Berita Dunia Islam Terdepan

Fitnah dan Bencana Akhir Zaman

ilustrasi
2,210

Oleh: Ustadz Farid Ahmad Okbah. MA 

(Arrahmah.com) – Jika kita berbicara tentang fitnah, sama halnya kita membicarakan ujian, Allah berfirman di dalam Al-Qur’an;

﴿أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ  وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ﴾

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-3)

Imam al-Alusi mengatakan bahwa fitnah ada dua bagian,

Pertama, Berkaitan dengan ujian.

Setiap orang akan mengalami ujian, kekuatan menghadapi ujian berbeda-beda sesuai dengan keimanan seseorang, dan ujian seorang mukmin berangsung hingga keluarnya Dajjal.

Kedua, Fitnah dalam arti syirik kepada Allah l.

Banyak dipahami salah oleh warga negara Indonesia ketika membaca firman AllahTa’ala,

﴿وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ﴾

Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah: 191)

Maksud fitnah dalam ayat ini bukan fitnah yang biasa dikenal oleh orang pada umumnya, tetapi maksudnya adalah syirik. Fitnah syirik ini lebih berbahaya daripada pembunuhan itu sendiri.

Sejumlah ahli tafsir menafsirkan kata ‘al-Fitnah’ dengan al-Kufr, dan ini satu bagian dengan syirik. Di antara yang berpendapat fitnah adalah syirik yaitu Ibnu Mas’ud,  Ibnu Abbas, dan Ibnu Umar, dan Qatadah.

Ada pula yang berpendapat bahwa fitnah adalah sesuatu menyebabkan seseorang murtad atau keluar dari agama Islam. Inilah pendapat Imam Mujahid dan Ibnu Abbas.

Semantara Ibnu Jauzi dalam kitab al-Mudhisy (yang mencengangkan) menyebutkan arti fitnah dalam sejumlah makna;

Fitnah dalam arti syirik terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 193.

Fitnah dalam arti pembunuhan di dalam surat An-Nisa ayat 101.

Fitnah dalam arti pemaafan  terdapat di dalam surat Al-An’am ayat 23.

Fitnah dalam arti kesesatan terdapat di dalam surat Al-Maidah ayat 41.

Fitnah dalam arti memusnahkan di dalam surat Al-A’raf ayat 155.

Fitnah dalam arti dosa terdapat di dalam surat At-Taubah ayat 49.

Fitnah dalam arti  penyakit terdapat dalam surat At-Taubah ayat 126.

Fitnah dalam arti pelajaran terdapat dalam surat Al-Mumtahanah ayat 5.

Fitnah dalam arti hukuman terdapat dalam surat An-Nur ayat 63.

Fitnah dalam arti siksaan terdapat dalam surat Al-Ankabut ayat 10.

Fitnah dalam arti membakar terdapat di dalam surat Adz-Dzariyat ayat 13.

Fitnah dalam arti gila terdapat dalam surat Al-Qalam ayat 6.

Demikianlah penjelasan dari Imam Ibnul Jauzi saat mengungkapkan makna-makna fitnah yang terdapat dalam Al-Qur’an. Makna fitnah bervariasi dan banyak macamnya, sehingga dikumpulkan oleh DR. Hasan Bajaudah dalam kitab Ta-ammulat fi Surati Ali ‘Imran.

Demikian pula pendapat Imam al-Alusi bahwa fitnah adalah ujian bagi kaum Muslimin hingga mereka meninggalkan agama, baik dengan tersebarnya syubuhat, penyimpangan, dan pencampuradukkan antara yang hak dan batil.

Di dalam Al-Qur’an terdapat 21 surat menyebutkan tentang “Fitnah”.

Inti fitnah terdapat dalam surat Al-Ankabut ayat 2 dan 3, yaitu ujian yang  Allah berikan kepada kita untuk mengetahui apakah kita tangguh menjalankan keimanan kepada Allah dan menegakkan agama-Nya, ataukah hanya manusia yang hanya berpura-pura sehingga berguguran saat terjadi fitnah.

Fitnah akan semakin berat, terutama di akhir zaman. Di dalam hadits-hadits yang shahih terdapat gambaran fitnah-fitnah yang disebutkan oleh Rasulullah `, yang kita harus siap menghadapi segala fitnahnya. Sebab, ada kalanya fitnah tersebut sedang kita alami.

Membahas masalah fitnah ini bukan hanya sebatas hiburan, apalagi pelarian. Sebab jika manusia mengalami kondisi tertekan, lalu menyebabkan bingung dan berputus asa, ia terbiasa mencari jalan pintas, sehingga yang dipikirkan hanya kapan turunnya Imam Mahdi, kapan Islam dapat berjaya, atau lebih buruk lagi yaitu kapan Dajjal turun.

Fitnah akhir zaman yang disebutkan oleh Rasulullah ` dalam sejumlah riwayat, ada dua klasifikasi yang menonjol;

Pertama, Riwayat-riwayat mengungkapkan tentang kondisi manusia, baik bersifat positif maupun negatif.

Kedua, Riwayat-riwayat tentang tanda-tanda alam.

Beberapa riwayat dari Imam Muslim menjadi contoh bentuk fitnah yang akan dialami umat Manusia, baik berupa perilaku-perilaku manusia maupun tanda-tanda alam yang menjadi sinyal dekatnya hari kiamat.

Dari informasi Rasulullah ` tentang akhir zaman itu, banyak analisa-analisa atau tulisan yang memaksakan diri dan berusaha mencocok-cocokkan antara riwayat dengan realita yang terjadi. Inilah yang dilakukan oleh seorang dari Mesir, bernama Muhammad Amin Jamaluddin, di antara bukunya yaitu Umur Umat Islam dan Huru-Hara Akhir zaman. Beliau termasuk orang yang memaksakan kehendak dalam menentukan riwayat-riwayat akhir zaman. Ini adalah sikap yang tidak tepat, bahkan kadang kala memaksakan dalil-dalil yang tidak shahih. Ini hanya sebatas pandangan beliau yang menyatakan bahwa hari kiamat sudah dekat.

Di antara yang disampaikan oleh beliau; kematian Raja Fahd menunjukkan dekatnya kedatangan Imam Mahdi, namun hingga saat ini Imam Mahdi belum muncul. Ada pula pandangan-pandangan lain yang kebanyakan adalah analisa yang kurang tepat.

Kondisi Manusia Akhir Zaman

Dari Anas Bin Malik z, dia menyampaikan, “Maukah aku sampaikan kepada kalian satu hadist yang aku dengarkan dari Rasulullah ` yang kalian tidak mendapatkannya dari selainku?”

Lalu Anas menyebutkan;

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيَفْشُوَ الزِّنَا وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَذْهَبَ الرِّجَالُ وَتَبْقَى النِّسَاءُ حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً قَيِّمٌ وَاحِدٌ

Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu, munculnya kebodohan, tersebarnya zina, diminum khamr, sedikit laki-laki, dan banyak perempuan, hingga 50 perempuan memiliki satu pengasuh.”[1]

 Pertama, Ilmu akan diangkat.

Maksud ilmu di sini adalah ilmu agama, sehingga kita temukan kebodohan merajalela. Rasulullah ` menyebutkan di antara cara Allah mengangkat ilmu, yaitu dengan mewafatkan para Ulama. Jika Ulama telah dicabut, maka yang muncul adalah setengah Ulama, jika ditanya mereka akan menjawab atas dasar kebodohan, sehingga sesat dan menyesatkan.

Rasululullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari manusia secara sekaligus, namun dengan mencabut para Ulama, hingga Allah tidak menyisakan seorang alim, maka manusia mengambil pemimpin-pemimpin yang bodoh, mereka ditanya lalu menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”[2]

Ubadah bin ash-Shamit z meriwayatkan dari Rasululullah `, lalu menyampaikan kepada seorang Tabi’in berama Jubair bin Nufair v,

إِنْ شِئْتَ لأُحَدِّثَنَّكَ بِأَوَّلِ عِلْمٍ يُرْفَعُ مِنَ النَّاسِ الْخُشُوعُ يُوشِكُ أَنْ تَدْخُلَ مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ فَلاَ تَرَى فِيهِ رَجُلاً خَاشِعًا

Jika engkau mau aku beri tahukan ilmu yang pertama kali diangkat, yaitu khusyu’. Sehingga engkau hampir tidak melihat seorangpun khusyu’ saat memasuki masjid.”[3]

Sekarang kita begitu sulit mendapatkan kekhusyu’an, dan ini adalah salah satu pertanda diangkatnya ilmu.

Antisipasi kita dari kondisi seperti ini adalah harus mencari ilmu dari sumbernya dan berdasarkan dalil yang shahih. Tidak boleh asal bicara, namun harus dengan sumber yang akurat dan keabsahan dalil yang dapat dipertanggung jawabkan, kemudian penjelasan dalil yang tidak disertai hawa nafsu. Sebab utama rusaknya ilmu adalah pengaruh hawa nafsu, baik karena kepentingan pribadi, kelompok, politik, dan seterusnya. 

Kedua, Merajalela perzinahan.

Jika kita melihat lingkungan sekitar, model perzinahan sudah begitu menyeruak dengan banyak-banyak istilah yang digunakan, seperti panti pijat, salon, dan istilah lainnya. Begitu pula dengan media yang mendorong untuk melakukan perzinahan, melalui film, gambar, koran, majalah, dan lainnya. 

Ini semua banyak tersebar di tengah-tengah kita. Dan ini menunjukan bahwa masyarakat kita pikirannya masih rusak dan aqidahnya belum kuat, sehingga senang dengan hal-hal seperti itu. Kita harus mempersempit ruang gerak perzinahan, terutama di daerah kita masing-masing. Yang pertama kali harus kita jaga adalah keluarga kita. Sebab perzinahan menurut Imam Syafi’i berawal dari pandangan.

Negara Malaysia dahulu tingkat perceraiannya mencapai 40%, tetapi pemerintahnya membuat suatu langkah dengan memberikan pelatihan anak-anak muda yang akan menikah. Pelatihan itu menyadarkan betapa besar tanggung jawab seorang suami dan istri, sehingga membangunkan kesadaran rumah tangga dengan bagus, sekian lama melakukan metode itu akhirnya tingkat perceraiannya dibawah 5%, menunjukan kemajuan dengan cara melakukan metode itu.

Mungkin saja kita harus melakukan pelatihan-pelatihan seperti itu kepada ibu-ibu, anak-anak muda, calon pengantin, atau mungkin belum baligh untuk diberikan penerangan-penerangan tentang bahayanya perzinahan atau akibat buruk, seperti dosa yang didapat, penderitaan-penderitaan batin akan dialami, kenistaan yang akan mereka dapatkan, kehinaan di hadapan Allah.

Perlu adanya pengarahan kepada anak-anak yang masih puber, karena mereks masih mudah terbawa arus, itulah menjadi sumber rusaknya tatanan anak-anak remaja saat ini.

Ketiga, Diminumnya Khamr.

Ada sejumlah orang-orang kaya membuat acara-acara dengan biaya begitu mahal. Di dalam acara itu terdapat perlombaan “kuat-kuatan” minum Bir, karena itu menjadi suatu kebanggan bagi mereka. Otak mereka telah dirasuki setan, jika sudah menyentuh minuman keras, mereka meminumnya hingga tak berdaya lagi.

Perlu diketahui bahwa minuman keras adalah Ummul Khaba-its (induk dari segala kejahatan).

Keempat, Banyaknya perempuan dan sedikitnya laki-laki.

Sedikitnya laki-laki karena mereka banyak yang meninggal, baik karena penyakit, ataupun sebab-sebab lainnya. Imam Nawawi menyebutkan, “Karena mereka dibunuh.[4]

Apabila laki-laki banyak yang meninggal, maka yang terjadi adalah banyak perempuan yang masih perawan maupun janda. Jumlah disebutkan Rasulullah ` menyebutkan perbandingan antara laki-laki dengan perempuan adalah 1:50. Ini semua menjadi pertanda dekatnya hari Kiamat.

Tanda-Tanda Alam Sebelum Kiamat

Adapun berkaitan dengan tanda-tanda alam, terdapat riwayat dari shahabat Hudzaifah bin Asid al-Ghifari (r.a), ia menyebutkan,

اطَّلَعَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَلَيْنَا وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ فَقَالَ « مَا تَذَاكَرُونَ ».

قَالُوا نَذْكُرُ السَّاعَةَ. قَالَ « إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ ». فَذَكَرَ الدُّخَانَ وَالدَّجَّالَ وَالدَّابَّةَ وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ -صلى الله عليه وسلم- وَيَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَثَلاَثَةَ خُسُوفٍ خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ

“Nabi Muhammad ` menemui kami saat kami sedang berkumpul mendalami Agama. Lalu beliau bertanya, ‘Apa yang sedang kalian pelajari itu?

Kemudian mereka menjawab, “Kami sedang membicarakan hari Kiamat.

Maka Rasulullah ` bersabda “Tidak akan terjadi Kiamat sampai kalian mendapatkan sepuluh tanda; asap, Dajjal, binatang melata, matahari terbit dari barat, turunnya Isa bin Maryam , Ya’juj dan Ma’juj, tiga gerhana; gerhana di timur, di barat, dan di Jazirah Arab, dan yang terakhir adalah api yang menggiring manusia menuju mahsyar mereka.[5]

Pertama, Asap.

Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa asap yang Allah turunkan berdampak sesak nafasnya kaum Kuffar, semantara orang Mukmin mereka hanya terkena flu.[6]

Kedua, Dajjal

Dajjal adalah makhluk yang Allah berikan kemampuan dan kekuatan luar biasa, bahkan mampu menurunkan hujan dan menunda hujan turun. Dajjal ini akan menguji manusia dengan membawa dua fitnah, Rasulullah ` bersabda,

أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا ، عَنِ الدَّجَّالِ مَا حَدَّثَ بِهِ نَبِيٌّ قَوْمَهُ إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّهُ يَجِيءُ مَعَهُ بِمِثَالِ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ فَالَّتِي يَقُولُ إِنَّهَا الْجَنَّةُ هِيَ النَّارُ

Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang Dajjal, sebagaimana seorang Nabi menceritakan kepada kaumnya? Sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya, dia datang seolah membawa surga dan neraka. Apa yang ia sebut surga hakikatnya adalah neraka.”[7]

Ketiga, Dabbah

Dabbah adalah binatang melata yang besar, kita tidak bisa mengetahui bentuk binatang tersebut. Sejumlah Ahli Tafsir mengatakan binatang ini adalah binatang besar.[8]

Keempat, Terbitnya matahari dari Barat.

Dan ini terbukti secara ilmiyah. Terbukti NASA membenarkan secara ilmiyah bahwa matahari sangat mungkin terbit dari Barat.

Kelima, Turunnya Nabi Isa q.

Nabi Isa akan turun di Damaskus, dan dia lah yang akan membunuh Dajjal. Dia akan membina kaum muslimin, dan berhukum dengan apa yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad `.

Keenam, Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj.

Ya’juj dan Ma’juj adalah dua bangsa yang suka membuat kerusakan di muka bumi. Mereka pernah dipenjara oleh Dzulkarnain di antara dua gunung. Menjelang hari kiamat mereka akan muncul kembali.

Ketujuh-Kesembilan, Terjadi tiga gerhana.

Tiga gerhana ini adalah peristiwa semacam gerhana bulan, gerhana terjadi di timur, Barat, dan Jazirah Arab.

Kesepuluh¸ Api yang menggiring manusia menuju mahsyarnya.

Api ini berasal dari Yaman, kemudian menggiring manusia kepada mahsyarnya.

Inilah bentuk peringatan dari Rasulullah ` berupa tanda-tanda alam sebelum terjadinya hari kiamat.

Semoga kita mampu menjaga keutuhan agama kita dalam kondisi banyaknya fitnah di akhir zaman ini. Aamiin.

Tanskerip, Ta’liq, dan Takhrij: Muizz Abu Turob حفظه الله

[1] HR. Muslim, no. 6957

[2] HR. Bukhari, no. 100 & Muslim, no. 6971

[3] HR. Tirmidzi, no. 2653. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani.

[4] Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim, IX/27.

[5] HR. Muslim, no. 7467.

[6] Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim, IX/281.

[7] HR. Bukhari, no.3338 & Muslim, no. 7558

[8] [8] Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim, IX/281.

Sumber: www.faridokbah.com

(samirmusa/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...