Berita Dunia Islam Terdepan

Penindasan Muslim di Krimea, refleksi ketakutan Moskow Islam sebagai kekuatan anti-kolonialisme

caption: Polisi rahasia FSB Rusia dan sejumlah tentara berusaha mengekang setiap pembangkangan terbuka di Krimea dan melacak perlawanan tersembunyi terhadap pendudukan Moskow. Selain menggunakan sistem peradilan untuk menegakkan pendudukan Rusia di semenanjung Ukraina, mereka juga menggunakan penculikan rahasia dan pembunuhan di luar hukum terhadap para aktivis Tatar Krimea dan Ukraina. (Foto: GordonUA.com)
101

SEVASTOPOL (Arrahmah.com) – Zair Smedlyayev, seorang aktivis Tatar Krimea, dan Said Ismagilov, mufti Direktorat Spiritual Muslim (MSD) Ukraina, mengatakan bahwa Moskow kemungkinan akan meningkatkan penganiayaan terhadap Krimea bukan hanya karena mereka adalah warga Tatar Krimea tapi karena mereka adalah Muslim, Euromaidanpress melansir pada Senin (18/9/2017).

Hal ini mencerminkan ketakutan Moskow bahwa organisasi Islam yang tidak dapat dikendalikan dapat menjadi kekuatan anti-kolonial yang kuat yang dapat diarahkan melawan pendudukan Rusia di Krimea Ukraina, tutur keduanya.

Menunjuk pada peningkatan operasi khusus Rusia terhadap Muslim di Krimea baru-baru ini, Smedlyayev berpendapat bahwa tiga kelompok di sana sekarang memiliki risiko terbesar: Muslim yang taat terutama para pemuda, pemimpin politik Tatar Krimea, dan penduduk biasa yang diklaim oleh polisi rahasia FSB menjadi saksi dalam kasus melawan anggota pertama dan kedua.

Mengingat IslamFobia Rusia, lanjutnya, petugas FSB menyadari bahwa menyerang Muslim dengan cara semacam itu cukup menciptakan ketakutan di kalangan Muslim. Dan mereka juga mengakui, dia menambahkan, bahwa menangkap atau melecehkan anggota keluarga para aktivis mungkin merupakan cara yang baik untuk mendapatkan kontrol atas Muslim lainnya di wilayah tersebut.

Mufti Ismagilov setuju, namun dia menekankan bahwa serangan ini bukan sekadar sarana bagi petugas FSB untuk mendapatkan promosi. Mereka mencerminkan upaya untuk menekan semua “organisasi Islam yang tidak terkendali” oleh Moskow. Kekhawatiran Rusia akan kelompok semacam itu tercermin dalam daftar besar buku terlarang dan deportasi para mullah asing dari Rusia itu sendiri.

Ketakutan ini merupakan produk apresiasi pimpinan Rusia bahwa Islam bisa menjadi “agama konsolidasi yang sangat kuat yang memiliki pengalaman menggiring massa dan memberi mereka gagasan/solusi yang pasti. Ini memainkan peran besar di era pembebasan dari kolonialisme, dan Rusia khawatir bahwa hal itu dapat diarahkan lagi untuk melawannya.”

Ketakutan yang telah berlangsung lama ini diperkuat oleh Musim Semi Arab, “ketika gerakan Muslim mengilhami massa untuk menggulingkan diktator lama,” kata mufti Ukraina.

Penguasa Rusia, sang mufti menyarankan, “ingin mereduksi Islam hanya sebagai aktivitas relijius sehari-hari dan menundukkan seluruh hierarki keagamaan, struktur, dan pemberitaan terhadap tujuan negara.” (althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...