Berita Dunia Islam Terdepan

Konvoy bantuan kemanusiaan memasuki pinggiran Damaskus untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir

Penduduk Ghautah menggelar aksi unjuk rasa di depan konvoy PBB. "Kami tidak ingin bantuan, kami ingin dihentikannya pengepungan oleh pasukan Asad". (Foto: Zaman Alwasl)
587

GHAUTAH (Arrahmah.com) – Sebuah konvoy dari badan PBB dan Palang Merah Suriah Arab memasuki kota-kota di pinggiran Damaskus, Ghautah yang terkepung, pada Senin (30/10/2017), membawa bantuan untuk 40.000 orang untuk pertama kalinya sejak
Juni 2016.

Pengepungan ketat oleh pasukan rezim Nushairiyah pimpinan Bashar Asad telah mendorong orang-orang ke ambang kelaparan di pinggiran timur, penduduk dan pekerja bantuan mengatakan pada pekan lalu, membawa keputusasaan di satu-satunya wilayah yang tersisa yang dikuasai oleh pejuang Suriah di dekat ibukota, lansir Zaman Alwasl.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan di akun Twitter bahwa mereka memasuki kota Kafr Batna dan Saqba.

Palang Merah Suriah Arab mengatakan dalam pernyataan terpisah bahwa konvoy antar-lembaga memiliki 49 truk.

Mereka membawa makanan, nutrisi dan barang-barang kesehatan untuk 40.000 orang yang membutuhkan, ujar juru bicara OCHA, Jens Laerke.

“Terakhir kali kami menjangkau dua lokasi ini pada Juni 2016,” ujarnya.

Seorang juru bicara di Saqba mengatakan konvoy tersebut melepaskan muatan dengan sembilan truk berisi makanan, termasuk susu dan selai kacang dan empat truk berisi obat-obatan dan keperluan medis.

“Bantuan lebih lanjut untuk melengkapi pengiriman hari ini direncanakan dalam beberapa hari mendatang,” ujar Laerke.

Seidkitnya 1.200 anak yang tinggal di Ghautah Timur mengalami kekurangan gizi, dengan 1.500 lainnya berisiko, ujar juru bicara badan anak-anak PBB, UNICEF pada pekan lalu.

Makanan, bahan bakar dan obat-obatan pernah melintasi garis depan pinggiran Damaskus melalui jaringan terowongan bawah tanah. Namun awal tahun ini, sebuah serangan oleh tentara rezim telah memutus rute penyelundupan yang menyediakan jalur kehidupan bagi sekitar 300.000 orang di daerah yang terkepung di sebelah timur ibukota. (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...