Berita Dunia Islam Terdepan

250.000 pengungsi Aleppo hidup dalam penderitaan saat musim dingin hampir datang

Pengungsi Suriah di wilayah Aleppo utara tidak memiliki persiapan dalam menghadapi musim dingin. (Foto: Zaman Alwasl)
581

ALEPPO (Arrahmah.com) – Dengan musim dingin yang hampir menghampiri, seperempat juta pengungsi terus menderita karena kekurangan pasokan kebutuhan dasar, tempat berlindung dan selimut di daerah yang dikuasai oleh pejuang Suriah di Aleppo
utara.

Warga pengungsi di wilayah tersebut hanya bisa menunggu organisasi-organisasi dan pejabat kamp untuk mempersiapkan diri menghadapi musim dingin dengan menyediakan pemanas yang akan memungkinkan mereka bertahan dalam masa-masa sulit beberapa
bulan ke depan, lansir Zaman Alwasl pada Kamis (19/10/2017).

Bagi banyak pengungsi, penantian ini akan semakin lama mengingat meningkatnya jumlah orang yang tiba di kamp-kamp yang melarikan diri dari pertempuran di daerah Jizera.

Manajer kamp dan organisasi kemanusiaan yang beroperasi di wilayah tersebut mengatakan abhwa tidak ada satu pun dari mereka yang mulai mempersiapkan musim dingin yang akan datang, juga tidak ada rencana apapun dalam jangka pendek untuk persiapan tersebut.

Hussein Daraj, manajer kamp Dahiyet Sajo mengatakan kepada Zaman Alwasl: “Sejauh ini tidak ada persiapan untuk membantu orang-orang yang kehilangan tempat tinggal untuk mengatasi musim dingin, dan organisasi-organisasi tidak dapat menawarkan apa-apa di masa depan”.

Daraj mengatakan abhwa kamp-kamp di daerah tersebut sebagian besar dibentuk dari tenda-tenda yang perlu diganti sebagai solusi darurat untuk menghadapi hujan dan dingin.

Daraj yang juga menjabat sebagai wakil direktur Administrasi Umum Kamp pengungsi memastikan bahwa organisasi yang beroperasi di daerah tersebut tidak menawarkan atau berencana menyediakan bahan pemanas untuk sekitar 200.000 orang yang terlantar. Dia menjelaskan bahwa gudang di semua kamp telah kosong dan organisasi kemanusiaan sangat terbatas memberikan bantuan air dan roti serta layanan pembersihan.

Sekitar 120.000 orang tersebar di 14 kamp reguler, dan sekitar 80.000 pengungsi tinggal di 20 pemukiman tak terorganisir di wilayah tersebut. Menurut Daraj, administrasi kamp tidak memiliki sarana keuangan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan warga kamp selama musim dingin.

Muhammad Kilani, manajer kamp Bab Al-Salam mengatakan kepada Zaman Alwasl bahwa tidak satu pun dari kamp-kamp di wilayah tersebut siap menghadapi musim dingin. Dia menggambarkan penduduk kamp sebagai tubuh yang lemah, tenda-tenda di kamp telah rusak dan selimut tidak tersedia. (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...