Ketika Umar bin Khattab Dikira “Pelayan” Demi Al Aqsa

A3
1,665

JAKARTA (Arrahmah.com) – Penulis dan Da’i Ustad Felix Siauw ketika memulai orasinya dalam ‘Indonesia Bersatu Bela Palestina’, dia mengangkat kisah inspiratif tentang Umar bin Khattab dan pelayannya ketika menuju Syam, Yerussalem, untuk menerima kunci Baitul Maqdis dari Uskup Sophronius.

“Ketika Umar bin Khaththab r.a mengadakan perjalanan ke Syam, ia bergantian menaiki kendaraan dengan budaknya”, tuturnya.

Setelah mengendarai unta sejauh satu farsakh sementara budaknya memegangi tali kekang unta itu, Umar turun dan menyuruh budaknya untuk menaiki unta. Bergantian, Umar yang memegangi tali kekangnya dan dituntunnya sejauh satu farsakh. Begitulah mereka berdua melakukannya. Sampai ketika dekat Syam, tibalah giliran budak itu yang menaiki unta, sedang Umar yang memegangi tali kekang unta.

Umar mendapati air dijalan sehingga dia menceburkan diri ke air sambil memegangi tali kekang unta itu. Kedua sandalnya digantungnya dipundak kirinya.

Abu Ubaidah bin Al Jarah yang menjadi gubernur Syam datang menyambut seraya berkata:” Wahai Amirul Mukminin, para pembesar Syam sedang berdatangan menyambutmu. Tidak baik kiranya jika mereka melihatmu dalam keadaan seperti ini”.

Umar menjawab: “Allah memuliakan kita dengan Islam. Aku tidak peduli dengan perkataan orang”.

Di pintu gerbang kota Yerusalem, Khalifah Umar disambut Patriarch Yerusalem, Uskup Agung Sophronius, yang didampingi oleh pembesar gereja, pemuka kota, dan para komandan pasukan Muslim.

Para penyambut tamu agung itu berpakaian berkilau-kilauan, sedang Umar hanya mengenakan pakaian dari bahan yang kasar dan murah.

Saat Sophronius melihat kesederhanaan Umar, dia menjadi malu dan mengatakan, “Sesungguhnya Islam mengungguli agama-agama manapun.”

Sejak saat itu, Al Aqsa menjadi milik kaum Muslimin, dan tanah syam dan tanah Baitul Maqdis menjadi milik kaum Muslimin, dan terus menerus menjadi milik kaum Muslimin dan dijaga dari masa ke masa, pungkas ustadz Felix.

(ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.