan kami tidak mampu membelinya. Sangat sulit juga untuk ditemukan, suami saya telah mencoba untuk mendapatkan obat-obatan, namun tidak bisa ditemukan,” ungkapnya.

Um Ahmad mengatakan telah menjadi sangat sulit untuk menemukan makanan di wilayah yang terkepung

“Situasi semakin memburuk, anak-anak saya belum makan apapun sejak kemari,” katanya.

“Kami mendapatkan dua kilo gandum kemarin di mana kami membuat roti dan memberi makan anak-anak kami. Hari ini kami tidak punya makanan,” ujarnya sambil terisak.

Rumah bagi sekitar 400.000 warga sipil, Ghautah Timur dikepung oleh pasukan rezim sejak Desember 2012. Wilayah yang terkepung tersebut berada dalam jaringan zona “de-eskalasi” namun serangan demi serangan terus menggempur wilayah tersebut.

Sejak perang pecah di Suriah pada 2011, pengepungan dan kelaparan telah digunakan sebagai alat perang. Menempatkan kota-kota yang dikepung terputus akses untuk mendapatkan makanan, obat-batan dan menyulitkan penyedia bantuan kemanusiaan untuk menjangkau penduduk sipil yang terjebak yang tidak diizinkan untuk meninggalkan kota. (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...